MAKALAH PENYAKIT KEJANG

18.11 Edit This 0 Comments »

A.KONSEP DASAR
a.Pengertian Kejang
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada suhu yang meninggi. Naiknya suhu badan disebabkan oleh proses diluar kapala(extrakranium), misalnya ototitis media akuta, infeksi saluran pernapasan gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Derajat suhu badan yang dianggap cukup untuk kejang demem 380 C atau lebih.
Kejang demam merupakan kelainan neuarologik yang sering dijumpai pada anak umur 3 bulan atau 5 bulan. Hampir 3% anak dibawah umur 5 tahun perna menderitanya. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang paling tinggi, kadang-kadang pada demam yang tidak begitu tinggi sudah dapat menyebabkan kejang.
Beberapa Pendapat Para Ahli Tentang Pengertian Kejang:
a. Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada saat suhu meningkat disebabkan oleh suatu proses ekstarakranium.(Darto suharso,1994;148)
b. Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 380 C yang di sebabkan oleh proses ekstrakranium (Ngasyiyah,1997;229 )



b. Etiologi
Bangkitan kejang pada bayi dan anak disebabkan oleh kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan saraf pusat misalnya: Tonsehilitis ostitis media akut, bronchitis dll.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat Rahmat dan hidayanyalah sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini mengenai penyakit kejang demam.
Penulisan makalah ini merupakan pengganti MID semester dan Kami menyadari penyusunan makalah mengenai penyakit kejng masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu dengan kerendahan hati kami meminta dari berbagai pihak sekiranya memberi saran dan kritik guna melengkapi makalah kami.
Tak lupa pula kami mengucapkan banyak terima kasih kepada beberapa pihakyang telah membantu serta dukungan serta masukan-masukan kepada kelompok kami sehjingga makalah kami dapat terselesaikan.
Akhirnya dengan segabla kerendahan hati, kiranya makalah ini dapat bermanfaat bukan saja bagi penulis melainkan juga bagi seluruh pembaca dan semua pihak yang memerlukannya


Maros,1 Desember 2008


Penulis
KELOMPOK 10



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATAPENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB.1 PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
B.Tujuan Penulisan..........................................................................
C.Manfaat Penulisan........................................................................
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA........................................................................
A. Konsep Dasar..............................................................................
a. Pengertian kejang....................................................................
b. Etiologi......................................................................................
c. Patofisiologi..............................................................................
d. Manifestasi klinik......................................................................
e. Penatalaksanaan medik...........................................................
f. Pemeriksaan Penunjang...........................................................
B. Proses Keperawatan....................................................................
a. Pengkajian................................................................................
b. Diagnosa..................................................................................
c. Intervensi .................................................................................
d. Evaluasi ...................................................................................
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Identitas Klien.
B. Analisa Data.............................................................................
C. Diagnosa Keperawatan...........................................................

a. Prinsip – Prinsip diagnosa..................................................
a) Persiapan alat................................................................
b) Prosedur Kerja
c) Persiapan pasien dan perawat
D.Tujuan Tindakan
a. Tujuan Tindakan Di lakukan................................................
b. Hasil dan maknanya ........................................................
BAB IV PENUTUP
a. Kesimpulan.........................................................................
b. Saran .................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................




BAB I
PENDAHULUAN

A . LATAR BELAKANG
Anak merupakan hal yang penting artinya bagi sebuah keluarga. Selain sebagai penerus keturunan, anak pada akhirnya juga sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu tidak satupun orang tua yang menginginkan anaknya jatuh sakt, lebih-lebih bila anaknya mengalami anaknya mengalami kejang demam.
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering jumpai pada anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38C) yang disebabkan oleh proses ekstra kranium. Penyebab demam terbanyak adalah saluran pernapasan bagian atas disusul infeksi saluran pencernaan.
Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3% dari anak yang berumur dibawa 5 tahun perna menderita kejang demam. Kejang demam lebih sering di dapatkan pada laki-laki dari pada perempuan. Hal tersebut disebabkan karena pada wanita didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat dibandingkan laki-laki.
Berdasarkan laporan dari daftar diagnosa dari Lab/SMF ilmu kesehatan anak RSUD Dr.Soetomo Surabaya didapatkan data adanya peningkatan insiden kajang demam. Pada tahun 1999 ditemukan pasien kejang demam sebanyak 83 orang dan tidak didapatkan angka kematian (0%). Pada tahun 2000 ditemuan pasien kejang demam 132 orang dan tidak didapatkan angka kematian(0%) dari data diatas menunjukan adanya peningkatan insiden kejadian seebesar 37%.
Bangkitan kejang berulang atau kejang yang lama akan mengakibatkan kerusakan sel-sel otak kurang menyenangkan dikemudian hari, terutama adanya cacat baik secara fisik,mental atau sosial yang menggenggu pertumbuhan dan perkembangan anak.
Kejang demam merupakan kedaruratan medis memerlukan pertolongan segera. Diagnosa secara dini serta pengelolaan secara tepat sangat diperlukan untuk menghindari cacat yang lebih parah, yang diakibatkan bangkitan kejang yang sering. Untuk itu tenaga perawat atau tenaga para medis dituntut untuk berperan aktif dalam mengatasi keadaan tersebut serta mampu memberikan asuhan keperawatan kapada keluarga dan penderita, yang meliputi aspek promotif pereventif, kuratif dan rehabilitatif secara terpadu dan berkesinambunganserta memandang klien sebagai satu kesatuan yang utuh secara bio-psiko-sosial-spiritual.prioritas asuhan kaprawatan pada kejang demam adalah: Mencegah atau mengendalikan aktifitas kejang, melindungi pasien dari trauma, mempertahankan jalan napas, meningkatkan harga diri yang positif, memberikan informasi kepada keluarga tentang proses penyakit, prognosis dan kebutuhan penangananya.


B.TUJUAN PENULISAN

1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran tentang penyakit kejang
2. Tujuan Khusus
- Memberikan gambaran tentang diagnosa keperawatan mengenai penyakit kejang
- Memberikan gambaran tentang intervensi dan prosedur-prosedur yang akan dilakukan pada pasien yang menderita penyakit kejang
- Memberikan gambaran akan bahaya yang terjadi ketika kejang terjadi pada anak

3. Manfaat Penulisan
1. Sebagai bahan bacaan dan masukan bagi pihak-pihak yang terkait dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan dalam upaya peningkatan kualitas asuhan keperawatan.
2. Untuk menambah pengetahuan tentang penyakit kejang
3. Sebagai bahan masukan atau sumbangan masukan untuk pertimbangan bagi
Yang berminat menulis atau membahas tentang penyakit kejang


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.KONSEP DASAR
a.Pengertian Kejang
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada suhu yang meninggi. Naiknya suhu badan disebabkan oleh proses diluar kapala(extrakranium), misalnya ototitis media akuta, infeksi saluran pernapasan gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Derajat suhu badan yang dianggap cukup untuk kejang demem 380 C atau lebih.
Kejang demam merupakan kelainan neuarologik yang sering dijumpai pada anak umur 3 bulan atau 5 bulan. Hampir 3% anak dibawah umur 5 tahun perna menderitanya. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang paling tinggi, kadang-kadang pada demam yang tidak begitu tinggi sudah dapat menyebabkan kejang.
Beberapa Pendapat Para Ahli Tentang Pengertian Kejang:
a. Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada saat suhu meningkat disebabkan oleh suatu proses ekstarakranium.(Darto suharso,1994;148)
b. Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 380 C yang di sebabkan oleh proses ekstrakranium (Ngasyiyah,1997;229 )

b. Etiologi
Bangkitan kejang pada bayi dan anak disebabkan oleh kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan saraf pusat misalnya: Tonsehilitis ostitis media akut, bronchitis dll.



c. Patofisiologi
Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui prises oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoit dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat melalui dengan mudah oleh ion kalium sel, maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial membran dari neuron untuk menjaga keseimbangan potnsial membran diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh;
• Perubahan konsentrasi ion diruang ekstra seluler
• Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi atau aliran listrik dan sekitarnya
• Perubahan patofisiologi dari membran sendiri pada penyakit atau keturunan

Pada keadaan demam kenaikan suhu 1 akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Oleh karena itu kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang terjadi difusi dari ion kalium maupun dari ion natrium akibat terjadinya lepas muatan listri. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun kemembran sel sekitarnya dengan bantan ”neurotransmitter” dan terjadi kejang. Kejang demam yang berlangsung lama (lebh dari 15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigendan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh meningkat yang di sebabkan makin meningkatnya aktivitas otot dan mengakibatkan metabolisme otak meningkat.

d. Manifestasi Klinik
Serangan kejng biasanya terjadi 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan kejang dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak memberireaksi apapun sejenak tapi setelah beberapa detik atau menit anak akan sadar tanpa ada kelainan saraf.

Gejala kejang demam terbagi atas dua golongan yaitu:
 Kejang demam sederhna (simple febrile convulsion).
 Epilepsi yang diprovokasi oleh demam (epilepsy triggeredoff by fever)
Yang termasuk kejang demam sderhana adalah:
 Umur anak waktu kejang antara 6 bulan hingga 4 tahun
 Waktu kejang sebentar, tidak lebih dari 15 menit
 Kejang bersifat umum
 Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
 Tidak terdapat kelainan saraf sebelum dan sesudahnya kejang
 Hasil pemeriksaan EEG (Elektro Encephalografhy, perekaman arus llistrik otak) normal
 Frekuensi bangkiitan kejang tidak lebih dari 4x setahun.
e. Penalaksanaan Medik
Dalam penanggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu dikerjakan yaitu:
Pemberantasan kejang secepat mungkin
Pemberantasan kejang di Sub bagian syaraf anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI sebagai berikut:
1. Segera berikan diazepam intravena dosis rata-rata 0,3 mg/kg atau diazepam g rectal dosis kurang lebih 10 kg : 5 mg, bila kejang tidak berhenti maka tunggu 15 menit dapat diulang dengan cara/dosis yang sama sehingga kejang berhenti.
2. bila diazepam tidak tersedia, langsung memakai fenobarbital dengan dosis awal:
Neonatus : 30 mg I.M
1 bulan – 1 tahun : 50 mg I.M
> 1 tahun : 75 mg I.M

Pengobatan
1. Pengobatan fase akut
Pada waktu penderita sedang kejang, lepaskan semua pakaian yang ketat,
Miringkan pasien untuk mencegah aspirasi (masuknya cairan / maakanan kedalam saluran nafas ), dan usahakanlah jalan napas bebas supaya oksigenasi lancar. Kompres es atau air untuk menurungkan suhu tubuh yang tinggi. Diberikan obat penurun panas asetilsalisilat atau asetominofen. Untuk mengatasi kejang dokter akan memberikan diazepam intra rektal (ddimasukkan dalam dubur )
2. Mencari dan mengobati penyebab
Pemeriksaan cairan otak melalui lumbal punksi ( mengambil dengan cairan jarum melalui celah tulang belakang ) dilakukan pada bayi di bawah 6 bulan untuk mengetahui kemungkinan infeksi diotak yang disebutkan meningitis atau encheaplitis.
3. Mencegah terulangnya kejang
Orang tua atau pengasuhperlu cepat mengetahui bila anak menderita
demam. Obat yang baik untuk mencega kejang demam adalah diazepam intrarektal. Diberikan tiap 12 jam pada penderita demam dengan suhu 38,5C atau atau lebih. Dosis diazepam diberikan 5 mg untuk anak kurang dari 3 tahun dan 7.5 mg untuk anak lebih dari 3 tahun, atau dapat diberikan diazepam oral dengan dosis 0,5 mg/kgBB pada waktu penderita demam(ber dasarkan resep dokter). Pengobatan diazepam rektal dapat juga diberikan oleh oramg tua atau penngasu waktu kejang.
4.Pencegahan jangka panjang dengan anti konvulsan tiap hari
Ini diberikan pada penderita yang memperlihatkan gejala seperti berikut:
a. Sebelum kejang demam penderita sudah ada kelainan neurologis atau per
kembangan.
b. Kejang demam lebih dari 15 menit, fokal diikuti oleh kelainan neurologis sementara atau menetap
c. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung
d. kejang demam pada bayi di bawah 12 bulan atau kejang multipel pada satu episode demam.


B. PROSES KEPERAWATAN
a. Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan menganalisa, sehingga dapat diketahui kebutuhan pasien tersebut. Langkah – langkah dalam pengkajian meliputi pengumpulan data, analisa dan sintesa data serta perumusan diagnosa keperawatan. Pengumpulan data akan menentukan kebutuhan dan masalah kesehatan atau keperawatan yang .meliputi kebutuhan fisik, psikososial dan lingkungan pasien. Sumber data didapatkan dari pasien, keluarga, teman, team kesehatan lain, catatan pasien dan hasil pemeriksaan laboratoruium.
Metode pengumpulan data melalui :
 Obserpasi yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi.
 Wawancara yaitu pengumpulan data yang berupa percakapan untuk memperoleh data yang akurat
 Catatan yaitu berupa catatan klinik, dokumen baru maupun yang lama
 Literatur yaitu mencakup semua meteri, buku-buku, majalah dan surat kabar.

b.Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat, dan pasti tentang masalah pasien / klien serta penyebabnya yang dapat dipecahkan atau diubah melalui tindakan keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah
• Potensial terjadinya kejang ulang berhubungan dengan hipertermi
• Potensial terjadinya trauma fisik berhubungan dengan kurangnya koordinasi otot
• Gangguan rasa nyaman mberhubungan dengan hipertermi yang ,ditandai :
1. Suhu meningkat
2. Anak tampak rewel
• Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan keterbatasan informasi

c.Intervensi
Intervensi adalah keputusan awal tentang apa yang akan dilakukan, bagaimana , kapan dilakaukan, dan siapa yang akan melakukan kegiatan tersebut.




Diagnosa keperaawatan :Potensial terjadi kejang ulang

INTERVENSI RASIONAL
1. longgarkan pakaian, berikan pakaian yang tipis, yang mudah menyerap keringat

2. Berikan kompres dingin

3. Berikan ekstra cairan (susu, nsari buah dan lain-lain)
4. Okserfasi kejang dan TTV tiap 4 jam

5. Batasi aktifitas selama anak demam 1. Proses konveksi akan terhalang oleh pakaian yang ketat dan tidak menyerap keringat
2. Perpindahan panas secara konduksi
3. Saat demam kebutuhan cairan meningkat
4. Pemantauan yang teratur dapat menentukan tindakan yang akan dilakukan
5. Aktifitas dapat men ingkatkan metabolisme dan meningkatkan suhu tubuh.

Diagnosa Keperawatan : Potensial terjadinya trauma fisik

INTERVENSI RASIONAL
1. Berikan tongue spatel diantara gigi atas dan bawah
2. Letakkan klien ditempat yang lembut

3. Catat tipe kejang (lokasi, lama) dan frekuensi kejang
4. Catat TTV sesuda pasien kejang 1. Menurunkan resiko trauma pada mulut
2. Membantu menurunkan resiko injuri fusuk pada ekstimitas kstika kontrol otot pulunter berkurang
3. Membantu menurunkan lokasi area serebral yang terganggun
4. Mendeteksi secara dini keadaan yang abnormal

Diagnosa Keperawatan : Gangguan rasa nyaman

INTERFENSI RASIONAL
1. Kaji faktor-faktor terjadinya hipertermi

2. Obsvasi TTV

3. Pertahankan suhu tubuh normal

4. Ajarkan kepada keluarga memberikan kompres dingin pada kepala/ ketiak 1. Mengetahui penyebab terjadinya hipertermi pada penambahan pakaian/ selimut dapat menghambat penurunan suhu tubuh
2. Pemantauan TTV yang teratur dapat menentukan perkembangan keperawatan yang selanjutnya
3. Suhu tubuh dapat dipengaruhi pada tingkat aktivitas, suhu lingkungan, kelembaban tinggi akan mempengaruhi panas atau dinginya tubuh
4. Proses konduksi/perpindahan panas dengan satu bahan perantara


d. Evaluasi
Tahap evaluasi dalam tahap proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subjektif dan objektif yang telah ditetapkan yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langka evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah selanjutnya.

NO. Dianosa Evaluasi
1.









2.







3. Potensial kejang berulang









Potensial terjadi trauma fisik







Gangguan rasa nyaman Klien tidak mengalami kejang selama 2x24 jam
Kriteris:
- Tidak terjadi serangan ulang
- Suhu :36-37 C
- N : 100-110x/menit
- Kesadaran : Composmentis
-Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.
Kriteria :
- Tidak terjadi trauma fisik selama kejang
- Mempertahankan tindakan yang mengontrol aktivitas kejang
-Mengidenntivikasi tindakan yang harus diberikan tindakanketika terjadi kejang
Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria :
- TTV
- Suhu : 36-37 C
- N : 100-110x/ menit
- RR : 24-28x/ menit
- kesadar : Composmentis
- Anak tidak rewel



BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
a. Identitas Klien

Nama : An ‘A’
Umur : 10 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SD
Alamat : Jl.Tupai Makassar
Status : Belum kawin
Agama : Islam
Suku / bangsa : Makassar / Indonesia

b. Riwayat keluhan
Klien masuk rumah sakit Labuang Baji pada tanggal 27 November 2008 dengan keluhan demam yang disertai dengan kejang. Keluhan ini dirasakan secara terus menerus. Hal-hal yang meringankan apabila klien dikompres dengan air dingin dan minum obat antipiretik seperti paracetamol dan hal-hal yang memperberat apabila klien banyak bergerak.

B. Analisa Data
1.Data Subjektif
-Orang tua klien mengatakan anaknya demam
-Orang tua klien mengatakan anaknya rewel
-Orang tua klien mengatakan anaknya susah tidur
-Klien tampak cemas

2. Data Objektif
-Klien tampak gelisah
- Klien tampak lemas
- TTV : N : 80x/i
S : 38 C
P : 24x/i

3. Pengkajian Fisik
a. Kepala
Inspeksi : - Warna rambut hitam dan tidak mudah rontok
- Pertumbuhan dan penyebaran rambut merata
Palpasi : - Tidak ada nyeri tekan
- Tidak teraba adanya massa

b. Muka
Inspeksi : -Wajah tampak simetris kiri dan kanan
- Bentuk wajah oval
Palpasi : - Tidak teraba adanya massa
: - Tidak ada nyeri tekan
c. Mata
Inspeksi : - Pupil bermidriasis
- Penglihatan tajam
- Sklera tidak ikterus
- konjungtifa tampak anemis
Palpasi : -Tidak teraba nyeri tekan
d.Hidung
Inspeksi : - Septum hidung simetris kiri dan kanan
- Kemampuan penciuman baik
- Tidak tampak adanya peradangan
Palpasi : -Tidak ada nyeri tekan
: - Tidak teraba adanya nyeri tekan


e. Telinga
Inspeksi : - Telinga simetris kiri dan kanan
: - Tidak ada tanda-tanda infeksi
Palpasi : - Tidak ada nyeri tekan
: - Tidak teraba adanya massa
f. Mulut :
Inspeksi : - Lidah tampak kotor
- Gigi tampak kotor
Palpasi : - Tidak teraba adanya nyeri takan


g. Tenggorokan
Inspeksi : tidak tampak ada tanda-tanda infeksi faring
Tidak tampak ada tanda-tanda peradangan tonsil
Palpasi : tidak adanya nyeri tekan

h. Leher
Inspeksi : Tidak tampak adanya kaku kuduk
Tidak tampak adanya pembesaran tiroid
Tidak tampak adanya pembesaran Vena Jungularis
Palpasi : Tidak teraba adanya nyeri tekan
Tidak teraba adanya massa
i.Toraks
Inspeksi : - Bentuk dada normochast
- Bunyi napas reguler
Palpasi : - tidak teraba adanya nyeri tekan
- Tidak teraba adanya massa
Perkusi : - bunyi sonor pada seluruh lapang paru
Auskultasi: - Bunyi napas vesikuler
- tidak ada bunyi tambahan

j. Jantung
Inspeksi : - Iktuskordis tidak tampak
Palpasi : - Tidak teraba nyeri tekan
- Tidak teraba adanya massa
Perkusi : - Bunyi pekak pada jantung
Auskultasi: - Bunyi jantung terdengar murni

k. Abdomen
Inspeksi: - Warna kulit sawo matang
- Peristaltik usus 15x/i
- Tidak tampak adanya pembesaran hepar
Palpasi : - Tidak teraba adanya nyeri tekan
- Tidak teraba adanya massa
Perkusi : - Bunyi timpani pada abdomen

l. Ekstremitas
Atas : Tidak terdapat atropi dan hipertropi otot
Refleks trisep (+)
Refleks Bisep (+)
Bawah : Mobilitas baik
Refleks Fisiologis: Patella (+)
Archles (+)
Refleks Patologis Babinsky (+)
Suhu pada daerah akral 38 C
m. Genetalia
Tidak di kaji.





4. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah
Glukosa darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200 mq/dl) BUN : Peningkatan BUN mempunyai potensi yang kejang merupakan indikasi netro toksik akibat dari pemberian obat. Elektrolit : K,Na Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang Kalium (N 3,80–5,00 meq/dl) Natrium (N135-144 meq/dl) 2. Cairan serebro spinal: mendeteksi tekanan darahabnormal dari CCS tanda infekai, pendarahan penyebab kejang. 3. skull Ray : untuk mengindentifikasi adanya proses desak ruang dan adannya lesi. 4. Transiluminasi : Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan UUB masih terbuka (dibawah 2 tahun. 5. CT scan : Untuk mengidentifikasi lesi serebral infaik hematoma, serebral oedem, tauma abses, tumor dengan atau tanpa kontraks. C. Diagnosa Keperawatan Potensial terjadinya kejang berulang b/d hipertermi. D. Prinsip-prinsip Tindakan dan Rasional a. Resiko tinggi terhadap peningkatan suhu tubuh a) Mengukur suhu melalui axilla (a) Persiapan alat - Termometer - Kapas alkohol - Alat tulis - Jam tangan (b) Persiapan pasien Pasien diberi tahu tentang hal-hal yang akan dilakukan. (c) Persiapan perawat - Mencuci tangan (d) Prosedur kerja  termometer didesinfeksi dengan menggunakan kapas alkohol  Air raksa termometer diturunkan dengan cara mengiba ngibaskan sampai batas normal (350 C)  Termometer diletakkan didaerah axilla klien dengan cara dijepit  Tunggu hasilnya 10 – 15 menit  Ambil termometer dan perhatikan angka air raksa dengan jelas  kemudian hasil dicatat  Termometer didesinfeksi dengan kapas alkohol  Alat dibereskan dan klien dirapikan kembali. (e) Tujuan tindakan dilakukan - Memantau ada tidaknya perubahan suhu tubuh - untuk mendapatkan suhu tubuh yang normal - Memudahkan perawat untuk melakukan intervensi selanjutnya (f) Bahaya-bahaya yang mungkin terjadi akibat tindakan tersebut - Letak termometer axilla yang tidak tepat dapat mengakibatkan hasil yang tidak akurat. (g) Hasil dan maknanya - Mengetahui adanya peningkatan dan penurunan suhu tubuh BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Setelah penulis membahas secara teori dan membaca serta memahami apa yang diuraikan dalam makalah ini maka kelompok mencoba menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. setelah kelompok melaksanakan pengkajian kelompok kami mendapatkan keluhan demam dan kejang 2. Setelah kelompok merumuskan diagnosa keperawatan maka tindakan yang akan diambil yaitu mengukur suhu tubuh 3. Berdasarkan tinjauan kasus pada klien yang mengalami gangguan sistem persyarafan ’kejang demam’ maka kelompok kami mengangkat sebuah diagnosa yaitu : • Potensi terjadinya kejang berulang b/d hipertermi B. Saran 1. Institusi Tugas ini kiranya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan dan masukan bagi berbagai pihak. 2. Orang tua Kepada orang tua agar senantiasa menperhatikan kesehatan anaknya. 3. Penulis Proses penyusunan makalah ini menambah pengetahuan dan pola fikir kami agar senantiasa mampu berbuat lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Dr. Niko A. Lumenta, 2004. Kenali Jenis Penyakit Dan Penyumbuhan.Sinar Harapan: Jakarta. http://daydrop.multiply.com/reviews/item/6. http://Keluarga sehat.wordpress.com/2008/10/20/Kejang-demam. http://www. Sehat group. Web/id/artikel/1089.asuhan keperawatan.FNM-1089.

0 komentar:

Poskan Komentar

Apa yang bisa saya bantu, silahkan meninggalkan komentar