Makalah AKBID - ANTHRAX

07.01 Posted In , , , , , , Edit This 0 Comments »

ANTHRAX:

Penyakit hewan yang perlu diwaspadai

Badan Litbang Pertanian

Pendahuluan

Penyakit Anthrax atau radang limpa adalah salah satu penyakit zoonosis penting yang saat mi banyak dibicarakan orang di seluruh dunia. Penyakit zoonosis berarti dapat menular dan hewan ke manusia. Penyakit mi hampir setiap tahun selalu muncul di daerah endemis, yang akibatnya dapat membawa kerugian bagi peternak dan masyarakat luas. Hampir semua jenis ternak (sapi, kerbau, kuda, babi, kambing dan domba) dapat diserang anthrax, termasuk juga manusia.

Menurut catatan, anthrax sudah dikenal di Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1884 di daerah Teluk Betung. Selama tahun 1899 - 1900 di daerah Karesidenn Jepara tercatat sebanyak 311 ekor sapi terserang anthrax, dan sejumlah itu 207 ekor mati. Pada tahun 1975, penyakit itu ditemukan di enam daerah : Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Kemudian, 1976-1985, anthrax berjangkit di 9 propinsi dan menyebabkan 4.310 ekor ternak mati. Dalam beberapa tahun terakhir mi, hampir setiap tahun ada kejadian anthrax di Kabupaten Bogor yang menelan korban jiwa manusia. Akhir-akhir mi diberitakan media elektronik maupun cetak, 6 orang dan Babakan Madang meninggal dunia gara-gara memakan daging yang berasal dan ternak sakit yang diduga terkena anthrax. Kejadian mi telah mendorong Badan Litbang Pertanian mengambil Iangkah proaktif untuk meneiti kejadian mi agar tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih luas.

Antraks dapat dicegah namun kasusnya terus terulang. Dilakukan penelitian di Kecamatan Babakan Madang, Bogor. Responden terdiri 25 orang informan kunci dan 30 keluarga peternak. Data digali secara partisipatifmelalui wawancara kelompok, individu, dan pengamatan Iangsung antara bulan MeiDesember 2005. Tujuan penelitian mengemukakan: 1) Karakteristik peternak, 2) Eksistensi usahaternak dan 3) Pengetahuan peternak tentang penyakit antrhaks. Hasil: 1)10% responden yang menyatakan usaha temak merupakan matapencaharian utama, rata-rata peternak berumur 52 tahun. pendidikan 5 tahun, luas lahan 132m2 dan hanya 33% memiliki sarana komunikasi berupa televisi. 2) Jumlah ternak yang dipelihara minimal dua ekor, maksimal 29, rata-rata tujuh ekor dan 54% berstatus penggaduh. Sebanyak 56% tidak memiliki pejantan. jarak kandang dan rumah 0 sampai 10 m. 3) Peternak mengetahui antraks pada stadium lanjut. Seluruh petemak mengetahui antraks sangat berbahaya bagi temak dan manusia, namun 37,5% menjual temak menunjukkan gejala antraks. Seluruh petemak mengakui vaksinasi merupakan cara paling efektifdan penyuluhan merupakan prioritas utama dalam penanggulangan antraks. Implikasi 1) Strategi penanggulangan antraks perlu ditempuh melalui sosialisasi tentang penyakit antraks yang perlu disesuaikan dengan usia peternak, pendidikan dan sarana komunikasi yang dimiliki petemak. Prograni penyuluhan usahaternak perlu dioptimalkan nielalui penyuluhan tentang manajemen, mulai dan pakan, perkandangan, kesehatan dan pemuliabiakan.

Jangkitan antraks adalah disebabkan oleh baktena Bacillus Anthracis iaitu sejenis bakteria yang tidak mudah musniah. Dengan kecenderungan semulajadinya untuk membentuk spora yang amat stabil, ia boleh disimpan hampir selama-lamanya, sama ada dalam bentuk cecair atau serbuk.

Umumnya antraks hanya menjangkiti haiwari seperti lembu, kuda, kambing, babi dan bin-bin tetapi kadang-kaa boeh menjangkiti manusia.

Baktenia antraks boleh menjangkiti manusia melalui kulit, saluran pernafasan atau memakan makanan yang dicemani bakteria mi.

Jangkitan melalui kuilt biasanya melibatkan bahagian tanigan, leher atau muka terutamanya jika terdapat luka. Pesakit akan mengalami rasa gatal-gatal selepas 2 hingga 3 jam pendedahan dan ia boleh berlarutan hingga menjadi gelembung-gelembung atau bintik-bintik atas kulit. Jangkitan yang serius boleh menyebabkan pengsan, pendarahan hingga membawa maut.

Walaupun jangkitan berpunca danipada memakan makanan yang dicemani bakteria ml jarang benlaku, sekiranya berlaku ia boleh juga membawa maut.

Jangkitan melalui pernafasan merupakan penngkat yang paling merbahaya. mi kerana spora yang dihidu masuk jauh ke dalam paru-paru. a kemudiannya akan bercambah dan merebak dengan cepat ke seluruh paru-paru sehingga menyebabkan mangsa demam. Kesukaran bemafas dan gejala sepenti dijangkiti influenza. Gejala-gejala ni berlaku agak cepat iaitu antara satu hingga tiga han selepas jangkitan.

Pada manusia, spora anthrax dapat masuk baik Icwat mulut karena makan bahan makanan (daging) yang tercemar ataupun lewat kulit yang terluka atau bekas gigitan serangga. OIeh karena itu, ternak yang terkena penyakit anthrax dilarang keras untuk dipotong dan dikonsumsi. Selain itu, spora juga dapat masuk ke tubuh manusia lewat pernapaSan, yang’ dapat menyebabkan penderita mengalami radang paru-parU. Hal inilah sekarang yang menjacli berita dunia, karena orang yang tidak bertanggung jawab (teroris) menyebarkan spora anthrax melalui surat atau cara-cara lainnya.

Penyakit antraks memang layak ditakuti karena sangat mematikan. Bahkan binatang yang terlanjur terserang oleh penyakit ml bisa langsung menemul ajal hanya dalam hitungan jam saja. Namun kemampuan membunuh yang sangat cepat justru dianggap memiliki beberapa sisi balk oleh berbagai pihak. Karena setelah diteliti, ternyata penyakit mi memiliki daya penularan yang sangat lambat dan

tidak meluas. Beda dengan flu yang bisa menular ke semua muka bumi dengan sangat cepatnya. Penyakit antraks dimasukkan dalam kelompok penyakit yang dapat menular dan hewan ke manusia (zoonosis). “Paling sering menyerang hewan ternak jenis herbivora,” ucap dr Syahrizal Syarif, MPH., ahli penyakit epidemiologi dan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.

Menurutnya setelah hewan seperti kerbau, sapi, kambing tertular, baru kemudian hewan seperti kuda dan babi menjadi sasaran berikutnya. Hewan di kelompok omnivora mi memang Iebih kebal, hingga sebagian dan hewan mi dapat bertahan hidup. Ia juga menambahkan serangan pada ayam hingga saat mi belum pernah ada laporan.

Namun yang cukup mengkhawatmrkan, temyata tingkat penularan dan pemicu kematian penyakit jenis mi pada manusia mencapai angka 18 persen banyaknya. “Ini beranti dan 100 kasus ada 18 orang yang meninggal,” ungkapnya.

Hingga kini para ahli tetap menyatakan penyebab penyakit ml adalah kuman bemama Bacillus anthracis. Ia dapat bersembunyi dalam tanah hingga 70 tahun. Uniknya bila tanah tempat Ia tinggal tergenang air, kuman mi dapat tumbuh kembati dan menyerang hewan yang ada di sekitamya.

“Karena itu tanah yang tercemar seharusnya menjadi sasaran pemusnahan penyakit mi, selain pembakaran tubuh hewan penyakit seperti yang terjadi akhmr-akhir mi,” tambah Syahrizal Iagi. Repotnya kuman mi dapat terserap oleh akar tumbuh-tumbuhan, bahkani hingga dapat masuk ke dalam daun dan buah, hingga mampu menginfeksi temak maupun manusia yang mengkonsumsinya.

Antraks adalah penyakit bakierial yang disebabkan oleh Bacillus anthracis Penakit mi umumnya rnenyerang temak domestik, seperti domba. kanibing dan sapi. tetapi manusia juga dapat terinfeksi karena terpapar atau nsengkonsumsi hewan yang terinfek.si. Program pengendalian antraks pada hewan dan manusia meliputi pengembangan metode dianostik untuk deteksi B. anthracis dan uji konfinnasi penyakit antraks, pencegahan penyakit dengan vaksinasi dan investigasi penyakit. Teknologi diagnosis antraks yang cepat dan lebih akurat harus dikembangkan untuk menggantikari metode konvensional yang sekarang masih digunakan di Indonesia. Penggunaan vaksin cukup efektifuntuk pencegahan penyakit antraks. Vaksin antraks yang masih digunakan di Indonesia adalah suspensi spora B. anthracis galur Steme 34F2, tidak berkapsul dan toksigenik. Penggunaan vaksin mi terkadang menimbulkan rasa sakit dan nekrosis di tempat suntikan, oedema subkutan dan Lematian hewan. Beberapa vaksin telah dikembangkan, antara lain vaksin subunit, anthrax vaccine absorbed (AVA), yang mengandung komponen antigen protektif (PA) yang merupakan komponen ut’ama toksin antraks yang bersifat imunogenik dan sering digunakan sebagai vaksin pada manusia. Di daerah endemik antraks, secara rutin masih terjadi letupan wabah penyakit ini. Pemantauan perubahan dalam gambaran pola epidemiologi penyakit perlu dilakukan dengan melakukan investigasi lapangan.

Cara Penularan

Bacillus anthracis tidak berpindah langsung dan ternak satu ke ternak yang lain, tai biasanya masuk ke dalam tubuh ternak bersama makanan, perkakas kandang atau dan tanah (rumput). Infeksi tanah inilah yang dianggap paling penting dan berbahaya. Spora yang ada di dalam tanah bisa naik ke atas oleh pengolahan tanah dan hinggap di rumput, yang kemudian dimakan ternak bersama sporanya. Demikian juga spora itu bisa masuk ke dalam kulit, apabila hewan itu berada dan tidur di tempat yang tercemar.

Spora mi akan tumbuh dan berbiak dalam jaringan tubuh dan menyebar ke seluruh tubuh mengikuti aliran darah. Ternak penderita penyakit anthrax dapat menulari ternak lain, melalui cairan (eksudat) yang keluar dan tubuhnya. Cairan mi kemudian mencemari tanah sekelilingnya dan dapat menjadi sumber untuk munculnya kembali waba1Idi masa berikutnya. Cara penularan lain, bila ternak penderita sampai dipotong/bedah atau kalau sudah mati sempat termakan burung liar pemakan bangkai, sehingga sporanya dapat mencemari tanah sekitarnya, serta menjadi sulit untuk menghilangkannya.

Penyebaran

Hingga kini, para ahli tetap menyatakan penyebab penularan penyakt antraks adalah kuman Bacillus anthracis Di alam, bakteri antraks ni basanya ada dalam kondLsi tidur. dan bersembunyi dalam tanah hingga mampu bertahan sampai 50-70 tahun. Bakteri yang tergolong bersel satu mi bisa terbangun kembali dan tidurnya ketika kondisi lingkungan sangat mendukung untuk menyebarkan penyakit pada hewan dan manusia.

Dalam bahasa lain, spora yang tinggal dalam tanah itu akan hidup kembaliL , bila tanah tempat ia tinggal tergenang air atau datang musim hujan. Kuman mi akan tumbuh kembali dan siap menyerang hewan yang ada di sekitarnya. Hebatnya lagi, kuman ni dapat terserap oleh akar tumbuh-tumbuhan, bahkan hingga dapat masuk ke dalam daun dan buah. Apa yang terjadi selanjutnya, kita bisa menebak bahwa akhirnya a mampu menginfeksi ternak maupun manusia yang mengonsumsinya.

Sumber infeksi lainnya ialah bangkai temak pengindap antraks. Pada kondisi ml, miliaran Bacillus anthracis bisa memadat di darah dan organ-organ dalam ternak. Bahkan keterangan lain meriyebutkan bahwa disinyalir di seluruh bangkai hewan tersebut dianggap mengandung kuman penyakit antraks.

Dalam bahasa Syahrizal, dalam satu milimeter darah, setidaknya mengandung satu miliar kuman antraks. Bila kuman itu berinteraksi dengan oksigen, ia dapat segera mengubah din dalam bentuk spora. Bila kondismnya demikian, dipercaya kuman ml memdiki daya tahan tubuh yang lebih kebal dan sebelumnya. Kuman-kuman dalam bentuk spora inilab yang dapat hidup hingga 70 tahun amanya itu.

Pintu penularan

Pintu masuknya penyakit antraks pada hewan, umumnya bisa melalui saluran pencemaan hewan, kontak kulit dan terhirup masuk melalui saluran pernapasan. Sedangkan pada manusia, selain bisa menular melalul kontak atau mengonsumsi daging hewan ternak yang terkena antraks, penularan antarmanusia bisa terjadi melalui udara yang tercemar spora antraks dan masuk ke paru-paru manusia.

Dengan kata lain, bakteri Bacillus anthracis akan bersifat menghancurkan sel-sel darah, balk pada hewan maupun manusia. Apabila gejala klinis sudah timbul, biasanya dilkuti dengan kematian, balk pada hewan maupun manusia Untuk itu, orang yang mengonsumsi daging hewan terkena antraks akan sangat membahayakan. Apalagi kondisi daging hewan tersebut tidak kita masak teriebih dahulu secara sempurna.

Selain itu, Bacillus anthracis Juga membentuk spora sebagai bentuk resting cells. Pembentukan spora akan terjadi apabila nutrisi esensial yang diperlukan tidak memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan, prosesnya disebut sporulasi. Spora berbentuk elips atau oval, letaknya sentral dengan diameter tidak lebih dan diameter bakteri itu sendiri. Spora Bacillus anthracis mi tidak terbentuk pada jaringan atau darah binatang yang hidup, spora tersebut tumbuh dengan baik di tanah maupun pada eksudat atau jaringan hewan yang mati karena antraks.

Di sinilah keistimewaan bakteri mi, apabila keadaan lingkungan sekitar menjadi baik kembali atau nutrisi esensial telah terpenuhi, spora akan berubah kembali menjadi bentuk bakteri. Sporaispora mi dapatterus bertahan hidup selama puluhan tahun dikarenakan sulit dirusak atau mati oleh pemanasan atau bahan kimia tertentu, sehingga bakteri tersebut bersifat dormant, hidup tapi tak berkembang biak.

Pola penularan

Antraks merupakan penyakit zoonosis yang menyerang herbivora seperti sapi, domba, kuda, dan lain-lain. Meski pada

umumnya jarang menyerang manusia, tetapi pada faktanya penyakit ni merupakan penyakit yang cukup meresahkan.

Pada prinsipnya terdapat tiga cara penularan penyakit antraks ke manusia.

Pertama, melalui kontak langsung. Spora atau bakteri masuk melalui lesi kulit. Biasanya yang terserang adalah ekstrimitas terutama ekstrimitas bagman atas. Bentuk klinisnya dikenal dengan malignant pustule atau cutaneus anthrax, timbul 12-36 jam setelah kontak dengan bakteri. Mulamula, timbul papula kecilrikecil, mengeluarkan cairan, bagian tengah lesi tampak adanya nekrosis di kelilingi daerah berwarna merah.

Kedua, melalui saluran pernapasan. Bentuk klinisnya disebut pulmonary anthrax, biasanya ditemukan pada pekerja pekerja pabrik wool dan penyamak kulit.

Ketiga melalui per oral. Bentuk klinisnya terjadi oleh karena menelan makanan (daging) yang terinfeksi bakteri atau spora antraks. Penyakitnya disebut gastrointestinal anthrax. Bentuk ni biasanya berbahaya dan sukar diobati. Gejala yang tampak adalah mual, muntah, diare dan kadang kadang hamatemesis

Apakah Antraks itu?

•\ntrak, adalah suatu penakit infeksi akutang disehahkan oleh bakteri berbentuk spora, Bacillus anthracis. Penyakit mi biasanya rnn’erang hinatan berdarah panas. tapi bisa wga rneniinfeksi manusia.

Bila terhiap oleh manasia. partikel darn spora antrak bisa rnenehabkan kegagalan pernafasan dan kematian dalarn saktu I (satu) minggu

Siapakah sang hisa terkena Antraks?

Antraks paling sering menerang hinatang di daerah-daerah pertanian. seperti Amerika Tengah dan Selatan, Eropa Timur dan Selatan, Asia. Afrika. Karihia dan Tirnur lcngah. Pada manusia biasana teriadi karena terkontaniinasi oleh binatang yang terinfeksi atau produkn a.

Bagaimana penularan Antraks teriadi?

lnfeksi antraks bisa terjadi dalam 3 tiga) bentuk. \altu kutaneus (kulit), inhalasi (pernafasan) dan saluran pencernaan. Spora Bacillus anthracis bisa hidup dalam tanah selama bei-tahun-tahun dan manusia dapat terinfeksi melalui produk binatang yang Iermfeksi atau dengan menghisap spora antraks dan produk binatang yang sudah terkontaminasi. Antraks bisa juga tersebar melalui daging mcntah dan binatang yang teninfeksi.

Bagaimana gejala-gcala dan Antraks?

Gejala-gejala dan penakit mi bervariasi tergantung dan cara penularannya. tapi biasanya gejala-gejala tersebut timbul dalam 7 iujuh han.

1. Kutaneus

lnfeksi antraks timbul bila bakteni masuk melalul luka pada kulit, biasanya bOa sedang mengolah vol, kulit atau bulu (terutama bulu kambing) dan binatang yang terinfeksi. lnfeksi kulit dimulai dengan benjolan yang terasa gatal menyerupai gigitan serangga, tapi dalam 1-2 han berubah nieniadi vesikula dan ulkus dengan diameter 1-3 cm, dengan area nekrotik hitam yang khas ditengahnya. Bisa disertai dengan pemhengkakan kelenjar limfa di daerah yang berdekatan. 20% dan kasus antraks kutaneus yang tidak diobati berakhir dengan kematian. tetapi bila terapi antimikroba dihenikan, kematian jarang terjadi.

2. Inhalasi

Gejala asa1nya menyerupai common cold. Sctelah beberapa han, gejala-gejalanya akan berkembang menjadi gangguan pemafasan yang berat dan syok. Kematian biasanya terjadi 1-2 han setclali onset gejala akut.

3. Saluran pencennaan.

Antraks pada saluran pencemaan biasanya timbul setelah mengkonsumsi daging sang terkontamina.si dan ditandai dengan adanya inflamasj akut dan saluran pencemaan. Gejala awat herupa mual, kehilangan setera makan, niuntah dan demam yang dijkuti dengan nyeri abdomen, muntah darah dan diare berat. Kematian tenjadi pada 25-60% kasus.

0 komentar:

Poskan Komentar

Apa yang bisa saya bantu, silahkan meninggalkan komentar