<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632</id><updated>2011-07-30T09:52:31.118-07:00</updated><category term='maros'/><category term='jumper'/><category term='makalah'/><category term='antraks'/><category term='tugas'/><category term='akbid'/><category term='anthrax'/><title type='text'>PESONA_QALBU</title><subtitle type='html'>SUKSES BERAWAL DARI MIMPI</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-9123821079823726576</id><published>2009-02-08T01:33:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T07:26:34.110-08:00</updated><title type='text'>Arti Sahabat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WHE5pzolTN0/SY6nPMn_SMI/AAAAAAAAABQ/w-KivCQvtCI/s1600-h/PhotoFunia_83918d.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 290px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WHE5pzolTN0/SY6nPMn_SMI/AAAAAAAAABQ/w-KivCQvtCI/s320/PhotoFunia_83918d.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300357690990479554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat adalah orang yang paling dipercaya, yang bisa diajak cerita tentang masalah kita, yang ada di saat kita butuh atau bahkan saat kita tidak butuhpun sahabat ada disamping kita untuk menemani kita. Seorang sahabat sejati sulit sekali untuk kita cari atau kita jumpai, karena mencari sabat sejati itu memang bener-bener sangat sulit.&lt;br /&gt;Teman adalah seseorang yang kita kenal dan seseorang yang bisa kita jumpai disaat tertentu atau tidak selamanya kita jumpai. Mencari teman itu mudah bahkan sangat mudah, kita cuma menemui orang yang tidak kita kenal, lalu mengajaknya kenalan, ketika sudah kenal maka ia sudah bisa kita anggap sebagai teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sahabat adalah seseorang yang kalau kita lagi sedih ia bisa membuat kita tersenyum sementara ketika kita senang dia akan lebih senang dari kita. Yap, rasanya nggak terlalau berlebihan kalau keberadaan seorang sahabat emang sangat istimewa, Ia menjadi zat penting yang memberi warna dalam kehidupan kita. So, punya sahabat bukan lagi sebuah keharusan melainkan kebutuhan, pasti anda setuju bukan? Nah buat kamu yang sampai detik ini belum menemukan seseorang yang cocok intuk menjadikan sahabat, coba deh lebih keras lagi berusaha mencarinya. Punya sahabat itu ga ada ruginya, malah akan lebih banyak rezeki he…, sebab sekali lagi sahabat membuat hari-hari anda akan lebih hidup dan bermakna. Ga percaya, kalo gitu coba deh baca point-point berikut, dijamin kamu akan termotivasi untuk mencari sebanyak-banyaknya. Itu pun kalau kamu bisa menyimaknya bukan sekadang baca doang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat itu teman curhat, ngga ada istialh stress ketika dirundung masalah, seberat apapun masalah itu kalau kita punya sahabat. Dalam hal ini sahabat bisa menjadi tempat berbagi cerita, teman curhat, yang nyaman. Kita bisa ngungkapin semua perasaan kita selain kepada keluarga (kalau jauh dari keluarga) atau pacar (sebaiknya jangan) yaitu kepada sahabat kita. Sahabat itu adalah dewa penolong. Butuh bantuan, butuh pertolongan kenapa engga lari ke sahabat. Siapa tau dia bisa bantu, bisa kasih solusi, atau paling tidak sekedar opini. Tapi bukan berarti setiap masalah harus lari ke sahabat, yang paling baik dan utama adalah dengan menyelesaikannya dengan sendiri, baru ke keluarga terus orang terdekat yaitu sahabat dan tidak lupa minta kepada yang di atas. Belajar mandiri ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat itu orang yang yambung diajak ngobrol, enak diajak diskusi, teman berbincang yang menyenangkan dan semua itu akan tercapai manakala kamu bisa saling mengenal kepribadiannnya masing-masing (takut orangnya suka ngomongin rahasia orang, gawat men…), Sahabat itu orang yang dengan kelapangan hatinya bisa mengerti kita, dengan keterbukaan tangannya bisa menerima kita apa adanya, tanpa pernah berusaha mempengaruhi apalagi mengubah keadaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat itu cermin bagi diri kita, rujukan tempat kita mengekspresikan diri. Sahabat itu seperti tubuh, bila tubuh kita salah satu sakit, maka yang lain akan merasa sakit. Misalnya kalau kaki kita terantuk batu, pasti dengan mulut refleks akan bilang “aduh”, tangan langsung mengusap dan mengobatinya, tanpa diminta dan tanpa disuruh, begitu juga seorang sahabat dia akan punya kesadaran diri kalau sahabatnya sedang dalam kesulitan, dan itu dilakukan atas dasar keikhlasan bukan paksaan apalagi pamrih, ya seperti tubuh kita yang sakit tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, siapa sahabat kamu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-9123821079823726576?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/9123821079823726576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2009/02/sahabat-adalah-orang-yang-paling.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/9123821079823726576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/9123821079823726576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2009/02/sahabat-adalah-orang-yang-paling.html' title='Arti Sahabat'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WHE5pzolTN0/SY6nPMn_SMI/AAAAAAAAABQ/w-KivCQvtCI/s72-c/PhotoFunia_83918d.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-5184604942898671919</id><published>2008-12-31T18:42:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T08:50:01.706-08:00</updated><title type='text'>Makalah Akbid+ DESINFEKSI</title><content type='html'>PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Sterilisasi dan disinfeksi adalah Penting untuk kedua keselamatan pribadi dan keselamatan pasien. Daripada Pendekatan buku masak, ini harus dilihat sebagai proses yang dimanfaatkan berdasarkan filosofi. Falsafah Bagaimana item digunakan, disimpan, tercemar dan dipakai ulang atau dibuang menentukan optimal metode sterilisasi dan disinfeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sterilisasi dan disinfeksi adalah Penting untuk mencegah infeksi dari rantai Gigi di kantor. Rantai infeksi adalah:&lt;br /&gt;•    Yang masuk melalui patogen yang dapat memasukkan host.&lt;br /&gt;•    Sebuah host rentan adalah orang yang tidak memiliki kekebalan atau imunitas tercemar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Jumlah yang cukup patogen atau menyebabkan infeksi-organisme harus hadir untuk memproduksi infeksi. Hal ini disebut dosis infeksi. Ini bervariasi untuk berbagai infeksi atau penyakit. Harus ada waduk atau sumber infeksi yang memungkinkan agen untuk Bertahan dan kalikan (misalnya Darah).&lt;br /&gt;Tindakan Desinfeksi hanya merupakan salah satu bagian dari tindakan ‘Biosekuriti’ dalam upaya memutus rantai penularan penyakit atau penyebaran agen penyakit (virus); sedangkan Kunci Pencegahan adalah pada aspek Kebersihan Diri dan Lingkungan serta Tata laksana Perunggasan yang baik dan benar.&lt;br /&gt;Tujuan Desinfeksi adalah membunuh partikel virus agen penyakit yang berada diluar tubuh unggas, ‘menempel’ di media/peralatan kandang, alat angkut, kotoran, tangan kaki,  pakaian petugas, termasuk kemungkinan adanya partikel di media udara, dll.&lt;br /&gt;Desinfeksi merupakan alternatif pertama untuk tindakan preventif/pencegahan dan apabila terjadi kasus aktif kematian unggas (ada bangkai unggas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;DESINFEKSI&lt;br /&gt;Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan, peralatan dan pakaian. Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai antiseptik dan desinfektan. Tapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahan antiseptik karena adanya batasan dalam penggunaan antiseptik. Antiseptik tersebut harus memiliki sifat tidak merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat keras. Terkadang penambahan bahan desinfektan juga dijadikan sebagai salah satu cara dalam proses sterilisasi, yaitu proses pembebasan kuman. Tetapi pada kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat berfungsi sebagai bahan dalam proses sterilisasi. Walaupun kita sering menggunakan produk desinfektan, sebagian besar konsumen tentunya belum mengenal jenis bahan kimia apa yang ada dalam produk tersebut. Padahal bahan kimia tertentu merupakan zat aktif dalam proses desinfeksi dan sangat menentukan efektivitas dan fungsi serta target mikroorganime yang akan dimatikan.&lt;br /&gt;Dalam proses desinfeksi sebenarnya dikenal dua cara, cara fisik (pemanasan) dan cara kimia (penambahan bahan kimia). Dalam tulisan ini hanya difokuskan kepada cara kimia, khususnya jenis-jenis bahan kimia yang digunakan serta aplikasinya.&lt;br /&gt;Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan pereduksi, yaitu bahan kimia yang mengandung gugus -COH; golongan alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen atau yang mengandung gugus -X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi, golongan garam amonium kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan biguanida. Beberapa jenis bahan yang berfungsi sebagai desinfektan dijelaskan di bawah ini :&lt;br /&gt;Golongan “aldehid”&lt;br /&gt;Bahan kimia golongan aldehid yang umum digunakan antara lain formaldehid, glutaraldehid dan glioksal. Golongan aldehid ini bekerja dengan cara denaturasi dan umum digunakan dalam campuran air dengan konsentrasi 0,5% ��. Daya aksi berada dalam kisaran jam, tetapi untuk kasus formaldehid daya aksi akan semakin jelas dan kuat bila pelarut air diganti dengan alkohol. Formaldehid pada konsentrasi di bawah 1,5% tidak dapat membunuh ragi dan jamur, dan memiliki ambang batas konsentrasi kerja pada 0,5 mL/m3 atau 0,5 mg/L serta bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker). Larutan formaldehid dengan konsentrasi 37% umum disebut formalin dan biasa digunakan utuk pengawetan mayat.&lt;br /&gt;Glutaraldehid memiliki daya aksi yang lebih efektif dibanding formaldehid, sehingga lebih banyak dipilih dalam bidang virologi dan tidak berpotensi karsinogenik. Ambang batas konsentrasi kerja glutaraldehid adalah 0,1 mL/m3 atau 0,1 mg/L.&lt;br /&gt;Pada prinsipnya golongan aldehid ini dapat digunakan dengan spektrum aplikasi yang luas, misalkan formaldehid untuk membunuh mikroorganisme dalam ruangan, peralatan dan lantai, sedangkan glutaraldehid untuk membunuh virus. Keunggulan golongan aldehid adalah sifatnya yang stabil, persisten, dapat dibiodegradasi, dan cocok dengan beberapa material peralatan. Sedangkan beberapa kerugiannya antara lain dapat mengakibatkan resistensi dari mikroorganisme, untuk formaldehid diduga berpotensi bersifat karsinogen, berbahaya bagi kesehatan, mengakibatkan iritasi pada sistem mukosa, aktivitas menurun dengan adanya protein serta berisiko menimbulkan api dan ledakan.&lt;br /&gt;Golongan alkohol&lt;br /&gt;Golongan alkohol merupakan bahan yang banyak digunakan selain golongan aldehid. Beberapa bahan di antaranya adalah etanol, propanol dan isopropanol. Golongan alkohol bekerja dengan mekanisme denaturasi serta berdaya aksi dalam rentang detik hingga menit dan untuk virus diperlukan waktu di atas 30 menit. Umum dibuat dalam campuran air pada konsentrasi 70-90 %.&lt;br /&gt;Golongan alkohol ini tidak efektif untuk bakteri berspora serta kurang efektif bagi virus non-lipoid. Penggunaan pada proses desinfeksi adalah untuk permukaan yang kecil, tangan dan kulit. Adapun keunggulan golongan alkohol ini adalah sifatnya yangn stabil, tidak merusak material, dapat dibiodegradasi, kadang cocok untuk kulit dan hanya sedikit menurun aktivasinya bila berinteraksi dengan protein . Sedangkan beberapa kerugiannya adalah berisiko tinggi terhadap api/ledakan dan sangat cepat menguap.&lt;br /&gt;Golongan pengoksidasi&lt;br /&gt;Bahan kimia yang termasuk golongan pengoksidasi kuat dibagi ke dalam dua golongan yakni peroksida dan peroksigen di antaranya adalah hidrogen peroksida, asam perasetik, kalium peroksomono sulfat, natrium perborat, benzoil peroksida, kalium permanganat. Golongan ini membunuh mikroorganisme dengan cara mengoksidasi dan umum dibuat dalam larutan air berkonsentrasi 0,02 %. Daya aksi berada dalam rentang detik hingga menit, tetapi perlu 0,5 - 2 jam untuk membunuh virus.&lt;br /&gt;Pada prinsipnya golongan pengoksidasi dapat digunakan pada spektrum yang luas, misalkan untuk proses desinfeksi permukaan dan sebagai sediaan cair. Kekurangan golongan ini terutama oleh sifatnya yang tidak stabil, korosif, berisiko tinggi menimbulkan ledakan pada konsentrasi di atas 15 %, serta perlu penanganan khusus dalam hal pengemasan dan sistem distribusi/transpor.&lt;br /&gt;Golongan “halogen”&lt;br /&gt;Golongan halogen yang umum digunakan adalah berbasis iodium seperti larutan iodium, iodofor, povidon iodium, sedangkan senyawa terhalogenasi adalah senyawa anorganik dan organik yang mengandung gugus halogen terutama gugus klor, misalnya natrium hipoklorit, klor dioksida, natrium klorit dan kloramin. Golongan ini berdaya aksi dengan cara oksidasi dalam rentang waktu sekira 10-30 menit dan umum digunakan dalam larutan air dengan konsentrasi 1-5%. Aplikasi proses desinfeksi dilakukan untuk mereduksi virus, tetapi tidak efektif untuk membunuh beberapa jenis bakteri gram positif dan ragi.&lt;br /&gt;Umum digunakan sebagai desinfektan pada pakaian, kolam renang, lumpur air selokan. Adapun kekurangan dari golongan halogen dan senyawa terhalogenasi adalah sifatnya yang tidak stabil, sulit terbiodegradasi, dan mengiritasi mukosa.&lt;br /&gt;Golongan “fenol”&lt;br /&gt;Senyawa golongan fenol dan fenol terhalogenasi yang telah banyak dipakai antara lain fenol (asam karbolik), kresol, para kloro kresol dan para kloro xylenol. Golongan ini berdaya aksi dengan cara denaturasi dalam rentang waktu sekira 10-30 menit dan umum digunakan dalam larutan air dengan konsentrasi 0,1-5%. Aplikasi proses desinfeksi dilakukan untuk virus, spora tetapi tidak baik digunakan untuk membunuh beberapa jenis bakteri gram positif dan ragi. Umum digunakan sebagai dalam proses desinfeksi di bak mandi, permukaan dan lantai, serta dinding atau peralatan yang terbuat dari papan/kayu.&lt;br /&gt;Adapun keunggulang dari golongan golongan fenol dan fenol terhalogenasi adalah sifatnya yang stabil, persisten, dan ramah terhadap beberapa jenis material, sedangkan kerugiannya antara lain susah terbiodegradasi, bersifat racun, dan korosif.&lt;br /&gt;Golongan garam&lt;br /&gt;amonium kuarterner&lt;br /&gt;Beberapa bahan kimia yang terkenal dari golongan ini antara lain benzalkonium klorida, bensatonium klorida, dan setilpiridinium klorida. Golongan ini berdaya aksi dengan cara aktif-permukaan dalam rentang waktu sekira 10-30 menit dan umum digunakan dalam larutan air dengan konsentrasi 0,1%-5%. Aplikasi untuk proses desinfeksi hanya untuk bakteri vegetatif, dan lipovirus. terutama untuk desinfeksi peralatannya.&lt;br /&gt;Keunggulan dari golongan garam amonium kuarterner adalah ramah terhadap material, tidak merusak kulit, tidak beracun, tidak berbau dan bersifat sebagai pengemulsi, tetapi ada kekurangannya yakni hanya dapat terbiodegradasi sebagian. Kekurangan yang lain yang menonjol adalah menjadi kurang efektif bila digunakan pada pakaian, spon, dan kain pel karena akan terabsorpsi bahan tersebut serta menjadi tidak aktif bila bercampur dengan sabun, protein, asam lemak dan senyawa fosfat.&lt;br /&gt;Salah satu produk yang sudah dipasarkan dari golongan ini diklaim efektif untuk membunuh parvovirus, di mana virus ini merupakan jenis virus hidrofilik yang sangat susah untuk dimatikan dibandingkan virus lipofilik.&lt;br /&gt;Golongan “biguanida”&lt;br /&gt;Bahan kimia yang sudah digunakan dari golongan ini antara lain klorheksidin. Klorheksidin terkenal karena sangat ampuh untuk antimikroba terutama jenis bakteri gram positif dan beberapa jenis bakteri gram negatif. Klorheksidin sangat efektif dalam proses desinfeksi Staphylococcus aureaus, Escherichia coli, dan Pseudomonas aeruginosa, tetapi kurang baik untuk membunuh beberapa organisme gram negatif, spora, jamur terlebih virus serta sama sekali tidak bisa membunuh Mycoplasma pulmonis.&lt;br /&gt;Faktor yang harus  diperhatikan&lt;br /&gt;Dari semua bahan desinfektan tersebut di atas tidak semua dapat efektif dalam semua kondisi dan aplikasi. Perbedaan jenis mikroorganisme serta kondisi lingkungan akan menjadi faktor yang harus dipertimbangkan dalam sensitivitas atau resistensinya.&lt;br /&gt;Supaya fungsi desinfektan menjadi efektif, maka ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan produk desinfektan, yakni harus dapat digunakan dalam spektrum dan aktivitas penggunaan yang luas, menunjukkan daya reduksi/bunuh terhadap mikroorganisme hidup pada saat berkontak, dapat bekerja pada rentang pH dan suhu yang luas, dapat bekerja dengan adanya senyawa organik, waktu paparan/kerja yang cukup singkat, batas konsentrasi yang kecil, dan stabilitas senyawa.&lt;br /&gt;Selain itu, untuk aplikasi di lapangan terdapat kecenderungan konsumen untuk memilih desinfektan yang aman bagi lingkungan, mudah untuk digunakan, daya aksi yang cepat serta murah. Tetapi faktor harga terkadang menjadi batasan tersendiri. Sebagai contoh banyak konsumen menggunakan desinfektan gas klor (klorin) untuk proses desinfeksi air. Bahan tersebut bekerja dengan baik untuk membunuh bakteri, fungi dan virus, tetapi bahan ini mempunyai efek merusak/korosif pada kulit dan peralatan. Selain itu gas klorin juga berpotensi merusak sistem pernapasan bagi manusia dan binatang.&lt;br /&gt;Dengan mengetahui dan mengenal jenis bahan kimia yang digunakan dalam produk desinfektan diharapkan konsumen dapat memilih produk yang tepat sasaran, yakni kesesuaian antara bahan kimia yang dikandungnya dengan jenis dan target mikroorganismenya. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan menjadi tepat sasaran, berhasil guna dan berdaya guna. Manfaat lain adalah dengan mengetahui risiko dan efek negatif yang mungkin ditimbulkan oleh bahan kimia dalam desinfektan, seperti risiko keracunan pada anak, polusi terhadap lingkungan, risiko terhadap kesehatan serta efek karsinogen, maka diharapkan konsumen lebih berhati-hati dalam penggunaan dan penanganan produk-produk tersebut. Bila semua Peristiwa terjadi bersama-sama, ini dianggap sebagai "Rantai infeksi". Infeksi Kontrol Strategi efektif mencegah infeksi atau penyakit interrupting oleh satu atau lebih link dalam rantai infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembersihan adalah langkah yang pagar Penting dalam semua proses dekontaminasi. Pembersihan melibatkan fisik mengakibatkan reruntuhan dan mengurangi Jumlah Mikro-organisme pada suatu instrumen atau perangkat. Terlihat reruntuhan yang salah atau tidak Organik dihapus, dapat mengganggu disinfeksi atau proses sterilisasi. Kebersihan seperti Ultrasonik kebersihan, dan kebersihan Instrumen Washer disinfectors bekerja secara efektif&lt;br /&gt;Desinfeksi Mengurangi Beban patogen di Lingkungan kawanan Anda akan mengurangi risiko penyakit. Pembasmian adalah agen kimia yang dapat membunuh patogen pada kontak. Pembuatan adalah agen Kimia yang dapat membunuh patogen pada kontak. Pembersihan sebelum disinfeksi ekspose yang patogen ke desinfektan. Pembersihan sebelum disinfeksi ekspose yang patogen ke desinfektan.&lt;br /&gt;1.    Hapus semua selimut, pakan, dan pupuk. Hapus semua selimut, pakan, dan Pupuk.&lt;br /&gt;2.    Membersihkan kotoran longgar, seluk-beluk, dll Membersihkan kotoran longgar, seluk-beluk, dll&lt;br /&gt;3.    Poles seluruh permukaan dengan detergen / desinfektan *. Tiang seluruh permukaan dengan detergen / desinfektan *.&lt;br /&gt;4.    Bilas semua deterjen dan organik dari permukaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, hama.&lt;br /&gt;1.    Terapkan desinfektan. Terapkan desinfektan.&lt;br /&gt;2.    Desinfektan biarkan hingga kering. Desinfektan antara biarkan kering.&lt;br /&gt;3.    Lagi ubat pembasmi kuman dan keringkan kedua waktu (opsional). Lagi ubat pembasmi kuman dan keringkan kedua waktu (opsional).&lt;br /&gt;4.    Bed kawasan dengan bahan segar dan bersih, kuman, mencuci, dan semua air kering dan peralatan makan sebelum refilling mereka. Kawasan tempat tidur dengan bahan segar dan Bersih, kuman, mencuci, dan semua udara kering dan peralatan makan sebelum refilling mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara memilih desinfektan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan yang letal ubat pembasmi kuman untuk berbagai patogen (virus, bakteri, jamur, protozoa) tergantung pada komposisi kimia dari desinfektan dan make-up dari organisme. Tindakan yang letal ubat pembasmi kuman untuk berbagai patogen (virus, bakteri, jamur, protozoa) TERGANTUNG pada komposisi Kimia dari desinfektan dan make-up dari organisme. Bila memilih disinfektan, mempertimbangkan karakteristik ini: Bila memilih disinfektan, mempertimbangkan karakteristik tersebut:&lt;br /&gt;    Biaya&lt;br /&gt;    Efisiensi (pembunuhan efisiensi terhadap virus, bakteri, jamur) Efisiensi (pembunuhan efisiensi terhadap virus, bakteri, jamur)&lt;br /&gt;    Aktivitas dengan organik dengan Kegiatan Organik&lt;br /&gt;    Keracunan (relatif aman untuk hewan) Keracunan (relatif aman untuk Hewan)&lt;br /&gt;    Residual kegiatan Sisa Kegiatan&lt;br /&gt;    Efek pada kain dan logam Efek pada Kain dan Logam&lt;br /&gt;    Aktivitas Kegiatan dengan sabun dengan sabun&lt;br /&gt;    Kelarutan (keasaman, alkalinity, pH) Kelarutan (keasaman, alkalinity, pH)&lt;br /&gt;    Kontak Kontak saat waktu&lt;br /&gt;    Suhu Suhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang relatif pentingnya karakteristik tersebut akan bergantung pada setiap individu dalam situasi, tetapi efisiensi dan racun untuk binatang yang selalu penting keprihatinan. Yang relatif pentingnya karakteristik tersebut akan bergantung pada setiap individu dalam situasi, tetapi efisiensi dan account ini untuk binatang yang selalu Penting keprihatinan. Tidak desinfektan bekerja cepat. Tidak desinfektan bekerja cepat. Semua memerlukan sejumlah waktu kontak yang akan efektif. Semua memerlukan sejumlah waktu kontak yang akan efektif. Suhu dan konsentrasi pembasmian mempengaruhi tingkat pembunuhan mikroorganisme. Suhu dan konsentrasi Pembuatan mempengaruhi tingkat pembunuhan mikroorganisme. Disarankan menggunakan konsentrasi pembasmian adalah penting. Disarankan menggunakan konsentrasi Pembuatan adalah Penting. Kegiatan banyak pembasmian meningkatkan signifikan jika suhu meningkat. Kegiatan Pembuatan banyak Meningkatkan suhu Meningkat signifikan yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pembasmian adalah kurang efektif dalam kehadiran bahan organik, yaitu, Anda tidak dapat kuman kotoran. Semua Pembuatan adalah kurang efektif dalam KEHADIRAN bahan Organik, yaitu, Anda tidak dapat kuman kotoran. Organik interferes dengan tindakan pembasmian oleh: lapisan yang patogen dan mencegah kontak dengan desinfektan; membentuk kimia obligasi dengan disinfektan, sehingga tidak aktif terhadap organisme; reacting atau kimiawi dengan ubat pembasmi kuman dan neutralizing. Organik interferes dengan Tindakan Pembuatan oleh: lapisan yang patogen dan mencegah kontak dengan desinfektan; membentuk Kimia obligasi dengan disinfektan, sehingga tidak aktif terhadap organisme; reacting atau kimiawi dengan ubat pembasmi kuman dan neutralizing. Pembersihan sebelum penerapan desinfektan adalah penting! Pembersihan sebelum penerapan desinfektan adalah Penting!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembasmian dapat dibagi ke dalam kelas berikut berdasarkan komposisi kimia: Pembuatan dapat dibagi ke dalam Kelas berikut berdasarkan komposisi Kimia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Phenols&lt;br /&gt;    Hypochlorites (kaporit) Hypochlorites (kaporit)&lt;br /&gt;    IODOPHORS (yodium) IODOPHORS (yodium)&lt;br /&gt;    Terdiri dr empat bagian amonium Terdiri dr empat Bagian Amonium&lt;br /&gt;    Formaldehid Formaldehida&lt;br /&gt;    Alkali (landa) alkali (landa)&lt;br /&gt;    Chlorhexidine (Nolvasan) Chlorhexidine (Nolvasan)&lt;br /&gt;    Oxidizing Agen (peroksida) Oxidizing Agen (peroksida)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phenols&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phenols adalah batu bara tar-derivatif. Mereka memiliki karakteristik cemara-tar bau dan putar dalam air susu. Mereka memiliki karakteristik Cemara-tar bau dan putar dalam udara susu. Phenols adalah amat efektif antibacterial agen, dan mereka juga efektif terhadap jamur dan berbagai virus. Phenols adalah Amat efektif antibacterial agen, dan mereka juga efektif terhadap berbagai virus dan jamur. Mereka juga menyimpan lebih banyak kegiatan di kehadiran bahan organik dari yodium atau kaporit yang mengandung pembasmian. Mereka juga menyimpan lebih banyak kegiatan di KEHADIRAN bahan Organik dari yodium atau kaporit yang mengandung Pembuatan. Umum menggunakan hewan komersial di unit produksi meliputi: penetasan dan peralatan sanitasi, dan footbaths. Umum menggunakan Hewan komersial di unit produksi meliputi: penetasan dan peralatan sanitasi, dan footbaths. Contoh: Lysol, Pine-Sol, Cresi-400, lingkungan, dan Tek-Trol. Contoh: Lysol, Pine-Sol, Cresi-400, Lingkungan, dan Tek-Trol.&lt;br /&gt;Terdiri dr empat bagian amonium Terdiri dr empat Bagian Amonium&lt;br /&gt;Terdiri dr empat bagian amonium memanjang umumnya tanpa bau, warna, nonirritating, dan deodorized. Terdiri dr empat Bagian Amonium memanjang umumnya tanpa bau, warna, nonirritating, dan deodorized. Mereka juga memiliki beberapa tindakan deterjen, dan mereka pun pembasmian. Mereka juga memiliki beberapa Tindakan deterjen, dan kata-kata Pembuatan mereka. Namun, beberapa terdiri dr empat bagian memanjang amonium adalah vaksin di hadapan beberapa soaps sabun atau residu, jadi hati-hati produk pilihan adalah penting. Namun, beberapa terdiri dr empat Bagian memanjang Amonium adalah vaksin di beberapa HADAPAN soaps sabun atau residu, jadi hati-hati adalah pilihan produk Penting. Antibacterial aktivitas mereka berkurang dengan kehadiran bahan organik. Antibacterial aktivitas mereka berkurang dengan KEHADIRAN bahan Organik. Terdiri dr empat bagian amonium memanjang yang efektif terhadap bakteri dan tidak efektif terhadap virus dan jamur. Terdiri dr empat Bagian Amonium memanjang yang efektif terhadap bakteri dan tidak efektif terhadap virus dan jamur. Kompleks ini digunakan secara luas di Tempat pemijahan komersial. Contoh: Roccal, Germex, Hi-Lethol, San-O-Fec, Warden, dan Zephiran. Kompleks ini digunakan secara luas di Tempat pemijahan komersial. Contoh: Roccal, Germex, Hi-Lethol, San-O-Fec, Warden, dan Zephiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IODOPHORS IODOPHORS&lt;br /&gt;Kompleks yodium tersedia sebagai IODOPHORS, yang merupakan kombinasi dari kekuatan yodium dan substansi yang membuat yodium larut dalam air. Kompleks yodium tersedia sebagai IODOPHORS, yang merupakan Kombinasi dari kekuatan yodium dan substansi yang membuat yodium Larut dalam udara. Mereka adalah pembasmian baik, tetapi tidak bekerja dengan baik dalam kehadiran bahan organik. Pembuatan mereka adalah baik, tetapi tidak bekerja dengan baik dalam KEHADIRAN bahan Organik. IODOPHORS yang efektif terhadap bakteri, jamur, dan banyak virus. IODOPHORS yang efektif terhadap bakteri, jamur, dan banyak virus. Di Tempat pemijahan, yodium digunakan pada peralatan dan dinding, dan air untuk disinfeksi. Di Tempat pemijahan, yodium digunakan pada peralatan dan Dinding, dan udara untuk disinfeksi. Yodium adalah racun yang paling pembasmian dibahas di sini. Yodium adalah pagar Pembuatan account ini yang dibahas di sini. Banyak produk yodium dapat noda pakaian dan keropos permukaan. Banyak produk yodium dapat noda pakaian dan keropos permukaan. Contoh: Betadine, Iofec, Isodyne, Losan, Tamed Yodium dan Weladol. Contoh: Betadine, Iofec, Isodyne, Losan, Tamed Yodium dan Weladol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hypochlorites&lt;br /&gt;Kaporit memanjang yang baik pembasmian bersih pada permukaan, tetapi dengan cepat oleh vaksin kotoran. Kaporit memanjang yang baik Pembuatan Bersih pada permukaan, tetapi dengan cepat oleh vaksin kotoran. Kaporit yang efektif terhadap banyak bakteri dan virus. Kaporit yang efektif terhadap banyak bakteri dan virus. Kompleks ini juga jauh lebih aktif dalam air hangat daripada di air dingin. Kompleks ini juga jauh lebih aktif dalam udara hangat daripada di udara dingin. Kaporit solusi dapat sedikit yg menjengkelkan untuk kulit dan menghakis logam. Kaporit dapat sedikit solusi yg menjengkelkan untuk kulit dan menghakis Logam. Mereka yang relatif murah. Mereka yang relatif murah. Contoh: Clorox, Chloramine-T, dan Halazone. Contoh: Clorox, Chloramine-T, dan Halazone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oxidizing agen Oxidizing Agen&lt;br /&gt;Hidrogen peroksida dan lain oxidizing agen, seperti peracetic asam dan propionic asam atau asam peroxygen sistem yang digunakan dalam operasi unggas komersial. Hidrogen peroksida dan lain oxidizing agen, seperti peracetic Asam dan propionic Asam Asam peroxygen atau sistem yang digunakan dalam operasi unggas komersial. Mereka yang aktif terhadap bakteri, spora bakteri, virus, dan jamur pada konsentrasi cukup rendah. Mereka yang aktif terhadap bakteri, spora bakteri, virus, dan jamur pada konsentrasi cukup rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alami DESINFEKSI Agen Alam agen Pembuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam yang memaksa mengurangi beban patogen dalam lingkungan yang penting dan dapat digunakan untuk keuntungan kami. Alam yang memaksa mengurangi Beban patogen dalam Lingkungan yang Penting dan dapat digunakan untuk keuntungan kami. Termasuk sinar matahari, panas, dingin, pengeringan (proses pengeringan) dan agitation. Peringkat Sinar Oldish., romantis, dingin, pengeringan (proses pengeringan) dan agitation. Yang sinar ultraungu dari sinar matahari yang sangat ampuh dalam membunuh mikroorganisme. Yang Sinar ultraungu dari Sinar Oldish. yang sangat Ampuh dalam membunuh mikroorganisme. Hal ini sangat berguna di luar bangunan, namun sayangnya sinar ultraungu yang tidak dapat melewati kaca atau atap atau debu. Hal ini sangat berguna di luar bangunan, Namun sayangnya Sinar ultraungu yang tidak dapat melewati Kaca atau atap atau debu. Pengeringan dari udara segar dan angin juga akan membunuh patogen, terutama ketika mereka terkena dalam proses pembersihan. Pengeringan dari Udara segar dan angin juga akan membunuh patogen, terkena Selain itu, terungkap dalam proses pembersihan. Dalam tanah, mikroorganisme yang tidak menimbulkan penyakit (bukan patogenik bakteri dan jamur) memproduksi zat yang mencegah pertumbuhan atau membunuh organisme patogen. Dalam tanah, mikroorganisme yang tidak menimbulkan penyakit (bukan patogenik bakteri dan jamur) memproduksi zat yang mencegah pertumbuhan atau membunuh organisme patogen. Suhu ekstrem (di bawah beku atau di atas 85 o M) akan membunuh mikroorganisme, meskipun kelemahan untuk perubahan suhu bervariasi secara luas. Suhu ekstrem (Beku di bawah atau di atas 85 o F) akan membunuh mikroorganisme, meskipun kelemahan untuk perubahan suhu bervariasi secara luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara kuman saya minum air?&lt;br /&gt;Chlorination umumnya digunakan sebagai desinfektan untuk air minum di suatu konsentrasi 3 ppm (parts per million). Chlorination umumnya digunakan sebagai desinfektan untuk Air Minum di suatu konsentrasi 3 ppm (parts per million). Konsentrasi hingga 10 ppm telah dilaporkan baik ditolerir oleh ayam.. Lima ppm diperlukan untuk mengendalikan lumpur. Lima ppm Diperlukan untuk mengendalikan Lumpur. Chlorination dapat dilakukan dengan berbagai cara, namun, cairan sodium hipoklorit adalah yang paling praktis. Chlorination dapat dilakukan dengan berbagai cara, Ribuan, cairan sodium hipoklorit adalah pagar yang praktis. Rumah tangga pemutih dicairkan sodium hipoklorit. Rumah tangga pemutih dicairkan sodium hipoklorit. Produk bervariasi dari 5 hingga 15 persen sodium hipoklorit. Produk bervariasi antara 5 dari 15 Persen sodium hipoklorit. Clorox adalah sekitar 5%. Clorox adalah sekitar 5%.&lt;br /&gt;BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES DISINFEKSI&lt;br /&gt;Disinfeksi air minum dimaksudkan untuk membunuh atau menghambat aktifitas mikro organisme yang berbahaya (pathogen) yang terkandung di dalam air. Biasanya dipergunakan cara teknik fisika atau kimia. Faktor-faktor berikut ini dapat mempengaruhi disinfeksi air minum, yaitu :&lt;br /&gt;1.    Jenis disinfektan yang digunakan&lt;br /&gt;Setiap disinfektan mempunyai keunggulan dan kelemahannya masing-masing, baik dari segi teknis (pelarutan, pembubuhan) mau pun non teknis (harga).&lt;br /&gt;Berikut ini adalah jenis disinfektan&lt;br /&gt;yang digunakan pada sistem penyediaan air minum di Indonesia, yaitu khlor atau senyawa khlor yang masing-masing mempunyai karakteristik sebagai bahan pertimbangan pemakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Dosis Disinfektan&lt;br /&gt;Jumlah disinfektan yang dibubuhkan tergantung dari :&lt;br /&gt;1.    Jenis disinfektan;&lt;br /&gt;2.    Daya disinfeksi;&lt;br /&gt;3.    Cara disinfeksi yang digunakan, karena setiap cara mempunyai sasaran yang berbeda;&lt;br /&gt;4.    Kadar khlor aktif; jika senyawa khlor yang digunakan sebagai disinfektan.&lt;br /&gt;3.    Waktu kontak&lt;br /&gt;Waktu kontak air dengan disinfektan yang dibubuhkan harus cukup, jika digunakan khlor atau senyawa khlor waktu kontak minimal 30 menit, sebelum air digunakan, dengan mempertahankan sisa khlor paling sedikit 0,3 – 0,5 mg/l Cl2 setelah waktu kontak tersebut. Kecepatan pembentukan monokhloramin relatif tinggi (sebesar 90 %) dalam air dengan konsentrasi ammonia yang biasa dijumpai; pH normal akan terjadi dalam 1 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    pH&lt;br /&gt;pH yang baik untuk proses disinfeksi dengan khlor adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-5184604942898671919?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/5184604942898671919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/makalah-akbid-desinfeksi.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/5184604942898671919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/5184604942898671919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/makalah-akbid-desinfeksi.html' title='Makalah Akbid+ DESINFEKSI'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-723805351836945086</id><published>2008-12-31T18:11:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T08:51:26.009-08:00</updated><title type='text'>MAKALAH PENYAKIT KEJANG</title><content type='html'>A.KONSEP DASAR&lt;br /&gt;a.Pengertian Kejang&lt;br /&gt;Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada suhu yang meninggi. Naiknya suhu badan disebabkan oleh proses diluar kapala(extrakranium), misalnya ototitis media akuta, infeksi saluran pernapasan gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Derajat suhu badan yang dianggap cukup untuk kejang demem 380 C atau lebih.&lt;br /&gt;Kejang demam merupakan kelainan neuarologik yang sering dijumpai pada anak umur 3 bulan atau 5 bulan. Hampir 3% anak dibawah umur 5 tahun perna menderitanya. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang paling tinggi, kadang-kadang pada demam yang tidak begitu tinggi sudah dapat menyebabkan kejang.&lt;br /&gt;Beberapa Pendapat Para Ahli Tentang Pengertian Kejang:&lt;br /&gt;a. Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada saat suhu meningkat disebabkan oleh suatu proses ekstarakranium.(Darto suharso,1994;148)&lt;br /&gt;b. Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 380 C yang di sebabkan oleh proses ekstrakranium (Ngasyiyah,1997;229 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:180%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Etiologi&lt;br /&gt;Bangkitan kejang pada bayi dan anak disebabkan oleh kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan saraf pusat misalnya: Tonsehilitis ostitis media akut, bronchitis dll.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat Rahmat dan hidayanyalah sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini mengenai penyakit kejang demam.&lt;br /&gt;Penulisan makalah ini merupakan pengganti MID semester dan Kami menyadari penyusunan makalah mengenai penyakit kejng masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu dengan kerendahan hati kami meminta dari berbagai pihak sekiranya memberi saran dan kritik guna melengkapi makalah kami.&lt;br /&gt;Tak lupa pula kami mengucapkan banyak terima kasih kepada beberapa pihakyang telah membantu serta dukungan serta masukan-masukan kepada kelompok kami sehjingga makalah kami dapat terselesaikan.&lt;br /&gt;Akhirnya dengan segabla kerendahan hati, kiranya makalah ini dapat bermanfaat bukan saja bagi penulis melainkan juga bagi seluruh pembaca dan semua pihak yang memerlukannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maros,1 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis&lt;br /&gt;KELOMPOK 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HALAMAN JUDUL&lt;br /&gt;KATAPENGANTAR&lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;BAB.1 PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A.Latar Belakang&lt;br /&gt;B.Tujuan Penulisan..........................................................................&lt;br /&gt;C.Manfaat Penulisan........................................................................&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA........................................................................&lt;br /&gt;A. Konsep Dasar..............................................................................&lt;br /&gt;a. Pengertian kejang....................................................................&lt;br /&gt;b. Etiologi......................................................................................&lt;br /&gt;c. Patofisiologi..............................................................................&lt;br /&gt;d. Manifestasi klinik......................................................................&lt;br /&gt;e. Penatalaksanaan medik...........................................................&lt;br /&gt;f. Pemeriksaan Penunjang...........................................................&lt;br /&gt;B. Proses Keperawatan....................................................................&lt;br /&gt;a. Pengkajian................................................................................&lt;br /&gt;b. Diagnosa..................................................................................&lt;br /&gt;c. Intervensi .................................................................................&lt;br /&gt;d. Evaluasi ...................................................................................&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;TINJAUAN KASUS&lt;br /&gt;A. Identitas Klien.&lt;br /&gt;B. Analisa Data.............................................................................&lt;br /&gt;C. Diagnosa Keperawatan...........................................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Prinsip – Prinsip diagnosa..................................................&lt;br /&gt;a) Persiapan alat................................................................&lt;br /&gt;b) Prosedur Kerja&lt;br /&gt;c) Persiapan pasien dan perawat&lt;br /&gt;D.Tujuan Tindakan&lt;br /&gt;a. Tujuan Tindakan Di lakukan................................................&lt;br /&gt;b. Hasil dan maknanya ........................................................&lt;br /&gt;BAB IV PENUTUP&lt;br /&gt;a. Kesimpulan.........................................................................&lt;br /&gt;b. Saran .................................................................................&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA.......................................................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A . LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;Anak merupakan hal yang penting artinya bagi sebuah keluarga. Selain sebagai penerus keturunan, anak pada akhirnya juga sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu tidak satupun orang tua yang menginginkan anaknya jatuh sakt, lebih-lebih bila anaknya mengalami anaknya mengalami kejang demam.&lt;br /&gt;Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering jumpai pada anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38C) yang disebabkan oleh proses ekstra kranium. Penyebab demam terbanyak adalah saluran pernapasan bagian atas disusul infeksi saluran pencernaan.&lt;br /&gt;Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3% dari anak yang berumur dibawa 5 tahun perna menderita kejang demam. Kejang demam lebih sering di dapatkan pada laki-laki dari pada perempuan. Hal tersebut disebabkan karena pada wanita didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat dibandingkan laki-laki.&lt;br /&gt;Berdasarkan laporan dari daftar diagnosa dari Lab/SMF ilmu kesehatan anak RSUD Dr.Soetomo Surabaya didapatkan data adanya peningkatan insiden kajang demam. Pada tahun 1999 ditemukan pasien kejang demam sebanyak 83 orang dan tidak didapatkan angka kematian (0%). Pada tahun 2000 ditemuan pasien kejang demam 132 orang dan tidak didapatkan angka kematian(0%) dari data diatas menunjukan adanya peningkatan insiden kejadian seebesar 37%.&lt;br /&gt;Bangkitan kejang berulang atau kejang yang lama akan mengakibatkan kerusakan sel-sel otak kurang menyenangkan dikemudian hari, terutama adanya cacat baik secara fisik,mental atau sosial yang menggenggu pertumbuhan dan perkembangan anak.&lt;br /&gt;Kejang demam merupakan kedaruratan medis memerlukan pertolongan segera. Diagnosa secara dini serta pengelolaan secara tepat sangat diperlukan untuk menghindari cacat yang lebih parah, yang diakibatkan bangkitan kejang yang sering. Untuk itu tenaga perawat atau tenaga para medis dituntut untuk berperan aktif dalam mengatasi keadaan tersebut serta mampu memberikan asuhan keperawatan kapada keluarga dan penderita, yang meliputi aspek promotif pereventif, kuratif dan rehabilitatif secara terpadu dan berkesinambunganserta memandang klien sebagai satu kesatuan yang utuh secara bio-psiko-sosial-spiritual.prioritas asuhan kaprawatan pada kejang demam adalah: Mencegah atau mengendalikan aktifitas kejang, melindungi pasien dari trauma, mempertahankan jalan napas, meningkatkan harga diri yang positif, memberikan informasi kepada keluarga tentang proses penyakit, prognosis dan kebutuhan penangananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.TUJUAN PENULISAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tujuan Umum&lt;br /&gt;Untuk memperoleh gambaran tentang penyakit kejang&lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;- Memberikan gambaran tentang diagnosa keperawatan mengenai penyakit kejang&lt;br /&gt;- Memberikan gambaran tentang intervensi dan prosedur-prosedur yang akan dilakukan pada pasien yang menderita penyakit kejang&lt;br /&gt;- Memberikan gambaran akan bahaya yang terjadi ketika kejang terjadi pada anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Manfaat Penulisan&lt;br /&gt;1. Sebagai bahan bacaan dan masukan bagi pihak-pihak yang terkait dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan dalam upaya peningkatan kualitas asuhan keperawatan.&lt;br /&gt;2. Untuk menambah pengetahuan tentang penyakit kejang&lt;br /&gt;3. Sebagai bahan masukan atau sumbangan masukan untuk pertimbangan bagi&lt;br /&gt;Yang berminat menulis atau membahas tentang penyakit kejang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.KONSEP DASAR&lt;br /&gt;a.Pengertian Kejang&lt;br /&gt;Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada suhu yang meninggi. Naiknya suhu badan disebabkan oleh proses diluar kapala(extrakranium), misalnya ototitis media akuta, infeksi saluran pernapasan gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Derajat suhu badan yang dianggap cukup untuk kejang demem 380 C atau lebih.&lt;br /&gt;Kejang demam merupakan kelainan neuarologik yang sering dijumpai pada anak umur 3 bulan atau 5 bulan. Hampir 3% anak dibawah umur 5 tahun perna menderitanya. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang paling tinggi, kadang-kadang pada demam yang tidak begitu tinggi sudah dapat menyebabkan kejang.&lt;br /&gt;Beberapa Pendapat Para Ahli Tentang Pengertian Kejang:&lt;br /&gt;a. Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada saat suhu meningkat disebabkan oleh suatu proses ekstarakranium.(Darto suharso,1994;148)&lt;br /&gt;b. Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 380 C yang di sebabkan oleh proses ekstrakranium (Ngasyiyah,1997;229 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Etiologi&lt;br /&gt;Bangkitan kejang pada bayi dan anak disebabkan oleh kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan saraf pusat misalnya: Tonsehilitis ostitis media akut, bronchitis dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Patofisiologi&lt;br /&gt;Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui prises oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoit dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat melalui dengan mudah oleh ion kalium sel, maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial membran dari neuron untuk menjaga keseimbangan potnsial membran diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel.&lt;br /&gt;Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh;&lt;br /&gt;• Perubahan konsentrasi ion diruang ekstra seluler&lt;br /&gt;• Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi atau aliran listrik dan sekitarnya&lt;br /&gt;• Perubahan patofisiologi dari membran sendiri pada penyakit atau keturunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada keadaan demam kenaikan suhu 1 akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Oleh karena itu kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang terjadi difusi dari ion kalium maupun dari ion natrium akibat terjadinya lepas muatan listri. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun kemembran sel sekitarnya dengan bantan ”neurotransmitter” dan terjadi kejang. Kejang demam yang berlangsung lama (lebh dari 15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigendan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh meningkat yang di sebabkan makin meningkatnya aktivitas otot dan mengakibatkan metabolisme otak meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Manifestasi Klinik&lt;br /&gt;Serangan kejng biasanya terjadi 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan kejang dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak memberireaksi apapun sejenak tapi setelah beberapa detik atau menit anak akan sadar tanpa ada kelainan saraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala kejang demam terbagi atas dua golongan yaitu:&lt;br /&gt; Kejang demam sederhna (simple febrile convulsion).&lt;br /&gt; Epilepsi yang diprovokasi oleh demam (epilepsy triggeredoff by fever)&lt;br /&gt;Yang termasuk kejang demam sderhana adalah:&lt;br /&gt; Umur anak waktu kejang antara 6 bulan hingga 4 tahun&lt;br /&gt; Waktu kejang sebentar, tidak lebih dari 15 menit&lt;br /&gt; Kejang bersifat umum&lt;br /&gt; Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam&lt;br /&gt; Tidak terdapat kelainan saraf sebelum dan sesudahnya kejang&lt;br /&gt; Hasil pemeriksaan EEG (Elektro Encephalografhy, perekaman arus llistrik otak) normal&lt;br /&gt; Frekuensi bangkiitan kejang tidak lebih dari 4x setahun.&lt;br /&gt;e. Penalaksanaan Medik&lt;br /&gt;Dalam penanggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu dikerjakan yaitu:&lt;br /&gt;Pemberantasan kejang secepat mungkin&lt;br /&gt;Pemberantasan kejang di Sub bagian syaraf anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Segera berikan diazepam intravena dosis rata-rata 0,3 mg/kg atau diazepam g rectal dosis kurang lebih 10 kg : 5 mg, bila kejang tidak berhenti maka tunggu 15 menit dapat diulang dengan cara/dosis yang sama sehingga kejang berhenti.&lt;br /&gt;2. bila diazepam tidak tersedia, langsung memakai fenobarbital dengan dosis awal:&lt;br /&gt;Neonatus : 30 mg I.M&lt;br /&gt;1 bulan – 1 tahun : 50 mg I.M&lt;br /&gt;&gt; 1 tahun : 75 mg I.M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan&lt;br /&gt;1. Pengobatan fase akut&lt;br /&gt;Pada waktu penderita sedang kejang, lepaskan semua pakaian yang ketat,&lt;br /&gt;Miringkan pasien untuk mencegah aspirasi (masuknya cairan / maakanan kedalam saluran nafas ), dan usahakanlah jalan napas bebas supaya oksigenasi lancar. Kompres es atau air untuk menurungkan suhu tubuh yang tinggi. Diberikan obat penurun panas asetilsalisilat atau asetominofen. Untuk mengatasi kejang dokter akan memberikan diazepam intra rektal (ddimasukkan dalam dubur )&lt;br /&gt;2. Mencari dan mengobati penyebab&lt;br /&gt;Pemeriksaan cairan otak melalui lumbal punksi ( mengambil dengan cairan jarum melalui celah tulang belakang ) dilakukan pada bayi di bawah 6 bulan untuk mengetahui kemungkinan infeksi diotak yang disebutkan meningitis atau encheaplitis.&lt;br /&gt;3. Mencegah terulangnya kejang&lt;br /&gt;Orang tua atau pengasuhperlu cepat mengetahui bila anak menderita&lt;br /&gt;demam. Obat yang baik untuk mencega kejang demam adalah diazepam intrarektal. Diberikan tiap 12 jam pada penderita demam dengan suhu 38,5C atau atau lebih. Dosis diazepam diberikan 5 mg untuk anak kurang dari 3 tahun dan 7.5 mg untuk anak lebih dari 3 tahun, atau dapat diberikan diazepam oral dengan dosis 0,5 mg/kgBB pada waktu penderita demam(ber dasarkan resep dokter). Pengobatan diazepam rektal dapat juga diberikan oleh oramg tua atau penngasu waktu kejang.&lt;br /&gt;4.Pencegahan jangka panjang dengan anti konvulsan tiap hari&lt;br /&gt;Ini diberikan pada penderita yang memperlihatkan gejala seperti berikut:&lt;br /&gt;a. Sebelum kejang demam penderita sudah ada kelainan neurologis atau per&lt;br /&gt;kembangan.&lt;br /&gt;b. Kejang demam lebih dari 15 menit, fokal diikuti oleh kelainan neurologis sementara atau menetap&lt;br /&gt;c. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung&lt;br /&gt;d. kejang demam pada bayi di bawah 12 bulan atau kejang multipel pada satu episode demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. PROSES KEPERAWATAN&lt;br /&gt;a. Pengkajian&lt;br /&gt;Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan menganalisa, sehingga dapat diketahui kebutuhan pasien tersebut. Langkah – langkah dalam pengkajian meliputi pengumpulan data, analisa dan sintesa data serta perumusan diagnosa keperawatan. Pengumpulan data akan menentukan kebutuhan dan masalah kesehatan atau keperawatan yang .meliputi kebutuhan fisik, psikososial dan lingkungan pasien. Sumber data didapatkan dari pasien, keluarga, teman, team kesehatan lain, catatan pasien dan hasil pemeriksaan laboratoruium.&lt;br /&gt;Metode pengumpulan data melalui :&lt;br /&gt; Obserpasi yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi.&lt;br /&gt; Wawancara yaitu pengumpulan data yang berupa percakapan untuk memperoleh data yang akurat&lt;br /&gt; Catatan yaitu berupa catatan klinik, dokumen baru maupun yang lama&lt;br /&gt; Literatur yaitu mencakup semua meteri, buku-buku, majalah dan surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat, dan pasti tentang masalah pasien / klien serta penyebabnya yang dapat dipecahkan atau diubah melalui tindakan keperawatan.&lt;br /&gt;Diagnosa keperawatan yang muncul adalah&lt;br /&gt;• Potensial terjadinya kejang ulang berhubungan dengan hipertermi&lt;br /&gt;• Potensial terjadinya trauma fisik berhubungan dengan kurangnya koordinasi otot&lt;br /&gt;• Gangguan rasa nyaman mberhubungan dengan hipertermi yang ,ditandai :&lt;br /&gt;1. Suhu meningkat&lt;br /&gt;2. Anak tampak rewel&lt;br /&gt;• Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan keterbatasan informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.Intervensi&lt;br /&gt;Intervensi adalah keputusan awal tentang apa yang akan dilakukan, bagaimana , kapan dilakaukan, dan siapa yang akan melakukan kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa keperaawatan :Potensial terjadi kejang ulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;1. longgarkan pakaian, berikan pakaian yang tipis, yang mudah menyerap keringat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berikan kompres dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berikan ekstra cairan (susu, nsari buah dan lain-lain)&lt;br /&gt;4. Okserfasi kejang dan TTV tiap 4 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Batasi aktifitas selama anak demam 1. Proses konveksi akan terhalang oleh pakaian yang ketat dan tidak menyerap keringat&lt;br /&gt;2. Perpindahan panas secara konduksi&lt;br /&gt;3. Saat demam kebutuhan cairan meningkat&lt;br /&gt;4. Pemantauan yang teratur dapat menentukan tindakan yang akan dilakukan&lt;br /&gt;5. Aktifitas dapat men ingkatkan metabolisme dan meningkatkan suhu tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa Keperawatan : Potensial terjadinya trauma fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;1. Berikan tongue spatel diantara gigi atas dan bawah&lt;br /&gt;2. Letakkan klien ditempat yang lembut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Catat tipe kejang (lokasi, lama) dan frekuensi kejang&lt;br /&gt;4. Catat TTV sesuda pasien kejang 1. Menurunkan resiko trauma pada mulut&lt;br /&gt;2. Membantu menurunkan resiko injuri fusuk pada ekstimitas kstika kontrol otot pulunter berkurang&lt;br /&gt;3. Membantu menurunkan lokasi area serebral yang terganggun&lt;br /&gt;4. Mendeteksi secara dini keadaan yang abnormal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa Keperawatan : Gangguan rasa nyaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERFENSI RASIONAL&lt;br /&gt;1. Kaji faktor-faktor terjadinya hipertermi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Obsvasi TTV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pertahankan suhu tubuh normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ajarkan kepada keluarga memberikan kompres dingin pada kepala/ ketiak 1. Mengetahui penyebab terjadinya hipertermi pada penambahan pakaian/ selimut dapat menghambat penurunan suhu tubuh&lt;br /&gt;2. Pemantauan TTV yang teratur dapat menentukan perkembangan keperawatan yang selanjutnya&lt;br /&gt;3. Suhu tubuh dapat dipengaruhi pada tingkat aktivitas, suhu lingkungan, kelembaban tinggi akan mempengaruhi panas atau dinginya tubuh&lt;br /&gt;4. Proses konduksi/perpindahan panas dengan satu bahan perantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Evaluasi&lt;br /&gt;Tahap evaluasi dalam tahap proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subjektif dan objektif yang telah ditetapkan yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langka evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO. Dianosa Evaluasi&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Potensial kejang berulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensial terjadi trauma fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan rasa nyaman Klien tidak mengalami kejang selama 2x24 jam&lt;br /&gt;Kriteris:&lt;br /&gt;- Tidak terjadi serangan ulang&lt;br /&gt;- Suhu :36-37 C&lt;br /&gt;- N : 100-110x/menit&lt;br /&gt;- Kesadaran : Composmentis&lt;br /&gt;-Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.&lt;br /&gt;Kriteria :&lt;br /&gt;- Tidak terjadi trauma fisik selama kejang&lt;br /&gt;- Mempertahankan tindakan yang mengontrol aktivitas kejang&lt;br /&gt;-Mengidenntivikasi tindakan yang harus diberikan tindakanketika terjadi kejang&lt;br /&gt;Rasa nyaman terpenuhi&lt;br /&gt;Kriteria :&lt;br /&gt;- TTV&lt;br /&gt;- Suhu : 36-37 C&lt;br /&gt;- N : 100-110x/ menit&lt;br /&gt;- RR : 24-28x/ menit&lt;br /&gt;- kesadar : Composmentis&lt;br /&gt;- Anak tidak rewel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;TINJAUAN KASUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengkajian&lt;br /&gt;a. Identitas Klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : An ‘A’&lt;br /&gt;Umur : 10 tahun&lt;br /&gt;Jenis kelamin : Laki-laki&lt;br /&gt;Pendidikan : SD&lt;br /&gt;Alamat : Jl.Tupai Makassar&lt;br /&gt;Status : Belum kawin&lt;br /&gt;Agama : Islam&lt;br /&gt;Suku / bangsa : Makassar / Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Riwayat keluhan&lt;br /&gt;Klien masuk rumah sakit Labuang Baji pada tanggal 27 November 2008 dengan keluhan demam yang disertai dengan kejang. Keluhan ini dirasakan secara terus menerus. Hal-hal yang meringankan apabila klien dikompres dengan air dingin dan minum obat antipiretik seperti paracetamol dan hal-hal yang memperberat apabila klien banyak bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Analisa Data&lt;br /&gt;1.Data Subjektif&lt;br /&gt;-Orang tua klien mengatakan anaknya demam&lt;br /&gt;-Orang tua klien mengatakan anaknya rewel&lt;br /&gt;-Orang tua klien mengatakan anaknya susah tidur&lt;br /&gt;-Klien tampak cemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Data Objektif&lt;br /&gt;-Klien tampak gelisah&lt;br /&gt;- Klien tampak lemas&lt;br /&gt;- TTV : N : 80x/i&lt;br /&gt;S : 38 C&lt;br /&gt;P : 24x/i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengkajian Fisik&lt;br /&gt;a. Kepala&lt;br /&gt;Inspeksi : - Warna rambut hitam dan tidak mudah rontok&lt;br /&gt;- Pertumbuhan dan penyebaran rambut merata&lt;br /&gt;Palpasi : - Tidak ada nyeri tekan&lt;br /&gt;- Tidak teraba adanya massa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Muka&lt;br /&gt;Inspeksi : -Wajah tampak simetris kiri dan kanan&lt;br /&gt;- Bentuk wajah oval&lt;br /&gt;Palpasi : - Tidak teraba adanya massa&lt;br /&gt;: - Tidak ada nyeri tekan&lt;br /&gt;c. Mata&lt;br /&gt;Inspeksi : - Pupil bermidriasis&lt;br /&gt;- Penglihatan tajam&lt;br /&gt;- Sklera tidak ikterus&lt;br /&gt;- konjungtifa tampak anemis&lt;br /&gt;Palpasi : -Tidak teraba nyeri tekan&lt;br /&gt;d.Hidung&lt;br /&gt;Inspeksi : - Septum hidung simetris kiri dan kanan&lt;br /&gt;- Kemampuan penciuman baik&lt;br /&gt;- Tidak tampak adanya peradangan&lt;br /&gt;Palpasi : -Tidak ada nyeri tekan&lt;br /&gt;: - Tidak teraba adanya nyeri tekan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Telinga&lt;br /&gt;Inspeksi : - Telinga simetris kiri dan kanan&lt;br /&gt;: - Tidak ada tanda-tanda infeksi&lt;br /&gt;Palpasi : - Tidak ada nyeri tekan&lt;br /&gt;: - Tidak teraba adanya massa&lt;br /&gt;f. Mulut :&lt;br /&gt;Inspeksi : - Lidah tampak kotor&lt;br /&gt;- Gigi tampak kotor&lt;br /&gt;Palpasi : - Tidak teraba adanya nyeri takan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Tenggorokan&lt;br /&gt;Inspeksi : tidak tampak ada tanda-tanda infeksi faring&lt;br /&gt;Tidak tampak ada tanda-tanda peradangan tonsil&lt;br /&gt;Palpasi : tidak adanya nyeri tekan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Leher&lt;br /&gt;Inspeksi : Tidak tampak adanya kaku kuduk&lt;br /&gt;Tidak tampak adanya pembesaran tiroid&lt;br /&gt;Tidak tampak adanya pembesaran Vena Jungularis&lt;br /&gt;Palpasi : Tidak teraba adanya nyeri tekan&lt;br /&gt;Tidak teraba adanya massa&lt;br /&gt;i.Toraks&lt;br /&gt;Inspeksi : - Bentuk dada normochast&lt;br /&gt;- Bunyi napas reguler&lt;br /&gt;Palpasi : - tidak teraba adanya nyeri tekan&lt;br /&gt;- Tidak teraba adanya massa&lt;br /&gt;Perkusi : - bunyi sonor pada seluruh lapang paru&lt;br /&gt;Auskultasi: - Bunyi napas vesikuler&lt;br /&gt;- tidak ada bunyi tambahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. Jantung&lt;br /&gt;Inspeksi : - Iktuskordis tidak tampak&lt;br /&gt;Palpasi : - Tidak teraba nyeri tekan&lt;br /&gt;- Tidak teraba adanya massa&lt;br /&gt;Perkusi : - Bunyi pekak pada jantung&lt;br /&gt;Auskultasi: - Bunyi jantung terdengar murni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. Abdomen&lt;br /&gt;Inspeksi: - Warna kulit sawo matang&lt;br /&gt;- Peristaltik usus 15x/i&lt;br /&gt;- Tidak tampak adanya pembesaran hepar&lt;br /&gt;Palpasi : - Tidak teraba adanya nyeri tekan&lt;br /&gt;- Tidak teraba adanya massa&lt;br /&gt;Perkusi : - Bunyi timpani pada abdomen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l. Ekstremitas&lt;br /&gt;Atas : Tidak terdapat atropi dan hipertropi otot&lt;br /&gt;Refleks trisep (+)&lt;br /&gt;Refleks Bisep (+)&lt;br /&gt;Bawah : Mobilitas baik&lt;br /&gt;Refleks Fisiologis: Patella (+)&lt;br /&gt;Archles (+)&lt;br /&gt;Refleks Patologis Babinsky (+)&lt;br /&gt;Suhu pada daerah akral 38 C&lt;br /&gt;m. Genetalia&lt;br /&gt;Tidak di kaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;1. Darah&lt;br /&gt;Glukosa darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N &lt; 200 mq/dl) BUN : Peningkatan BUN mempunyai potensi yang kejang merupakan indikasi netro toksik akibat dari pemberian obat. Elektrolit : K,Na Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang Kalium (N 3,80–5,00 meq/dl) Natrium (N135-144 meq/dl) 2. Cairan serebro spinal: mendeteksi tekanan darahabnormal dari CCS tanda infekai, pendarahan penyebab kejang. 3. skull Ray : untuk mengindentifikasi adanya proses desak ruang dan adannya lesi. 4. Transiluminasi : Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan UUB masih terbuka (dibawah 2 tahun. 5. CT scan : Untuk mengidentifikasi lesi serebral infaik hematoma, serebral oedem, tauma abses, tumor dengan atau tanpa kontraks. C. Diagnosa Keperawatan Potensial terjadinya kejang berulang b/d hipertermi. D. Prinsip-prinsip Tindakan dan Rasional a. Resiko tinggi terhadap peningkatan suhu tubuh a) Mengukur suhu melalui axilla (a) Persiapan alat - Termometer - Kapas alkohol - Alat tulis - Jam tangan (b) Persiapan pasien Pasien diberi tahu tentang hal-hal yang akan dilakukan. (c) Persiapan perawat - Mencuci tangan (d) Prosedur kerja  termometer didesinfeksi dengan menggunakan kapas alkohol  Air raksa termometer diturunkan dengan cara mengiba ngibaskan sampai batas normal (350 C)  Termometer diletakkan didaerah axilla klien dengan cara dijepit  Tunggu hasilnya 10 – 15 menit  Ambil termometer dan perhatikan angka air raksa dengan jelas  kemudian hasil dicatat  Termometer didesinfeksi dengan kapas alkohol  Alat dibereskan dan klien dirapikan kembali. (e) Tujuan tindakan dilakukan - Memantau ada tidaknya perubahan suhu tubuh - untuk mendapatkan suhu tubuh yang normal - Memudahkan perawat untuk melakukan intervensi selanjutnya (f) Bahaya-bahaya yang mungkin terjadi akibat tindakan tersebut - Letak termometer axilla yang tidak tepat dapat mengakibatkan hasil yang tidak akurat. (g) Hasil dan maknanya - Mengetahui adanya peningkatan dan penurunan suhu tubuh BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Setelah penulis membahas secara teori dan membaca serta memahami apa yang diuraikan dalam makalah ini maka kelompok mencoba menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. setelah kelompok melaksanakan pengkajian kelompok kami mendapatkan keluhan demam dan kejang 2. Setelah kelompok merumuskan diagnosa keperawatan maka tindakan yang akan diambil yaitu mengukur suhu tubuh 3. Berdasarkan tinjauan kasus pada klien yang mengalami gangguan sistem persyarafan ’kejang demam’ maka kelompok kami mengangkat sebuah diagnosa yaitu : • Potensi terjadinya kejang berulang b/d hipertermi B. Saran 1. Institusi Tugas ini kiranya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan dan masukan bagi berbagai pihak. 2. Orang tua Kepada orang tua agar senantiasa menperhatikan kesehatan anaknya. 3. Penulis Proses penyusunan makalah ini menambah pengetahuan dan pola fikir kami agar senantiasa mampu berbuat lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Dr. Niko A. Lumenta, 2004. Kenali Jenis Penyakit Dan Penyumbuhan.Sinar Harapan: Jakarta. http://daydrop.multiply.com/reviews/item/6. http://Keluarga sehat.wordpress.com/2008/10/20/Kejang-demam. http://www. Sehat group. Web/id/artikel/1089.asuhan keperawatan.FNM-1089.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-723805351836945086?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/723805351836945086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/makalah-penyakit-kejang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/723805351836945086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/723805351836945086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/makalah-penyakit-kejang.html' title='MAKALAH PENYAKIT KEJANG'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-1941447803183781555</id><published>2008-12-31T07:41:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T05:50:39.074-08:00</updated><title type='text'>Bicara Hati</title><content type='html'>Bicara Hati&lt;br /&gt;aku selalu ingin menyimpan luka ini&lt;br /&gt;memendamnya dalam kendi lalu kusembunyikan dalam lumpur&lt;br /&gt;biar kuhias dengan senyuman tawar&lt;br /&gt;dan biarkan bayang senja tertegun mengejekku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak pernah bisa mengatakan apa yang kurasa&lt;br /&gt;pun tak tahu apa yang sesungguhnya ada di hatiku&lt;br /&gt;karena menatapmu, melihat senyummu, membuat aku ingin menggenggam dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak ingin berharap apapun darimu&lt;br /&gt;biarkan saja asa yang ada mengalir dari gunung&lt;br /&gt;lalu berhenti pada muara penantian yang tak sempurna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 51);"&gt;&lt;br /&gt;aku akan melihat dari ujung dermaga&lt;br /&gt;dan melepas asa ini dalam airmata&lt;br /&gt;akan kubiarkan hujan membunuh huruf huruf yang terluka&lt;br /&gt;dan izinkan hatiku untuk membalut perihnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan pada akhirnya aku akan menaiki rakit bidadari&lt;br /&gt;bersamanya kudekap sesak yang menghimpit di ujung kalbu&lt;br /&gt;karena walau hanya sedikit yang ku mau&lt;br /&gt;ku ingin lepas dari bayangmu...............&lt;br /&gt;Diposkan oleh pudja di 00:57 0 komentar Link ke posting ini&lt;br /&gt;di sudut duka&lt;br /&gt;aku berpijak pada pecahan kaca...........&lt;br /&gt;mematung, memandang lukisan di sudut duka&lt;br /&gt;ada yang terasa mengalir di antara perih lukaku&lt;br /&gt;membuat aku gemetar dalam hangat senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;risalah tak berpihak padaku&lt;br /&gt;pun tak sudi sekedar memayungiku dari gerimis petang ini&lt;br /&gt;titis titis air menghunjamku, menenggelamkan dalam pusaran waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku berpaling pada melati di sudut taman&lt;br /&gt;bergoyang seirama angin yang berhembus pelan&lt;br /&gt;tetap tenang, meski kelopaknya gugur satu persatu&lt;br /&gt;membuatku tersedu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini pilihan yang tak selalu indah&lt;br /&gt;saat harus bertarung pada nurani dan kenyataan&lt;br /&gt;duka siapa di sudut itu?&lt;br /&gt;mungkin hanya ilalang yang tahu.............&lt;br /&gt;Diposkan oleh pudja di 00:48 0 komentar Link ke posting ini&lt;br /&gt;Sabtu, 2007 Desember 29&lt;br /&gt;satu cerita dalam hati&lt;br /&gt;Aku ingin menggambarkan suasana dalam pasir pasir pantai&lt;br /&gt;Melukis wajahmu dengan segenap rasa yang kupunya&lt;br /&gt;Ingin kutumpahkan tangis jadi bingkai untuk lukisan bebatuan&lt;br /&gt;Biar karang yang menyeka luka itu jadi senyuman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh yang kutahu dan kuyakini&lt;br /&gt;Terlalu berat menafsirkan arti semuanya&lt;br /&gt;Pada jejak jejak luka yang berusaha kusulam menjadi aliran darah&lt;br /&gt;Tetap sama :menawarkan duka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada saat aku ingin mengakhiri segalanya&lt;br /&gt;Mengapa datang membawa seribu puisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-1941447803183781555?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/1941447803183781555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/bicara-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/1941447803183781555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/1941447803183781555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/bicara-hati.html' title='Bicara Hati'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-3355256477243174643</id><published>2008-12-28T20:18:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T05:59:37.481-08:00</updated><title type='text'>AKPER + Makalah Biologi</title><content type='html'>Bagi kebanyakan dari kita, ketika mendengar kata evolusi, kita langsung teringat akan Teori Darwin. Bagaimanapun, jangan lupa bahwa Teori Darwin hanya suatu teori dan tidak lebih. Yang lebih, bahwa banyak orang-orang sudah menerima nya sebhref="file://&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;EVOLUSI MODERN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:Cambria;  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="Picture_x0020_1" spid="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Image/3-1a.jpg" style="'width:281.25pt;height:351pt;visibility:visible'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Admin\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.jpg" title="3-1a"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;agai fakta hidup. Tetapi evolusi versi ini menjelaskan bahwa pada awalnya tidak ada kehidupan, karena "kesempatan" mahluk hidup primitif hidup didalam semacam sup purba (primordial soup). Dari bentuk kehidupan tersebut beberapa jenis kehidupan lainnya muncul dan secara berangsur-angsur berkembang semakin banyak melalui variasi acak dan pemilihan secara alami.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Walaupun banyak orang yang menerima hipotesa itu, para ilmuwan masih berusaha untuk mengumpulkan bukti untuk membuktikan apa yang mereka klaim.Tetapi sampai saat ini, tak seorangpun telah melihat kehidupan atau kesadaran secara sepontan dihasilkan dari suatu kombinasi unsure unsur kimia yang tak berdaya.Jika seseorang bertanya dari mana planet datang berserta semua unsure unsure kimianya yang ditemukan didalam sup purba yang memunculkan kehidupan; dan kemudian muncul lagi hypotesa yang lain yaitu teori ledakan dahsyat (big bang). Teori ini memperkenalkan gagasan yang menyatakan pada mulanya semua hal terpusatkan ke dalam satu titik yang kepadatannya tanpa batas dan temperatur yang tinggi sehingga terjadi ledakan yang dahsyat, sehingga tercipta partikel-partikel subatomic, kemudian atom, bintang, planet, dan lain lainnya. Ini nampaknya sangat masuk akal, tetapi ada suatu masalah dengan gagasan ini .Pada tatanan dasar mathematika situasi seperti itu disebut suatu "keistimewaan" atau dengan kata lain, ketidakmungkinan Ada banyak permasalahan dengan teori evolusi dan ledakan dahsyat (big bang), dimana makin banyak ilmuwan menjadi sadar siapa yang siap mengakui secara sunguh sungguh teori seperti itu.. Sebagai contoh, didalam pengembangbiakan buah-buahan, bunga atau serangga; peneliti menemukan keterbatasan didalam tingkat perubahan yang anda dapat hasilkan pada species. Sekali species dibiarkan berkembang biak seperti biasanya yang tidak diseleksi alam, dia akan kembali kebentuk standarnya. Ini nampaknya menunjukkan adanya karakteristik antievolusi, yang berarti memungkinkan terjadinya sedikit perubahan dalam bentuk yang ada Sebenarnya, dalam " The Origin of Speices," Darwin sendiri mengaku kesulitan didalam menerima sepenuhnya teori miliknya dalam setip kasus. Ia katakan, "Untuk mengambil contoh mata, yang bagian bagiannya tidak dapat ditiru misalnya menyesuaikan focus ke jarak yang berbeda, untuk menerima sejumlah cahaya yang berbeda, dan untuk mengoreksi bentuk bola dan penyimpangan kromatik; yang mungkin telah dibentuk oleh pilihan alam, nampaknya, aku dengan sukarela mengaku, kemustahilan yang tinggi."&lt;br /&gt;Mr. Goldsmith, tercatat sebagai seorang ahli biologi, juga tiba pada kesimpulan yang sama dalam kasus mata itu. Dengan mengambil suatu bagian dari mata, seperti retina, mata tidak akan berfungsi sama sekali. Dengan begitu keseluruhan mata telah diciptakan secara serempak untuk menjadi sebuah mata yang berfungi. Ditambah lagi disitu harus ada satu jalan untuk menghubungkannya dengan otak agar semuanya berjalan dengan baik. Mr. Goldsmith berkata bahwa ada sebanyak tujuhbelas organ seperti itu di dalam badan yang tidak bisa diterangkan oleh teori evolusi.&lt;br /&gt;Adalah menarik untuk dicatat bahwa Russel Wallace, seorang peneliti alam dari Inggris dan merupakan teman dari Charles Darwin, juga menyampaikan suatu teori evolusi yang mandiri tetapi yang tidak memasukkan roh manusia dalam proses evolusiner itu. Ia menyimpulkan bahwa kesadaran manusia adalah suatu ciptaan khusus yang tidk bisa diuraikan melalui teori evolusi biologi.Ada ilmuwan lain yang juga mengatakan teori evolusi sebagai tidak dapat dipercaya. Dengan mempertimbangkan semua itu, menurut kebanyakan ilmuwan, umur bumi adalah sekitar 4 - 5 milyar tahun usianya, ini berarti bahwa evolusi mustahil terjadi. Ini belum termasuk waktu yang diperlukan untuk berjuta-juta mutasi dan perubahan yang diperlukan untuk berevolusi menghasilkan mahluk hidup yang lebih kompleks seperti manusia. Di sini kita dapat lihat bahwa teori evolusi dan ledakan dahsyat (big bang) berada pada posisi yang sangat goyah, dan sangat mungkin hanya mencoba untuk menjelaskan alam semesta dengan cara mekanistis. Sudut pandang seperti itu mendukung bahwa tidak ada Tuhan atau perancang ciptaan dan semua itu bekerja secara sederhana seperti mesin. Dengan cara ini dunia dan manusia tidak lebih daripada hasil sampingan dari mesin yang bekerja menurut hukum fisik. Jika demikian halnya, kemudian melalu ilmu pengetahuan kita dapat secepatnya belajar bagaimana cara mengendalikan dan menggerakkan alam semesta ini dengan cara apapun yang kita inginkan.&lt;br /&gt;www.madina-sk.com/index.php?option=com_docman&amp;amp;task=doc_view&amp;amp;gid=824&lt;br /&gt;Senin,22 Desember 2008,&lt;br /&gt;Pukul 18.00 Wita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;EVOLUSI MASA DEPAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NEW YORK – Saat Charles Darwin menyampaikan kesimpulan penelitiannya tentang asal-usul perilaku manusia dalam sejarah spesies mamalia pada tahun 1859, ia berhasil mengejutkan dunia. Terutama bagi kalangan yang mempercayai manusia pertama berasal dari Adam dan Eva.&lt;br /&gt;Dalam buku On the Origin of Species (1859) yang sangat monumental, Darwin sampai pada kesimpulan radikal bahwa emosi paling dalam manusia berakar pada evolusi organisasi sosial primata. Darwin juga berpendapat bahwa sesungguhnya manusia masih satu keturunan dengan binatang, mulai dari tawon hingga kera.&lt;br /&gt;Sampai sekarang, perdebatan mengenai teori evolusi Darwin terus berlanjut. Sikap para ilmuwan terbelah dua, antara yang setuju dan tidak. Menariknya, saat perdebatan evolusi belum usai, seorang profesor biologi dari University of Rochester, New York justru menyodorkan konsep baru tentang prediksi evolusi. Jadi, jika mempelajari evolusi masa lalu menjadi terlalu rumit -karena kita tidak hidup pada jaman itu- maka sebaiknya penelitian evolusi diarahkan ke masa depan.&lt;br /&gt;Penelitian ”gila” ini dilakukan Barry G. Hall dengan memantau perkembangan bakteri. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Genetics edisi Maret 2002 ini menunjukkan bahwa model evolusi bakteri yang dikembangkan dalam laboratorium memiliki kecocokan dengan evolusi yang terjadi di alam. Model tersebut dinilai akurat sehingga dapat digunakan memprediksi bagaimana keturunan bakteri akan kebal terhadap antibiotik.&lt;br /&gt;Hall memiliki contoh gen kebal antibiotik yang muncul 40 tahun lampau. ”Kami tahu bagaimana gen ini berkembang di alam selama 40 tahun lalu, jadi jika kami menerapkan model ini ke gen tersebut dan model memprediksikan hasil evolusi yang sama ketika terjadi di alam, kami percaya bahwa model ini berhasil.”&lt;br /&gt;Menurut Anthony M. Dean, dosen bioteknologi di University of Minnesota, eksperimen terbaru Hall meletakkan pondasi konseptual untuk memahami evolusi fungsional enzim. Hall tak hanya mampu memprediksikan hasil evolusi adaptif, tapi juga membuktikan bahwa seleksi alam bisa dipelajari di laboratorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Lambat&lt;br /&gt;Evolusi merupakan proses yang sangat lambat. Biasanya mutasi dalam kode genetik organisme akan mengubah fungsi organisme menjadi lebih buruk, tapi kadang-kadang lebih baik. Organisme hasil mutasi ini yang kemudian tumbuh lebih baik dibanding ”saudaranya”. Jadi, saat ”saudaranya” meninggal, ia masih tetap survive.&lt;br /&gt;Contoh klasik adalah lepasnya gen yang mengizinkan bakteri E. coli mencerna laktosa. Namun dari jutaan bakteri dalam satu koloni, hanya beberapa yang mengulang kembali proses pencernaan ini dan akhirnya survive.&lt;br /&gt;Tiga puluh tahun lalu, Hall menumbuhkaan E. coli dalam laboratoriumnya, mencoba menemukan bakteri yang memiliki mutasi cukup signifikan tersebut untuk mempelajari bagaimana mereka bisa bersaing dengan ”saudaranya”.&lt;br /&gt;Karena proses evolusi di alam terjadi dengan lambat, para ilmuwan berusaha mempercepatnya lewat bantuan dan satu sampai dua gen dan melakukan mutasi dalam tabung laboratorium.&lt;br /&gt;Hasilnya, mutasi yang muncul di alam juga ditemukan dalam laboratorium. Persoalannya apakah akan selalu demikian? Hall sadar bahwa ia melakukan ”potong kompas” dengan mempercepat proses mutasi tersebut di laboratorium. Karena itu, ia ingin membuktikan apakah proses akselerasi ini menirukan secara akurat mutasi yang muncul di alam.&lt;br /&gt;Jika ia dapat memutasi gen resisten antibiotik yang berusia 40 tahun, disebut TEM-1, dalam laboratorium dan mencocokkan mutasinya dengan mutasi alam, maka ia dapat melihat apakah model ini cukup akurat memprediksi perkembangan gen di alam. Hasilnya terbukti cocok. Dengan demikian, perdebatan antar ilmuwan tentang teori evolusi harusnya bisa dihentikan. Karena jika mereka sulit membuktikan evolusi di masa lampau, setidaknya mereka bisa memprediksi evolusi di masa depan. Kira-kira ”makhluk” jenis apa yang akan diturunkan manusia kelak. (san)&lt;br /&gt;     Situs : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0203/25/ipt02.html&lt;br /&gt;Senin, 22 Desember 2008&lt;br /&gt;Pukul 18.00 Wita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;PANDANAGAN EVOLUSI DARWIN DENGAN SITUASI SEKARANG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di jaman ini, sejumlah kalangan berpandangan bahwa teori evolusi yang dirumuskan oleh Charles Darwin tidaklah bertentangan dengan agama. Ada juga yang sebenarnya tidak meyakini teori evolusi tersebut akan tetapi masih juga ikut andil dalam mengajarkan dan menyebarluaskannya. Hal ini tidak akan terjadi seandainya mereka benar-benar memahami teori tersebut. Ini adalah akibat ketidakmampuan dalam memahami dogma utama Darwinisme, termasuk pandangan paling berbahaya dari teori tersebut yang diindoktrinasikan kepada masyarakat. Oleh karenanya, bagi mereka yang beriman akan adanya Allah sebagai satu-satunya Pencipta makhluk hidup, namun pada saat yang sama berpandangan bahwa "Allah menciptakan beragam makhluk hidup melalui proses evolusi," hendaklah mempelajari kembali dogma dasar teori tersebut. Tulisan ini ditujukan kepada mereka yang mengaku beriman akan tetapi salah dalam memahami teori evolusi. Di sini diuraikan sejumlah penjelasan ilmiah dan logis yang penting yang menunjukkan mengapa teori evolusi tidak sesuai dengan Islam dan fakta adanya penciptaan.&lt;br /&gt;Dogma dasar Darwinisme menyatakan bahwa makhluk hidup muncul menjadi ada dengan sendirinya secara spontan sebagai akibat peristiwa kebetulan. Pandangan ini sama sekali bertentangan dengan keyakinan terhadap adanya penciptaan alam oleh Allah.&lt;br /&gt;Kesalahan terbesar dari mereka yang meyakini bahwa teori evolusi tidak bertentangan dengan fakta penciptaan adalah anggapan bahwa teori evolusi adalah sekedar pernyataan bahwa makhluk hidup muncul menjadi ada melalui proses evolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Oleh karenanya, mereka mengatakan: "Bukankah tidak ada salahnya jika Allah menciptakan semua makhluk hidup melalui proses evolusi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain; apa salahnya menolak hal ini?" Akan tetapi, sebenarnya terdapat hal yang sangat mendasar yang telah diabaikan: perbedaan mendasar antara para pendukung evolusi (=evolusionis) dan pendukung penciptaan (=kreasionis) bukanlah terletak pada pertanyaan apakah "makhluk hidup muncul masing-masing secara terpisah atau melalui proses evolusi dari bentuk satu ke bentuk yang lain. Pertanyaan yang pokok adalah "apakah makhluk hidup muncul menjadi ada dengan sendirinya secara kebetulan akibat rentetan peristiwa alam, atau apakah makhluk hidup tersebut diciptakan secara sengaja?"&lt;br /&gt;Teori evolusi, sebagaimana yang diketahui, mengklaim bahwa senyawa-senyawa kimia inorganik dengan sendirinya datang bersama-sama pada suatu tempat dan waktu secara kebetulan dan sebagai akibat dari fenomena alam yang terjadi secara acak. Mula-mula senyawa-senyawa ini membentuk molekul pembentuk kehidupan, seterusnya terjadi rentetan peristiwa yang pada akhirnya membentuk kehidupan.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, pada intinya anggapan ini menerima waktu, materi tak hidup dan unsur kebetulan sebagai kekuatan yang memiliki daya cipta.&lt;br /&gt;Orang biasa yang sempat membaca dan mengerti literatur teori evolusi, paham bahwa inilah yang menjadi dasar klaim kaum evolusionis.&lt;br /&gt;Tidak mengherankan jika Pierre Paul Grassé, seorang ilmuwan evolusionis, mengakui evolusi sebagai teori yang tidak masuk akal. Dia mengatakan apa arti dari konsep "kebetulan" bagi para evolusionis:&lt;br /&gt;…'[Konsep] kebetulan' seolah telah menjadi sumber keyakinan [yang sangat dipercayai] di bawah kedok ateisme. Konsep yang tidak diberi nama ini secara diam-diam telah disembah.  (Pierre Paul Grassé, Evolution of Living Organisms, New York, Academic Press, 1977, p.107)&lt;br /&gt;Akan tetapi pernyataan bahwa kehidupan adalah produk samping yang terjadi secara kebetulan dari senyawa yang terbentuk melalui proses yang melibatkan waktu, materi dan peristiwa kebetulan, adalah pernyataan yang tidak masuk akal dan tidak dapat diterima oleh mereka yang beriman akan adanya Allah sebagai satu-satunya Pencipta seluruh makhluk hidup. Kaum mukmin sudah sepatutnya merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan masyarakat dari kepercayaan yang salah dan menyesatkan ini; serta mengingatkan akan bahayanya.&lt;br /&gt;Pernyataan tentang "adanya kebetulan" yang dikemukakan teori evolusi dibantah oleh ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;Fakta lain yang patut mendapat perhatian khusus dalam hal ini adalah bahwa berbagai penemuan ilmiah ternyata malah sama sekali bertentangan dengan klaim-klaim kaum evolusionis yang mengatakan bahwa "kehidupan muncul sebagai akibat dari serentetan peristiwa kebetulan dan fenomena alamiah." Ini dikarenakan dalam kehidupan terdapat banyak sekali contoh adanya rancangan (design) yang disengaja dengan bentuk yang sangat rumit dan telah sempurna. Bahkan sel pembentuk suatu makhluk hidup memiliki rancangan yang sangat menakjubkan yang dengan telak mematahkan konsep "kebetulan."   &lt;br /&gt;Perancangan dan perencanaan yang luar biasa dalam kehidupan ini sudah pasti merupakan tanda-tanda penciptaan Allah yang khas dan tak tertandingi, serta ilmu dan kekuasaan-Nya yang Tak Terhingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha para evolusionis untuk menjelaskan asal-usul kehidupan dengan menggunakan konsep kebetulan telah dibantah oleh ilmu pengetahuan abad 20. Bahkan kini, di abad 21, mereka telah mengalami kekalahan telak. (Silahkan baca buku Blunders of Evolutionists, karya Harun Yahya, terbitan Vural Publishing). Jadi, alasan mengapa mereka tetap saja menolak adanya penciptaan oleh Allah kendatipun telah melihat fakta ini adalah adanya keyakinan buta terhadap atheisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak menciptakan makhluk hidup melalui proses evolusi&lt;br /&gt;Oleh karena fakta yang menunjukkan adanya penciptaan atau rancangan yang disengaja pada kehidupan adalah nyata, satu-satunya pertanyaan yang masih tersisa adalah "melalui proses yang bagaimanakah makhluk hidup diciptakan." Di sinilah letak kesalahpamahaman yang terjadi di kalangan sejumlah kaum mukmin. Logika keliru yang mengatakan bahwa "Makhluk hidup mungkin saja diciptakan melalui proses evolusi dari satu bentuk ke bentuk lain" sebenarnya masih berkaitan dengan bagaimana proses terjadinya penciptaan makhluk hidup berlangsung.&lt;br /&gt;Sungguh, jika Allah menghendaki, Dia bisa saja menciptakan makhluk hidup melalui proses evolusi yang berawal dari sebuah ketiadaan sebagaimana pernyataan di atas. Dan oleh karena ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa makhluk hidup berevolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain, kita bisa mengatakan bahwa, "Allah menciptakan kehidupan melalui proses evolusi." Misalnya, jika terdapat bukti bahwa reptil berevolusi menjadi burung, maka dapat kita katakan,"Allah merubah reptil menjadi burung dengan perintah-Nya "Kun (Jadilah)!".&lt;br /&gt;Sehingga pada akhirnya kedua makhluk hidup ini masing-masing memililiki tubuh yang dipenuhi oleh contoh-contoh rancangan yang sempurna yang tidak dapat dijelaskan dengan konsep kebetulan. Perubahan rancangan ini dari satu bentuk ke bentuk yang lain - jika hal ini memang benar-benar terjadi - akan sudah barang tentu bukti lain yang menunjukkan penciptaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, yang terjadi ternyata bukan yang demikian. Bukti-bukti ilmiah (terutama catatan fosil dan anatomi perbandingan) justru menunjukkan hal yang sebaliknya: tidak dijumpai satu pun bukti di bumi yang menunjukkan proses evolusi pernah terjadi. Catatan fosil dengan jelas menunjukkan bahwa spesies makhluk hidup yang berbeda tidak muncul di muka bumi dengan cara saling berevolusi dari satu spesies ke spesies yang lain. Tidak ada perubahan bentuk sedikit demi sedikit dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang lain dalam jangka waktu yang lama. Sebaliknya, spesies makhluk hidup yang berbeda satu sama lain muncul secara serentak dan tiba-tiba dalam bentuknya yang telah sempurna tanpa didahului oleh nenek moyang yang mirip dengan bentuk-bentuk mereka. Burung bukanlah hasil evolusi dari reptil, dan ikan tidak berevolusi menjadi hewan darat. Tiap-tiap filum makhluk hidup diciptakan masing-masing secara terpisah dengan ciri-cirinya yang khas. Bahkan para evolusionis yang paling terkemuka sekalipun telah terpaksa menerima kenyataan tersebut dan mengakui bahwa hal ini membuktikan adanya fakta penciptaan. Misalnya, seorang ahli palaentologi yang juga seorang evolusionis, Mark Czarnecki mengaku sebagaimana berikut:&lt;br /&gt;Masalah utama yang menjadi kendala dalam pembuktian teori evolusi adalah catatan fosil; yakni sisa-sisa peninggalan spesies punah yang terawetkan dalam lapisan-lapisan geologis Bumi. Catatan [fosil] ini belum pernah menunjukkan bukti-bukti adanya bentuk-bentuk transisi antara yang diramalkan Darwin - sebaliknya spesies [makhluk hidup] muncul dan punah secara tiba-tiba, dan keanehan ini telah memperkuat argumentasi kreasionis [=mereka yang mendukung penciptaan] yang mengatakan bahwa tiap spesies diciptakan oleh Tuhan. (Mark Czarnecki, "The Revival of the Creationist Crusade", MacLean's, 19 Januari 1981, hal. 56)&lt;br /&gt;Khususnya selama lima puluh tahun terakhir, perkembangan di berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti palaentologi, mikrobiologi, genetika dan anatomi perbandingan, dan berbagai penemuan menunjukkan bahwa teori evolusi tidak lah benar. Sebaliknya makhluk hidup muncul di muka bumi secara tiba-tiba dalam bentuknya yang telah beraneka ragam dan sempurna. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Allah menggunakan proses evolusi dalam penciptaan. Allah telah menciptakan setiap makhluk hidup masing-masing secara khusus dan terpisah, dan pada saat yang sama, dengan perintah-Nya "Kun (Jadilah)!" Dan ini adalah sebuah fakta yang nyata dan pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Sungguh sangat penting bagi orang-orang yang beriman untuk senantiasa waspada dan berhati-hati terhadap sistem ideologi yang ditujukan untuk melawan Allah dan din-Nya. Selama 150 tahun, teori evolusi atau Darwinisme telah menjadi dalil serta landasan berpijak bagi semua ideologi anti agama yang telah menyebabkan tragedi bagi kemanusiaan seperti fasisme, komunisme dan imperialisme; serta melegitimasi berbagai tindak kedzaliman tak berperikemanusiaan oleh mereka yang mengadopsi berbagai filsafat ini. Oleh karenanya, tidak sepatutnya kenyataan dan tujuan yang sesungguhnya dari teori ini diabaikan begitu saja. Bagi setiap orang yang mengaku muslim, ia memiliki tanggung jawab utama dalam membuktikan kebohongan setiap ideologi anti agama yang menolak keberadaan Allah dengan perjuangan pemikiran dalam rangka menghancurkan kebatilan dan menyelamatkan masyarakat dari bahayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://us2.fmanager.net/api_v1/productDetail.php?dev-t=EDCRFV&amp;amp;objectId=4496&lt;br /&gt;Senin, 22 Desember 2008&lt;br /&gt;Pukul 18.00 Wita&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;EVOLUSI KIMIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Zat-zat yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari kebanyakan tidak dalam keadaan murni, melainkan bercampur dengan dua atau lebih zat lainnya. Seperti telah kamu pelajari di kelas VII, campuran suatu zat akan tetap mempertahankan sifat-sifat unsurnya. Oleh karena itu, suatu bahan kimia akan dipengaruhi oleh sifat, kegunaan, atau efek dari zat-zat yang menyusunnya. Kekuatan pengaruh sifat masing-masing zat bergantung pada kandungan zat dalam bahan yang bersangkutan. Banyak ragam bahan kimia yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pada bab ini hanya akan dibahas beberapa kelompok bahan kimia saja. Bahan kimia yang dimaksud, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;1. pembersih;&lt;br /&gt;2. pemutih pakaian;&lt;br /&gt;3. pewangi;&lt;br /&gt;4. pestisida;&lt;br /&gt;5. zat aditif makanan;&lt;br /&gt;6. zat adiktif; dan&lt;br /&gt;7. zat psikotropika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal berbagai bahan kimia pembersih, di antaranya sabun dan detergen, Sabun dan detergen dalam air dapat melepaskan sejenis ion yang memiliki bagian yang suka air (hidrofilik) sehingga dapat larut dalam air dan bagian yang tidak suka akan air (hidrofobik) sehingga larut dalam minyak atau lemak. Jika dalam pakaian yang dicuci dengan detergen terdapat kotoran lemak maka bagian ion yang bersifat hidrofobik masuk ke dalam butiran lemak atau minyak dan bagian ion tersebut yang bersifat hidrofilik akan mengarah ke pelarut air. Keadaan ini menyebabkan butiran-butiran minyak akan saling tolak-menolak karena menjadi bermuatan sejenis. Akibatnya, kotoran lemak atau minyak yang telah lepas dari pakaian tidak dapat saling bersatu lagi dan tetap berada dalam larutan. Sebagai ilustrasi dari penjelasan tersebut, Kita perlu hati-hati dalam memilih bahan pembersih, bahan tersebut jangan sampai menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap lingkungan. Beberapa jenis detergen sukar diuraikan oleh pengurai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pewangi merupakan bahan kimia lain yang erat kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Kita dapat memperoleh bahan pewangi dari bahan alam maupun sintetik. Bahan pewangi alami yang sudah kita kenal di antaranya diperoleh dari daun kayu putih, kulit kayu manis, batang kayu cendana, bunga kenanga, bunga melati, dan buah pala. Bahan pewangi sintetik biasanya dipakai dalam berbagai pewangi atau parfum dalam kemasan.&lt;br /&gt;Bahan kimia jenis pestisida erat sekali dengan kehidupan para petani. Pestisida dipakai untuk memberantas hama tanaman sehingga tidak mengganggu hasil produksi per-tanian. Pestisida meliputi semua jenis obat (zat/bahan kimia)&lt;br /&gt;Kimia sel&lt;br /&gt;•    Semua mahluk hidup terdiri dari sel-sel yaitu ruang-ruang kecil berdinding membran berisi cairan kimia pekat dalam pelarutan.&lt;br /&gt;•    Terdapat dua jenis sel, yaitu sel prokariot dan eukariot.&lt;br /&gt;•    Sel prokariot terdapat pada mikroorganisme sel tunggal yaitu tumbuhan dan hewan mikroorganisme, yaitu fungsi gangga, protozoa&lt;br /&gt;•    Istilah prokokariot dan eukariot diturunkan dari bahasa Yunani karyon yang berarti kacang, biji, atau inti. Prokariot berarti “pra inti,” dan eukariot berarti “inti yang terbentuk secara baik”. Pada prokariot, senyawa genetik ditempatkan di dalam suatu badan inti atau badan serupa inti yang tidak dikelilingi oleh membran. Eukariot, memiliki inti sel yang amat kompleks dan dikelilingi oleh selubung inti yang terdiri dari dua membrane.&lt;br /&gt;     KOMPOSISI KIMIA SEL&lt;br /&gt;•    AIR  Sekitar 70% dari total massa sel adalah air:&lt;br /&gt;•    ION ANORGANIK&lt;br /&gt;•      Na, K+, Mg2+, fosfat (HPO 4²¯), klorida (C1¯), bikarbonat (HCO3¯) sekitar  1% dari massa sel&lt;br /&gt;•    BIOMELEKUL&lt;br /&gt;•    Karbohidrat, lipid, protein dan asam nukleat&lt;br /&gt;MEMBRAN PLASMA&lt;br /&gt;•    Mmbran sel adalah sangat penting bagi kehidupan sel, bersifat dinamik dan fluid (cair)&lt;br /&gt;•    Fungsi membrain sel&lt;br /&gt;•    memisahkan bagian dalam sel dari lingkungan ekstrasekuler&lt;br /&gt;•    Membatasi komparmen internaldari sel-sel eukariotik, yang meliputi inti sel dan organel-organel sitoplasmik.&lt;br /&gt;•    Melekul lipid membran diatur sebagai suatu lapisan ganda kontinu, setebal 5 nm disebut lipid bilayer&lt;br /&gt;www.bearbookstore.com/Merchant2/merchant.mvc&lt;br /&gt;Senin, 22 Desember 2008&lt;br /&gt;Pukul 18.00 Wita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;EVOLUSI BIOLOGI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(TEORI MENDEL)&lt;br /&gt;EKSPERIMEN MENDEL&lt;br /&gt;Eksperimen Mendel dimulai saat dia berada di biara Brunn didorong oleh keingintahuannya tentang suatu ciri tumbuhan diturunkan dari induk keturunannya. Jika misteri ini dapat dipecahkan, petani dapat menanam hibrida dengan hasil yang lebih besar. Prosedur Mendel merupakan langkah yang cemerlang dibanding prosedur yang dilakukan waktu itu. Mendel sangat memperhitungkan aspek keturunan dan keturunan tersebut diteliti sebagai satu kelompok, bukan sejumlah keturunan yang istimewa. Dia juga memisahkan berbagai macam ciri dan meneliti satu jenis ciri saja pada waktu tertentu; tidak memusatkan perhatian pada tumbuhan sebagai keseluruhan.&lt;br /&gt;Dalam eksperimennya, Mendel memilih tumbuhan biasa, kacang polong, sedangkan para peneliti lain umumnya lebih suka meneliti tumbuhan langka. Dia mengidentifikasi tujuh ciri berbeda yang kemudian dia teliti:&lt;br /&gt;•    bentuk benih (bundar atau keriput),&lt;br /&gt;•    warna benih (kuning atau hijau),&lt;br /&gt;•    warna selaput luar (berwarna atau putih),&lt;br /&gt;•    bentuk kulit biji yang matang (licin atau bertulang),&lt;br /&gt;•    warna kulit biji yang belum matang (hijau atau kuning),&lt;br /&gt;•    letak bunga (tersebar atau hanya di ujung), dan&lt;br /&gt;•    panjang batang tumbuhan (tinggi atau pendek).&lt;br /&gt;Mendel menyilang tumbuhan tinggi dengan tumbuhan pendek dengan menaruh tepung sari dari yang tinggi pada bunga pohon yang pendek, demikian sebaliknya. (Sebelumnya, dia memeriksa kemurnian jenis pohon induk tersebut dengan memastikan bahwa nenek moyang tumbuhan itu selalu menunjukkan ciri-ciri yang sama.) Mendel mengharapkan bahwa semua keturunan generasi pertama hasil persilangan itu akan berupa pohon berukuran sedang atau separuh tinggi dan separuh pendek. Namun ternyata, semua keturunan generasi pertama berukuran tinggi. Rupanya sifat pendek telah hilang sama sekali. Lalu Mendel membiarkan keturunan generasi pertama itu berkembang biak sendiri menghasilkan keturunan generasi kedua. Kali ini, tiga perempat berupa tumbuhan tinggi dan seperempat tumbuhan pendek. Ciri-ciri yang tadinya hilang muncul kembali.&lt;br /&gt;Dia menerapkan prosedur yang sama pada enam ciri lain. Dalam setiap kasus, satu dari ciri-ciri yang berlawanan hilang dalam keturunan generasi pertama dan muncul kembali dalam seperempat keturunan generasi kedua. (Hasil ini juga diperoleh dari penelitian terhadap ratusan tumbuhan.)&lt;br /&gt;HUKUM MENDEL PERTAMA&lt;br /&gt;Mendel menarik beberapa kesimpulan dari hasil penelitiannya. Dia menyatakan bahwa setiap ciri dikendalikan oleh dua macam informasi, satu dari sel jantan (tepung sari) dan satu dari sel betina (indung telur di dalam bunga). Kedua informasi ini (kelak disebut plasma pembawa sifat keturunan atau gen) menentukan ciri-ciri yang akan muncul pada keturunan. Sekarang, konsep ini disebut Hukum Mendel Pertama -- Hukum Pemisahan.&lt;br /&gt;Untuk setiap ciri yang diteliti oleh Mendel dalam kacang polong, ada satu ciri yang dominan sedangkan lainnya terpendam. Induk "jenis murni" dengan ciri dominan memunyai sepasang gen dominan (AA) dan dapat memberi hanya satu gen dominan (A) kepada keturunannya. Induk "jenis murni" dengan ciri yang terpendam memunyai sepasang gen terpendam (aa) dan dapat memberi hanya satu gen terpendam (a) kepada keturunannya. Maka keturunan generasi pertama menerima satu gen dominan dan satu gen terpendam (Aa) dan menunjukkan ciri-ciri gen dominan. Bila keturunan ini berkembang biak sendiri menghasilkan keturunan generasi kedua, sel-sel jantan dan betina masing-masing dapat mengandung satu gen dominan (A) atau gen terpendam (a). Oleh karenanya, ada empat kombinasi yang mungkin: AA, Aa, aA dan aa. Tiga kombinasi yang pertama menghasilkan tumbuhan dengan ciri dominan, sedangkan kombinasi terakhir menghasilkan satu tumbuhan dengan ciri terpendam.&lt;br /&gt;HUKUM MENDEL KEDUA&lt;br /&gt;Kemudian Mendel meneliti dua ciri sekaligus, yakni bentuk benih (bundar atau keriput) dan warna benih (kuning atau hijau). Dia menyilang tumbuhan yang selalu menunjukkan ciri-ciri dominan (bentuk bundar dan warna kuning) dengan tumbuhan berciri terpendam (bentuk keriput dan warna hijau). Sekali lagi, ciri terpendam tidak muncul dalam keturunan generasi pertama. Jadi, semua tumbuhan generasi pertama memunyai benih kuning bundar. Namun, tumbuhan generasi kedua memunyai empat macam benih yang berbeda, yakni bundar dan kuning, bundar dan hijau, keriput dan kuning, dan keriput dan hijau. Keempat macam ini dibagi dalam perbandingan 9:3:3:1. Mendel mengecek hasil ini dengan kombinasi dua ciri lain. Perbandingan yang sama muncul lagi.&lt;br /&gt;Perbandingan 9:3:3:1 menunjukkan bahwa kedua ciri tidak saling tergantung, sebab perbandingan 3:1 untuk satu ciri bertahan dalam setiap subkelompok ciri yang lain, dan sebaliknya. Hasil ini disebut Hukum Mendel Kedua -- Hukum Ragam Bebas.&lt;br /&gt;Eksperimen Mendel menunjukkan bahwa ketika tanaman induk membentuk sel-sel reproduksi jantan dan betina, semua kombinasi bahan genetik dapat muncul dalam keturunannya, dan selalu dalam proporsi yang sama dalam setiap generasi. Informasi genetik selalu ada meskipun ciri tertentu tidak tampak di dalam beberapa generasi karena didominasi oleh gen yang lebih kuat. Dalam generasi kemudian, bila ciri dominan tidak ada, ciri terpendam itu akan muncul lagi.&lt;br /&gt;KARYANYA DIAKUI&lt;br /&gt;Mendel meninggal di Brunn pada tanggal 6 Januari 1884 dalam usia 61 tahun. Karya Mendel masih terabaikan selama 35 tahun. Jerih lelahnya itu baru diakui oleh tiga orang ahli botani yang menemukan kesimpulan yang sama dengan Mendel pada tahun 1900. Salah satu peneliti tersebut di antaranya adalah Hugo de Vries, seorang naturalis Belanda. Meskipun karyanya banyak ditemukan dalam literatur ilmiah, baru setelah penyelidikan verifikasi independen ini, karyanya dipublikasikan secara luas dan diterima. Karya Mendel memberikan sumbangan besar terhadap studi ilmu genetika, khususnya studi mengenai fungsi gen dalam keturunan.&lt;br /&gt;PENTINGNYA KARYA MENDEL&lt;br /&gt;Temuan Mendel memunyai implikasi penting. Karyanya membantah adanya percampuran dalam keturunan, yaitu pemikiran bahwa ciri-ciri orang tua diwariskan kepada anak dan kemudian bercampur, lalu diturunkan ke generasi berikut dalam bentuk campuran. Eksperimen Mendel membuktikan justru kebalikannyalah yang benar; zat genetika yang diwarisi dari orangtua hanya bergabung untuk sementara waktu dalam diri anak, dan dalam generasi berikutnya zat genetik pecah menjadi satuan-satuan yang ada dalam induk aslinya. Dengan kata lain, zat genetika itu sendiri tidak berubah.&lt;br /&gt;Ketika karya Mendel ditemukan kembali awal tahun 1900-an, reaksi awal para ilmuwan adalah menentang Darwinisme. Dalam bukunya, "Processes of Organic Evolution", G.L. Stebbins membahas "pertentangan keras mengenai hakikat keragaman keturunan dan proses-proses evolusi antara penganut Mendel awal, terutama de Vries dan para naturalis Darwin kontemporer." Baru pada tahun 1920-an, setelah ada modifikasi yang cukup berarti tentang mekanisme evolusi, para ilmuwan mulai menyatakan bahwa evolusi cocok dengan temuan Mendel.&lt;br /&gt;Penelitian Mendel menunjukkan secara gamblang tentang stabilitas dasar dari berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang diciptakan, sedangkan kaum evolusionis selama puluhan tahun berupaya untuk memasukkan hal ini ke dalam kerangka Darwin. Karya Mendel tidak mendukung gagasan evolusioner yang mengatakan bahwa satu spesies dapat berevolusi menjadi spesies lain. Dalam hal ini, banyak ilmuwan seperti Isaac Asimov mengatakan bahwa "kelemahan terbesar dalam teori Darwin telah dilengkapi dengan temuan Mendel."&lt;br /&gt;http://biokristi.sabda.org/gregor_mendel&lt;br /&gt;Senin, 22 Desember 2008&lt;br /&gt;Pukul 18.00 Wita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;ANATOMI DAN FISIOLOGI SEL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fisiologi Sel&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Organisasi dan interaksi yang kompleks antara berbagai zat kimia di dalam sel memberikan karakteristik kehidupan yang khas. Sementara itu, sel-sel adalah blok-blok pembangung building blocks tubuh keseluruhan.Sel-sel tubuh, yang terlalu kecil untuk dapat dilihat oleh mata telanjang, telah dibuktikan oleh teknik-teknik mikroskopik sebagai unit yang terdiri dari tiga subdivisi utama: (1) membran plasma, yang membungkus sel dan memisahkan cairan intersel dari ekstrasel; (2) nukleus, yang mengandung asam deoksiribonukleat (DNA), bahan genetik sel; dan (3) sitoplasma, bagian interior sel yang tidak ditempati oleh nukleus. Sitoplasma terdiri dari sitosol, suatu massa kompleks mirip gelatin, dan berbagai organel, yaitu struktur sangat terorganisasi, terbungkus membran, dan tersebar di dalam sitosol. Pembagian perangkat-perangkat kimiawi khusus di dalam organel-organel memungkinkan berbagai aktivitas kimiawi yang tidak kompetibel satu sama lain dapat berlangsung secara serentak di dalam kompartemen-kompartemen organel yang terpisah.&lt;br /&gt;Organel&lt;br /&gt;Lima jenis organel yang sudah terbukti ditemukan di sebagian besar sel, yaitu retikulum endoplasma, kompleks Golgi, lisosom, peroksisom, dan mitokondria. Jenis organel keenam, vault, baru-baru ini saja ditemukan. Retikulum endoplasma (RE) adalah jaringan membranosa tunggal kompleks yang membungkus lumen berisi cairan. Fungsi utama RE adalah sebagai pabrik untuk sintesis protein dan lipid yang akan digunakan untuk (1) produksi komponen-komponen sel yang baru, terutama membran sel; dan (2) sekresi produk-produk khusus seperti enzim dan hormon ke bagian luar sel. Terdapat dua jenis retikulum endoplasma: retikulum endoplasma kasar, yang ditaburi oleh ribosom, dan retikulum endoplasma halus yang tidak memiliki ribosom. Ribosom pada retikulum endoplasma kasar mensintesis protein yang dilepaskan ke dalam lumen RE, sehingga protein-protein tersebut terpisah dari sitosol. Lipid yang dihasilkan di dalam dinding membranosa RE juga masuk ke dalam lumen. Produk-produk hasil sintesis berpindah dari RE kasar ke RE halus, tempat mereka dikemas dan dikeluarkan sebagai vesikel-vesikel transportasi. Vesikel transportasi terbentuk sewaktu sebagian RE halus mengalami “penonjolan”. Vesikel mengandung kumpulan protein dan lipid yang baru dibentuk ini, terbungkus oleh membran RE halus.Kompleks Golgi, yang terdiri dari tumpukan kantung gepeng terbungkus membran, memiliki fungsi ganda: (1) sebagai pabrik pemurnian untuk memodifikasi produk-produk kasar dari pabrik retikulum endoplasma menjadi produk akhir; dan (2) menyortir, mengemas, dan mengarahkan lalu-lintas molekuler ke tujuan mereka yang sebenarnya di dalam atau di luar sel.&lt;br /&gt;Setiap sel mengandung beberapa ratus lisosom, yaitu kantung terbungkus membran yang mengandung enzim-enzim hidrolitik (pencernaan) yang kuat. Sebagai sistem pencernaan intrasel, lisosom menghancurkan benda-benda asing yang difagositosis oleh sel seperti bakteri, melenyapkan bagian-bagian sel yang telah tua (usang) untuk diganti dengan yang baru, dan menghancurkan seluruh sel apabila sel tersebut mengalami kerusakan yang berat atau mati.Peroksisom, yaitu kantung-kantung terbungkus membran yang mengandung enzim-enzim oksidatif kuat, mengkhususkan diri untuk menjalankan reaksi-reaksi oksidatif, termasuk aktivitas detoksifikasi tertentu.Mitokondria yang berbentuk batang adalah organel energi bagi sel. Organel ini mengandung enzim-enzim dari siklus asam sitrat dan rantai transportasi elektron, yang secara efisien mengubah energi dalam molekul makanan menjadi energi yang dapat digunakan dan tersimpan dalam molekul ATP. Selama proses yang dikenal sebagai fosforilasi oksidatif ini, mitokonria menggunakan oksigen molekuler dan menghasilkan karbon dioksida dan air sebagai produk sampingannya. Sel-sel tubuh menggunakan ATP sebagai sumber energi untuk sintesis senyawa-senyawa kimia baru, untuk transportasi membran, dan untuk kerja mekanis.&lt;br /&gt;Vault, yang berbentuk seperti tong bersegi delapan, memiliki bentuk dan ukuran yang sama dengan pori-pori nukleus. Diperkirakan bahwa vault berperan mengangkut RNA messenger dari nukleus ke sitoplasma untuk sintesis protein. Organel ini terutama banyak dijumpai di tempat pembentukan aktin.&lt;br /&gt;Sitosol dan Sitoskeleton Sitosol mengandung enzim-enzim yang berperan dalam metabolisme perantara dan perangkat ribosom yang penting untuk sintesis enzim-enzim ini serta protein sitosol lainnya. Selain itu, banyak sel-sel menyimpan nutrien yang tidak digunakan di dalam sitosol dalam bentuk butir-butir lemakatau granula-granula glikogen. Di sitosol juga terdapat vesikel-vesikel sekretorik yang mengandung produk-produk yang dikeluarkan dari sel jika terdapat rangsangan yang sesuai. Sitoskeleton, yang merambah sitosol, berfungsi sebagai “tulang dan otot” bagi sel. Terdapat empat unsur sitoskeleton–mikrotubulus, mikrofilamen, filamen intermediat, dan kisi-kisi mikrotubuler–yang masing-masing tersusun oleh protein yang berbeda dan melakukan peran yang berbeda pula. Secara kolektif, unsur-unsur sitoskeleton menentukan bentuk dan menunjang sel, memungkinkan sel mengorganisasikan dan menggerakkan struktur-struktur internal sesuai kebutuhan, dan pada sebagian sel, unsur ini memungkinkan pergerakan sel di dalam lingkungannya.&lt;br /&gt;Secara anatomis sel dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:&lt;br /&gt;1. Selaput Plasma (Membran Plasma atau Plasmalemma).&lt;br /&gt;2. Sitoplasma dan Organel Sel.&lt;br /&gt;3. Inti Sel (Nukleus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Selaput Plasma (Plasmalemma)&lt;br /&gt;Yaitu selaput atau membran sel yang terletak paling luar yang tersusun dari senyawa kimia Lipoprotein (gabungan dari senyawa lemak atau Lipid dan senyawa Protein).&lt;br /&gt;Lipoprotein ini tersusun atas 3 lapisan yang jika ditinjau dari luar ke dalam urutannya adalah:&lt;br /&gt;Protein - Lipid - Protein Þ Trilaminer Layer&lt;br /&gt;Lemak bersifat Hidrofebik (tidak larut dalam air) sedangkan protein bersifat Hidrofilik (larut dalam air); oleh karena itu selaput plasma bersifat Selektif Permeabel atau Semi Permeabel (teori dari Overton).&lt;br /&gt;Selektif permeabel berarti hanya dapat memasukkan /di lewati molekul tertentu saja.&lt;br /&gt;Fungsi dari selaput plasma ini adalah menyelenggarakan Transportasi zat dari sel yang satu ke sel yang lain.&lt;br /&gt;Khusus pada sel tumbahan, selain mempunyai selaput plasma masih ada satu struktur lagi yang letaknya di luar selaput plasma yang disebut Dinding Sel (Cell Wall).&lt;br /&gt;Dinding sel tersusun dari dua lapis senyawa Selulosa, di antara kedua lapisan selulosa tadi terdapat rongga yang dinamakan Lamel Tengah (Middle Lamel) yang dapat terisi oleh zat-zat penguat seperti Lignin, Chitine, Pektin, Suberine dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu pada dinding sel tumbuhan kadang-kadang terdapat celah yang disebut Noktah. Pada Noktah/Pit sering terdapat penjuluran Sitoplasma yang disebut Plasmodesma yang fungsinya hampir sama dengan fungsi saraf pada hewan.&lt;br /&gt;2. Sitoplasma dan Organel Sel&lt;br /&gt;Bagian yang cair dalam sel dinamakan Sitoplasma khusus untuk cairan yang berada dalam inti sel dinamakan Nukleoplasma), sedang bagian yang padat dan memiliki fungsi tertentu digunakan Organel Sel.&lt;br /&gt;Penyusun utama dari sitoplasma adalah air (90%), berfungsi sebagai pelarut zat-zat kimia serta sebagai media terjadinya reaksi kirnia sel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organel sel adalah benda-benda solid yang terdapat di dalam sitoplasma dan bersifat hidup(menjalankan fungsi-fungsi kehidupan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gbr. a. Ultrastruktur Sel Hewan, b. Ultrastruktur Sel Tumbuhan&lt;br /&gt;Organel Sel tersebut antara lain :&lt;br /&gt;a. Retikulum Endoplasma (RE.)&lt;br /&gt;Yaitu struktur berbentuk benang-benang yang bermuara di inti sel.&lt;br /&gt;Dikenal dua jenis RE yaitu :&lt;br /&gt;• RE. Granuler (Rough E.R)&lt;br /&gt;• RE. Agranuler (Smooth E.R)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi R.E. adalah : sebagai alat transportasi zat-zat di dalam sel itu sendiri. Struktur R.E. hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ribosom (Ergastoplasma)&lt;br /&gt;Struktur ini berbentuk bulat terdiri dari dua partikel besar dan kecil, ada yang melekat sepanjang R.E. dan ada pula yang soliter. Ribosom merupakan organel sel terkecil yang tersuspensi di dalam sel.&lt;br /&gt;Fungsi dari ribosom adalah : tempat sintesis protein.&lt;br /&gt;Struktur ini hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Miitokondria (The Power House)&lt;br /&gt;Struktur berbentuk seperti cerutu ini mempunyai dua lapis membran.&lt;br /&gt;Lapisan dalamnya berlekuk-lekuk dan dinamakan Krista&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi mitokondria adalah sebagai pusat respirasi seluler yang menghasilkan banyak ATP (energi) ; karena itu mitokondria diberi julukan "The Power House".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Lisosom&lt;br /&gt;Fungsi dari organel ini adalah sebagai penghasil dan penyimpan enzim pencernaan seluler. Salah satu enzi nnya itu bernama Lisozym.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Badan Golgi (Apparatus Golgi = Diktiosom)&lt;br /&gt;Organel ini dihubungkan dengan fungsi ekskresi sel, dan struktur ini dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa.&lt;br /&gt;Organel ini banyak dijumpai pada organ tubuh yang melaksanakan fungsi ekskresi, misalnya ginjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J. Sentrosom (Sentriol)&lt;br /&gt;Struktur berbentuk bintang yang berfungsi dalam pembelahan sel (Mitosis maupun Meiosis). Sentrosom bertindak sebagai benda kutub dalam mitosis dan meiosis.&lt;br /&gt;Struktur ini hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron.&lt;br /&gt;g. Plastida&lt;br /&gt;Dapat dilihat dengan mikroskop cahaya biasa. Dikenal tiga jenis plastida yaitu :&lt;br /&gt;1. Lekoplas&lt;br /&gt;(plastida berwarna putih berfungsi sebagai penyimpan makanan),&lt;br /&gt;terdiri dari:&lt;br /&gt;• Amiloplas (untak menyimpan amilum) dan,&lt;br /&gt;• Elaioplas (Lipidoplas) (untukmenyimpan lemak/minyak).&lt;br /&gt;• Proteoplas (untuk menyimpan protein).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kloroplas&lt;br /&gt;yaitu plastida berwarna hijau. Plastida ini berfungsi menghasilkan&lt;br /&gt;klorofil dan sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kromoplas&lt;br /&gt;yaitu plastida yang mengandung pigmen, misalnya :&lt;br /&gt;• Karotin (kuning)&lt;br /&gt;• Fikodanin (biru)&lt;br /&gt;• Fikosantin (kuning)&lt;br /&gt;• Fikoeritrin (merah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Vakuola (RonggaSel)&lt;br /&gt;Beberapa ahli tidak memasukkan vakuola sebagai organel sel. Benda ini dapat dilihat dengan mikroskop cahaya biasa. Selaput pembatas antara vakuola dengan sitoplasma disebut Tonoplas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vakuola berisi :&lt;br /&gt;• garam-garam organik&lt;br /&gt;• glikosida&lt;br /&gt;• tanin (zat penyamak)&lt;br /&gt;• minyak eteris (misalnya Jasmine pada melati, Roseine pada mawar&lt;br /&gt;Zingiberine pada jahe)&lt;br /&gt;• alkaloid (misalnya Kafein, Kinin, Nikotin, Likopersin dan lain-lain)&lt;br /&gt;• enzim&lt;br /&gt;• butir-butir pati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada boberapa spesies dikenal adanya vakuola kontraktil dan vaknola non kontraktil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Mikrotubulus&lt;br /&gt;Berbentuk benang silindris, kaku, berfungsi untuk mempertahankan bentuk sel dan sebagai "rangka sel".&lt;br /&gt;Contoh organel ini antara lain benang-benang gelembung pembelahan Selain itu mikrotubulus berguna dalam pembentakan Sentriol, Flagela dan Silia.&lt;br /&gt;j. Mikrofilamen&lt;br /&gt;Seperti Mikrotubulus, tetapi lebih lembut. Terbentuk dari komponen utamanya yaitu protein aktin dan miosin (seperti pada otot). Mikrofilamen berperan dalam pergerakan sel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. Peroksisom (Badan Mikro)&lt;br /&gt;Ukurannya sama seperti Lisosom. Organel ini senantiasa berasosiasi dengan organel lain, dan banyak mengandung enzim oksidase dan katalase (banyak disimpan dalam sel-sel hati).&lt;br /&gt;3. Inti Sel (Nukleus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti sel terdiri dari bagian-bagian yaitu :&lt;br /&gt;• Selapue Inti (Karioteka)&lt;br /&gt;• Nukleoplasma (Kariolimfa)&lt;br /&gt;• Kromatin / Kromosom&lt;br /&gt;• Nukleolus(anak inti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ada tidaknya selaput inti kita mengenal 2 penggolongan sel yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Sel Prokariotik (sel yang tidak memiliki selaput inti), misalnya dijumpai&lt;br /&gt;pada bakteri, ganggang biru.&lt;br /&gt;• Sel Eukariotik (sel yang memiliki selaput inti).&lt;br /&gt;Fungsi dari inti sel adalah : mengatur semua aktivitas (kegiatan) sel, karena di dalam inti sel terdapat kromosom yang berisi ADN yang mengatur sintesis protein.&lt;br /&gt;Pembelahan Sel&lt;br /&gt;Kita mengenal tiga jenis reproduski sel, yaitu Amitosis, Mitosis dan Meiosis (pembelahan reduksi). Amitosis adalah reproduksi sel di mana sel membelah diri secara langsung tanpa melalui tahap-tahap pembelahan sel. Pembelahan cara ini banyak dijumpai pada sel-sel yang bersifat prokariotik, misalnya pada bakteri, ganggang biru.&lt;br /&gt;MITOSIS adalah cara reproduksi sel dimana sel membelah melalui tahap-tahap yang teratur, yaitu Profase Metafase-Anafase-Telofase. Antara tahap telofase ke tahap profase berikutnya terdapat masa istirahat sel yang dinarnakan Interfase (tahap ini tidak termasuk tahap pembelahan sel). Pada tahap interfase inti sel melakukan sintesis bahan-bahan inti.&lt;br /&gt;Secara garis besar ciri dari setiap tahap pembelahan pada mitosis adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Profase :&lt;br /&gt;pada tahap ini yang terpenting adalah benang-benang kromatin&lt;br /&gt;menebal menjadi kromosom dan kromosom mulai berduplikasi menjadi&lt;br /&gt;kromatid.&lt;br /&gt;2. Metafase:&lt;br /&gt;pada tahap ini kromosom/kromatid berjejer teratur dibidang&lt;br /&gt;pembelahan (bidang equator) sehingga pada tahap inilah kromosom&lt;br /&gt;/kromatid mudah diamati dan dipelajari.&lt;br /&gt;3. Anafase:&lt;br /&gt;pada fase ini kromatid akan tertarik oleh benang gelendong menuju&lt;br /&gt;   ke kutub-kutub pembelahan sel.&lt;br /&gt;4. Telofase:&lt;br /&gt;pada tahap ini terjadi peristiwa KARIOKINESIS (pembagian inti&lt;br /&gt;menjadi dua bagian) dan SITOKINESIS (pembagian sitoplasma&lt;br /&gt;menjadi dua bagian).&lt;br /&gt;Meiosis (Pembelahan Reduksi) adalah reproduksi sel melalui tahap-tahap pembelahan seperti pada mitosis, tetapi dalam prosesnya terjadi pengurangan (reduksi) jumlah kromosom.&lt;br /&gt;Meiosis terbagi menjadi due tahap besar yaitu Meiosis I dan Meiosis II Baik meiosis I maupun meiosis II terbagi lagi menjadi tahap-tahap seperti pada mitosis. Secara lengkap pembagian tahap pada pembelahan reduksi adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan pembelahan mitosis, pada pembelahan meiosis antara telofase I dengan profase II tidak terdapat fase istirahat (interface). Setelah selesai telofase II dan akan dilanjutkan ke profase I barulah terdapat fase istirahat atau interface.&lt;br /&gt;PERBEDAAN ANTARA MITOSIS DENGAN MEIOSIS&lt;br /&gt;Aspek yang dibedakan    Mitosis    Meiosis&lt;br /&gt;Tujuan    Untuk pertumbuhan    Sifat mempertahan-kan diploid&lt;br /&gt;Hasil pembelahan    2 sel anak    4 sel anak&lt;br /&gt;Sifat sel anak    diploid (2n)    haploid (n)&lt;br /&gt;Tempat terjadinya    sel somatis    sel gonad&lt;br /&gt;Pada hewan dikenal adanya peristiwa meiosis dalam pembentukan gamet, yaitu Oogenesis dan Speatogenesis. Sedangkan pada tumbahan dikenal Makrosporogenesis (Megasporogenesis) dan Mikrosporogenesis.&lt;br /&gt;Teori Sel Modern&lt;br /&gt;Sel merupakan unit kehidupan yang terkecil, oleh karena itu sel dapat menjalankan aktivitas hidup, di antaranya metabolisme.&lt;br /&gt;Metabolisme adalah proses-proses kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup/sel. Metabolisme disebut juga reaksi enzimatis, karena metabolisme terjadi selalu menggunakan katalisator enzim.&lt;br /&gt;Berdasarkan prosesnya metabolisme dibagi menjadi 2, yaitu:&lt;br /&gt;1. Anabolisme/AsimilasI/Sintesis,&lt;br /&gt;yaitu proses pembentakan molekul yang kompleks dengan menggunakan energi tinggi.&lt;br /&gt;Contoh : fotosintesis (asimilasi C)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;energi cahaya&lt;br /&gt;6 CO2 + 6 H2O ———————————&gt; C6H1206 + 6 02&lt;br /&gt;klorofil  glukosa&lt;br /&gt;(energi kimia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kloroplas terjadi transformasi energi, yaitu dari energi cahaya sebagai energi kinetik berubah menjadi energi kimia sebagai energi potensial, berupa ikatan senyawa organik pada glukosa. Dengan bantuan enzim-enzim, proses tersebut berlangsung cepat dan efisien. Bila dalam suatu reaksi memerlukan energi dalam bentuk panas reaksinya disebut reaksi endergonik. Reaksi semacam itu disebut reaksi endoterm.&lt;br /&gt;2. Katabolisme (Dissimilasi),&lt;br /&gt;yaitu proses penguraian zat untuk membebaskan energi kimia yang tersimpan dalam senyawa organik tersebut.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;enzim&lt;br /&gt;C6H12O6 + 6 O2 ———————————&gt; 6 CO2 + 6 H2O + 686 KKal.&lt;br /&gt;energi kimia&lt;br /&gt;Saat molekul terurai menjadi molekul yang lebih kecil terjadi pelepasan energi sehingga terbentuk energi panas. Bila pada suatu reaksi dilepaskan energi, reaksinya disebut reaksi eksergonik. Reaksi semacam itu disebut juga reaksi eksoterm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0116%20Bio%203-1e.htm&lt;br /&gt;Senin, 22 Desember 2008&lt;br /&gt;Pukul 18.00 Wita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;KONSEPSI ORGAN REPRODUKSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Organ reproduksi wanita&lt;br /&gt;Saat dilahirkan seorang anak wanita telah mempunyai organ reproduksi yang lengkap tetapi belum berfungsi sepenuhnya. Organ reproduksi akan berfungsi sepenuhnya saat seorang wanita telah memasuki masa pubertas. Anatomi organ reproduksi wanita terdiri atas vulva, vagina, serviks, rahim, saluran telur dan indung telur.&lt;br /&gt;Vulva&lt;br /&gt;Vulva merupakan suatu daerah yang menyelubungi vagina. Vulva terdiri atas mons pubis, labia (labia mayora dan labia minora), klitoris, daerah ujung luar vagina dan saluran kemih.&lt;br /&gt;Mons pubis : gundukan jaringan lemak yang terdapat dibagian bawah perut, Daerah ini dapat dikenali dengan mudah karena tertutup oleh rambut pubis. Rambut ini akan tumbuh saat seorang gadis beranjak dewasa.&lt;br /&gt;Labia: Lipatan berbentuk seperti bibir yang terletak di dasar mons pubis.Terdiri dari dua bibir, yaitu labium mayora (bibir luar) merupakan bibir yang tebal dan besar dan labium minora (bibir dalam), merupakan bibir yang tipis yang menjaga jalan masuk ke vagina.&lt;br /&gt;Klitoris : merupakan organ kecil yang terletak pada pertemuan antara ke dua labia minora dan dasar mons pubis. Ukurannya sebesar kacang polong, penuh dengan sel syaraf sensorik dan pembuluh darah. Organ mungil ini sangat sensitif dan berperan besar dalam fungsi seksual.&lt;br /&gt;Vagina&lt;br /&gt;Vagina merupakan saluran yang elastis, panjangnya sekitar 8-10 cm, dan berakhir pada rahim. Vagina dilalui oleh darah pada saat menstruasi dan merupakan jalan lahir. Karena terbentuk dari otot, vagina bisa melebar dan menyempit. Kemampuan ini sangat hebat, terbukti pada saat melahirkan vagina bisa melebar seukuran bayi yang melewatinya.&lt;br /&gt;Pada bagian ujung yang terbuka, vagina ditutupi oleh sebuah selaput tipis yang dikenal dengan istilah selaput dara. Bentuknya bisa berbeda-beda antara tiap wanita. Selaput ini akan robek pada saat bersanggama, kecelakaan, masturbasi/ onani yang terlalu dalam, olah raga dsb.&lt;br /&gt;Serviks&lt;br /&gt;Serviks dikenal juga dengan istilah mulut rahim. Disebut demikian karena serviks memang merupakan bagian terdepan dari rahim yang menonjol ke dalam vagina. Sehingga berhubungan dengan bagian vagina. Serviks memproduksi cairan berlendir (mucus). Pada sekitar waktu ovulasi, mukus ini menjadi banyak, elastik, dan licin. Hal ini membantu spermatozoa untuk mencapai uterus. Saluran yang berdinding tebal ini akan menipis dan membuka saat proses persalinan dimulai.&lt;br /&gt;Rahim&lt;br /&gt;Uterus (rahim) merupakan organ yang memiliki peranan besar dalam reproduksi wanita, yakni dari saat menstruasi hingga melahirkan. Bentuknya seperti buah pear, berongga, dan berotot. Sebelum hamil beratnya 30-50 gram dengan ukuran panjang 9 cm dan lebar 6 cm kurang lebih sebesar telur ayam kampung. Tetapi saat hamil mampu membesar dan beratnya mencapai 1000 gram.&lt;br /&gt;Uterus terdiri dari 3 lapisan, yaitu:Lapisan parametrium merupakan lapisan paling luar dan yang berhubungan dengan rongga perut.Lapisan myometrium merupakan lapisan yang berfungsi mendorong bayi keluar pada proses persalinan (kontraksi),Lapisan endometrium merupakan lapisan dalam rahim tempat menempelnya sel telur yang sudah dibuahi. Lapisan ini terdiri dari lapisan kelenjar yang berisi pembuluh darah.&lt;br /&gt;Saluran telur&lt;br /&gt;Tuba falopii adalah organ yang dikenal dengan istilah saluran telur. Saluran telur adalah sepasang saluran yang berada pada kanan dan kiri rahim sepanjang +10cm yang menghubungkan uterus dengan ovarium melalui fimbria. Ujung yang satu dari tuba falopii akan bermuara di uterus sedangkan ujung yang lain merupakan ujung bebas dan terhubung ke dalam rongga abdomen.&lt;br /&gt;Ujung yang bebas berbentuk seperti umbai yang bergerak bebas. Ujung ini disebut fimbria dan berguna untuk menangkap sel telur saat dilepaskan oleh ovarium (indung telur). Dari fimbria, telur akan digerakkan oleh rambut-rambut halus yang terdapat di dalam saluran telur menuju ke dalam rahim.&lt;br /&gt;ovarium/indung telur terletak pada kiri dan kanan ujung tuba (fimbria/umbai-umbai) dan terletak di rongga panggul. Ovarium merupakan kelenjar yang memproduksi hormon estrogen dan progresteron. Ukurannya 3×3x2 cm, tiap ovarium mengandung 150.000-200.000 folikel primordial. Sejak pubertas setiap bulan secara bergantian ovarium melepas satu ovum dari folikel degraaf (folikel yang telah matang), peristiwa ini disebut ovulasi.&lt;br /&gt;Organ reproduksi laki- laki&lt;br /&gt;Organ reproduksi pria yang penting dalam proses reproduksi terdiri atas beberapa organ yaitu penis, skrotum, testis, vas deferens, epididimis, vesikula seminalis dan kelenjar prostat. Di antara organ ini ada yang terletak di dalam tubuh sehingga tidak bisa kita lihat.&lt;br /&gt;Testis&lt;br /&gt;Testis merupakan organ kecil yang memiliki diameter sekitar 5 cm pada orang dewasa. Testis membutuhkan suhu sedikit lebih rendah dari suhu badan (36,7 oC) agar dapat berfungsi secara optimal, Hal inilah yang menyebabkan mengapa testis terletak di luar tubuh di dalam suatu kantong yang disebut skrotum. Pada laki-laki, ukuran dan posisi testis yang agak sedikit berbeda antara kanan dan kiri. Hal ini masih normal.Saat melewati masa pubertas, saluran khusus berbentuk koil di dalam testis mulai membuat sel-sel sperma. Sejak saat inilah, testis akan memulai tugasnya dalam membuat sperma. Tugas khusus akan terus diembannya sampai sang pemilik meninggal. Bentuk sperma sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Berbentuk seperti berudu (kecebong), dapat bergerak sendiri dengan ekornya. Cairan putih dan kental yang diproduksi oleh vesikula seminalis dan kelenjar prostat bercampur dengan spermatozoa membentuk campuran yang disebut semen. Epididimis, vas deferens, dan urethra merupakan saluran untuk jalannya semen. Pada saat puncak rangsang seksual terjadi orgasme atau ejakulasi, yaitu semen dipancarkan keluar dari ujung penis yang ereksi. Testis juga memiliki tanggung jawab lain. Ia harus membuat hormon testosteron. Hormon ini merupakan hormon yang sangat bertanggung jawab atas perubahan anak laki-laki menjadi dewasa. Membuat suara laki-laki menjadi besar dan berat, dan berbagai perubahan lain yang memperlihatkan bahwa seorang anak telah beranjak dewasa.&lt;br /&gt;Skrotum&lt;br /&gt;Skrotum merupakan sebuah kantong kulit yang melindungi testis, berwarna gelap dan berlipat lipat. Skrotum adalah tempat bergantungnya testis. Scrotum mengandung otot polos yang mengatur jarak testis ke dinding perut dengan maksud mengatur suhu testis agar relatif tetap. Kondisi ini menguntungkan karena testis dapat membuat sperma pada kondisi terbaik. Dalam menjalankan fungsinya, skrotum bahkan dapat merubah ukurannya. Bila suhu udara dingin, skrotum akan mengerut dan menyebabkan testis lebih dekat dengan tubuh dan dengan demikian lebih hangat. Sebaliknya pada cuaca panas, skrotum akan membesar dan kendur. Akibatnya luas permukaan skrotum meningkat dan panas dapat dikeluarkan.&lt;br /&gt;Vas deferens&lt;br /&gt;Deferens adalah sebuah tabung yang dibentuk dari otot. Vas deferens membentang dari epididimis ke uretra/ saluran kencing pars prostatika.. Vas deferens berfungsi sebagai tempat penyimpanan sperma sebelum dikeluarkan melalui penis. Vas deferens memiliki panjang sekitar 4,5 cm dengan diameter sekitar 2,5 mm. Saluran ini muara dari Epididymis yaitu saluran- saluran yang lebih kecil dari vas deferens. Bentuknya berkelok-kelok dan membentuk bangunan seperti topi.Prostat, vesikula seminalis dan beberapa kelenjar lainnyaProstat adalah kelenjar yang bertugas untuk membuat cairan sperma (ejakulat/semen). Ini berguna untuk memberikan makanan pada sperma.&lt;br /&gt;Penis&lt;br /&gt;Penis dibagi menjadi dua bagian yaitu batang penis (bagian terbesar dari penis) dan kepala penis. Pada bagian kepala penis terdapat kulit yang menutupinya yang disebut preputium . Kulit ini yang diambil secara operatif saat seseorang melakukan sunat (sirkumsisi). Pada bagian dalam dari penis terdapat jaringan seperti spons yang bisa membesar dan menegang. Bila hasrat seksual seorang pria meningkat, atau kadangkala tanpa alasan yag jelas, jaringan ini akan terisi pembuluh darah dan syaraf sehingga akibatnya penis membesar dan mengeras. Hal ini terjadi karena penis terisi darah saat terangsang. Penis tidak mengandung tulang dan tidak terbentuk dari otot. Ukuran dan bentuk penis bervariasi, namun umumnya bila penis ereksi ukurannya hampir sama.Keadaan ini disebut ereksi. Kemampuan untuk ereksi sangat berperan dalam fungsi reproduksi.&lt;br /&gt;http://openlibrary.org/b/OL336062M&lt;br /&gt;Minggu, 22 Desember 2008&lt;br /&gt;Pukul 18.00 Wita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;GENETKA MANUSIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 Agustus 2008 oleh chuphy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1998 sekelompok ilmuwan dengan dukungan pemerintah Amerika mendirikan institusi Human Genome Projekt, dan memberikan tenggang waktu 7 tahun untuk dapat menyelesaikan pembacaan dari seluruh genom manusia. Lalu ada ilmuwan lain Craig Venter yang juga mulai menyelidiki ini ditahun 2001 Apakah Genome/ Genom itu?&lt;br /&gt;Genom manusia adalah seperangkat gen manusia, yang terdiri dari 23 pasangan kromosom yag terpisah2. Nomenklatur atau pemberian nomor diberikan berdasarkan urutan ukuran, yang terbesar diberi no.1 dan yang terkecil no. 22, sedangkan sisa satunya terdiri dari Chromosom sex. Pada wanita 2 kromosom X (yang besar) dan Laki2 memiliki chromosom X dan Y.&lt;br /&gt;Jika sebuah buku dengan 23 bab,disebut kromosom, tiap bab terdiri dari beribu cerita,cerita disebut Gen, cerita tersebut tersusun dalam beratus paragraph, yg disebut ekson, adapula yang disebut intron jika ada selingan lain didalamnya. Didalam paragraf ada kata2 disebut kodon, dan dalam kata2 ada huruf2 disebut basa, sedemikian banyak dan rumitnya.&lt;br /&gt;Code pada genom disimpulkan dgn 4 huruf, A,C,G,dan T (adenin,sitosin, guanin dan timin)dan terdiri dari untaian rantai panjang gula dan fosfat molekul DNA, tempat basa melekat membentuk anak2 tangga spiral ada lagi molekul RNA yang beda sedikit&lt;br /&gt;Sekarang ini istilah tes DNA sudah sangat familiar di tengah masyarakat Indonesia. Dari peristiwa bom Bali pada tahun 2002 sampai dengan perstiwa yang sekarang sedang hangatnya diberitakan adalah kasus pembunuhan berantai 11 orang oleh Very Idham Henniansyah atau dikenal dengan nama Ryan Sang Penjagal di Jombang Jawa Timur. Dari berbagai kasus ini, terlihat bahwa terdapat kesulitan dalam mengidentifikasi identitas korban/mayat secara fisik ataupun biometri, yang disebabkan kondisi tubuh mayat yang telah rusak atau hancur. Untuk itu, identifikasi dengan metode tes DNA menjadi mencuat.&lt;br /&gt;Tes DNA&lt;br /&gt;DNA atau DeoxyriboNucleic Acid merupakan asam nukleat yang menyimpan semua informasi tentang genetika. DNA inilah yang menentukan jenis rambut, warna kulit dan sifat-sifat khusus dari manusia. DNA ini akan menjadi cetak biru (blue print) ciri khas manusia yang dapat diturunkan kepada generasi selanjutnya. Sehingga dalam tubuh seorang anak komposisi DNA nya sama dengan tipe DNA yang diturunkan dari orang tuanya. Sedangkan tes DNA adalah metode untuk mengidentifikasi fragmen-fragmen dari DNA itu sendiri. Atau secara sederhananya adalah metode untuk mengidentifikasi, menghimpun dan menginventarisir file-file khas karakter tubuh.&lt;br /&gt;Tes DNA umumnya digunakan untuk 2 tujuan yaitu (1) tujuan pribadi seperti penentuan perwalian anak atau penentuan orang tua dari anak dan (2) tujuan hukum, yang meliputi masalah forensik seperti identifikasi korban yang telah hancur, sehingga untuk mengenali identitasnya diperlukan pencocokan antara DNA korban dengan terduga keluarga korban ataupun untuk pembuktian kejahatan semisal dalam kasus pemerkosaan atau pembunuhan. Hampir semua sampel biologis tubuh dapat digunakan untuk sampel tes DNA, tetapi yang sering digunakan adalah darah, rambut, usapan mulut pada pipi bagian dalam (buccal swab), dan kuku. Untuk kasus-kasus forensik, sperma, daging, tulang, kulit, air liur atau sampel biologis apa saja yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) dapat dijadikan sampel tes DNA.&lt;br /&gt;DNA yang biasa digunakan dalam tes ada dua yaitu DNA mitokondria dan DNA inti sel. Perbedaan kedua DNA ini hanyalah terletak pada lokasi DNA tersebut berada dalam sel, yang satu dalam inti sel sehingga disebut DNA inti sel, sedangkan yang satu terdapat di mitokondria dan disebut DNA mitokondria. Untuk tes DNA, sebenarnya sampel DNA yang paling akurat digunakan dalam tes adalah DNA inti sel karena inti sel tidak bisa berubah. DNA dalam mitokondria dapat berubah karena berasal dari garis keturunan ibu yang dapat berubah seiring dengan perkawinan keturunannya. Sebagai contoh untuk sampel sperma dan rambut. Yang paling penting diperiksa adalah kepala spermatozoanya karena didalamnya terdapat DNA inti, sedangkan untuk potongan rambut yang paling penting diperiksa adalah akar rambutnya. Tetapi karena keunikan dari pola pewarisan DNA mitokondria menyebabkan DNA mitokondria dapat dijadikan sebagai marka (penanda) untuk tes DNA dalam upaya mengidentifikasi hubungan kekerabatan secara maternal.&lt;br /&gt;Untuk akurasi kebenaran dari tes DNA hampir mencapai 100% akurat. Adanya kesalahan bahwa kemiripan pola DNA bisa terjadi secara random (kebetulan) sangat kecil kemungkinannya, mungkin satu diantara satu juta. Jikapun terdapat kesalahan itu disebabkan oleh faktor human error terutama pada kesalahan interprestasi fragmen-fragmen DNA oleh operator (manusia). Tetapi dengan menerapkan standard of procedur yang tepat kesalahan human error dapat diminimalisir atau bahkan ditiadakan.&lt;br /&gt;Metode Tes DNA&lt;br /&gt;Metode tes DNA yang umumnya digunakan di dunia ini masih menggunakan metode konvensional yaitu elektroforesis DNA. Sedangkan metode tes DNA yang terbaru adalah dengan menggunakan kemampuan partikel emas berukuran nano untuk berikatan dengan DNA. Metode ini ditemukan oleh dua orang ilmuwan Amerika Serikat yaitu Huixiang Li dan Lewis Rothberg.&lt;br /&gt;Prinsip metode ini adalah mempergunakan untai pendek DNA yang disebut Probe yang telah diberi zat pendar. Probe ini dirancang spesifik untuk gen sampel tertentu dan hanya akan menempel/berhibridisasi dengan DNA sampel tersebut. Partikel emas berukuran nano dalam metode ini berperan dalam mengikat Probe yang tidak terhibridasi. Pendeteksian dilakukan dengan penyinaran pada panjang gelombang tertentu. Keberadaan DNA yang sesuai dengan DNA Probe dapat dilihat dari pendaran sampel tersebut. Jumlah DNA target tersebut kira-kira berbanding lurus terhadap intensitas pendaran sinar yang dihasilkan.&lt;br /&gt;Keunggulan metode ini dibandingkan dengan metode konvensional adalah pada kecepatan dan harganya yang jauh lebih cepat dan murah dibandingkan metode elektroforesis DNA. Tetapi karena metode ini masih tergolong baru, sehingga masih dalam pengembangan di Amerika Serikat, sehingga untuk penguna (user) di Indonesia, sekarang ini belum dapat memanfaatkan fasilitas tersebut, karena memang belum terdapat di Indonesia.&lt;br /&gt;Tahapan Metode Tes DNA&lt;br /&gt;Di Indonesia, terdapat dua laboratorium yang dapat melayani user dalam tes DNA yaitu Laboratorium Pusdokkes Polri Jakarta Timur dan di Lembaga Bio Molekuler Eijkman Jakarta Pusat. Untuk di Lembaga Eijkman, biaya per paket tes DNA adalah berkisar Rp. 7,5 Juta dengan hasil tes yang dapat diperoleh dalam 12 hari kerja terhitung dari tanggal diterimanya sampel.&lt;br /&gt;Untuk metode tes DNA di Indonesia, masih memanfaatkan metode elektroforesis DNA. Dengan intreprestasi hasil dengan cara menganalisa pola DNA menggunakan marka STR (short tandem repeats). STR adalah lokus DNA yang tersusun atas pengulangan 2-6 basa. Dalam genom manusia dapat ditemukan pengulangan basa yang bervariasi jumlah dan jenisnya. Dengan menganalisa STR ini, maka DNA tersebut dapat diprofilkan dan dibandingkan dengan sampel DNA terduga lainnya.&lt;br /&gt;Dari berbagai literatur yang penulis pelajari, pada dasarnya tahapan metode tes DNA dengan cara elektroforesis meliputi beberapa tahapan berikut yaitu pertama tahapan preparasi sampel yang meliputi pengambilan sampel DNA (isolasi) dan pemurnian DNA. Dalam tahap ini diperlukan kesterilan alat-alat yang digunakan. Untuk sampel darah, dalam isolasinya dapat digunakan bahan kimia phenolchloroform sedangkan untuk sampel rambut dapat digunakan bahan kimia Chilex. Selanjutnya DNA dimurnikan dari kotoran-kotoran seperti protein, sel debris, dan lain lain. Untuk metode pemurnian biasanya digunakan tehnik sentrifugasi dan metode filtrasi vakum. Tetapi berbagai ilmuwan telah banyak meninggalkan cara tersebut dan beralih ke produk-produk pemurnian yang telah dipasarkan seperti produk butir magnet dari Promega Corporation yang memanfaatkan silica-coated paramagnetic resin yang memungkinkan metode pemisahan DNA yang lebih sederhana dan cepat.&lt;br /&gt;Tahapan selanjutnya adalah memasukan sampel DNA yang telah dimurnikan kedalam mesin PCR (polymerase chain reaction) sebagai tahapan amplifikasi. Hasil akhir dari tahap amplifikasi ini adalah berupa kopi urutan DNA lengkap dari DNA sampel. Selanjutnya kopi urutan DNA ini akan dikarakterisasi dengan elektroforesis untuk melihat pola pitanya. Karena urutan DNA setiap orang berbeda maka jumlah dan lokasi pita DNA (pola elektroforesis) setiap individu juga berbeda. Pola pita inilah yang disebut DNA sidik jari (DNA finger print) yang akan dianalisa pola STR nya. Tahap terakhir adalah DNA berada dalam tahapan typing, proses ini dimaksudkan untuk memperoleh tipe DNA. Mesin PCR akan membaca data-data DNA dan menampilkannya dalam bentuk angka-angka dan gambar-gambar identfikasi DNA. Finishing dari tes DNA ini adalah mencocokan tipe-tipe DNA.&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Tes DNA yang dilakukan di Indonesia jika menilik dari faktor waktu, tergolong sangat lama. Diperkirakan memerlukan waktu sampai 12 hari kerja atau hampir dua minggu. Untuk masalah waktu ini, penulis sering mendengar dari berita TV termasuk berita pembunuhan berantai oleh Ryan, banyak dari keluarga korban Ryan yang terpaksa “menjerit” karena mayat keluarga mereka tidak dapat dikuburkan secara cepat dan terpaksa berdiam di kamar mayat selama lebih dari 1 minggu, dikarenakan harus menunggu tes DNA terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Hal ini berbanding jauh terbalik dengan waktu yang seharusnya selesai. Dari literatur yang pernah penulis baca, untuk tes DNA dengan metode elektroforesis DNA, jika dikerjakan secara cepat dan tepat dapat selesai dalam tempo 1 jam. Dan dari literatur lain menyebutkan untuk di Amerika Serikat, hasil tes DNA sudah dapat diketahui dalam waktu 3-5 hari kerja. Tetapi bagaimanapun untuk di Indonesia, mungkin masalah waktu ini masih dapat dimaklumi karena sangat terbatasnya instansi yang dapat melayani tes DNA. Tetapi bagaimanapun kecepatan dan ketepatan tes DNA di Indonesia seyogyanya dapat terus ditingkatkan.&lt;br /&gt;Situs : http://chuphy.wordpress.com/2008/08/30/apa-itu-tes-dna/&lt;br /&gt;Senin, 22 Desember 2008&lt;br /&gt;Pukul 18.00 Wita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-3355256477243174643?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/3355256477243174643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/akper-makalah-biologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/3355256477243174643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/3355256477243174643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/akper-makalah-biologi.html' title='AKPER + Makalah Biologi'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-4412484965165907780</id><published>2008-12-27T12:23:00.000-08:00</published><updated>2008-12-27T20:40:19.225-08:00</updated><title type='text'>TUGAS &amp; TANGGUNG JAWAB BIDAN</title><content type='html'>PENDAHULUAN&lt;br /&gt; Tugas dan Tanggung jawab sangat penting dalam menentukan mutu kinerja perawat dan bidan. Hal ini membutuhkan proses mental untuk menjadikan Perawat dan Bidan bekerja secara profesional. Perawat dan bidan harus waspada serta meningkatkan kinerjanya mengingat tugas dan tanggung jawab berhubungan dengan kegiatan atau tindakan mereka. Mereka perlu memonitor dan mengevaluasi semua hasil pekerjaan yang telah dilakukannya, dan selalu berupaya meningkatkan serta menjaga mutu pelayanannya.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;PENGERTIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tanggung jawab:  mengarah pada kinerja tindakan dari tugas, mencakup  tindakan para staf dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk kesejahteraan pasen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tugas:  mengarah pada hasil dari tindakan yang dilakukan. Ini berarti menerima hasil kerja atau tindakan serta tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil, serta tindakan, dan catatan  yang dilakukan dalam batas kewenangannya.  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;KONSEP TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Menempatkan kebutuhan pasen di atas kepentingan sendiri.&lt;br /&gt;• Melindungi hak pasen untuk memperoleh keamanan dan pelayanan yang berkualitas dari perawat atau bidan. &lt;br /&gt;• Selalu meningkatkan pengetahuan, keahlian serta menjaga perilaku dalam melaksanakan tugasnya.&lt;br /&gt;Tugas            &lt;br /&gt;• Dapat mempertahankan kinerja professional berdasarkan standar yang berlaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANGGUNG JAWAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab menunjukkan kewajiban. Ini mengarah kepada kewajiban yang harus dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan secara professional. Manajer dan para staf harus memahami dengan jelas tentang fungsi tugas yang menjadi tanggung jawab masing-masing perawat dan bidan serta hasil yang ingin dicapai dan bagaimana mengukur kualitas kinerja stafnya. Perawat atau bidan yang professional akan bertanggung jawab atas semua bentuk  tindakan klinis keperawatan atau kebidanan yang dilakukan dalam lingkup tugasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan kinerja yang ditampilkan guna memperoleh hasil pelayanan keperawatan atau kebidanan yang berkualitas tinggi. Yang perlu diperhatikan dari pelaksanaan tanggung jawab adalah memahami secara jelas tentang “uraian tugas dan spesifikasinya” serta dapat dicapai berdasarkan standar yang berlaku atau yang disepakati. Hal ini berarti  perawat atau bidan mempunyai tanggung jawab yang dilandasi oleh komitmen, dimana  mereka harus bekerja sesuai fungsi tugas yang dibebankan kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempertahankannya, perawat dan bidan hendaknya mampu dan selalu melakukan introspeksi serta arahan pada  dirinya sendiri (self-directed), merencanakan pengembangan diri secara kreatif dan senantiasa berusaha meningkatkan kualitas kinerjanya. Hal ini diperlukan agar mereka dapat mengidentifikasi elemen-elemen kritis untuk meningkatkan dan mengembangkan kinerja klinis mereka, guna memenuhi kepuasan pasen dan dirinya sendiri dalam pekerjaannya.  Mencatat respon dan perkembangan pasen dengan lengkap dan benar merupakan  salah satu tanggung jawab perawat atau bidan dalam melaksanakan tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUGAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas adalah mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan, dimana “tindakan” yang dilakukan merupakan satu aturan profesional. Oleh karena itu pertanggungjawaban atas hasil asuhan keperawatan atau kebidanan mengarah langsung kepada praktisi itu sendiri. Pada tingkat pelaksana sebagai  perawat atau bidan harus memiliki kewenangan dan otonomi (kemandirian) dalam pengambilan keputusan untuk tindakan yang akan mereka lakukan. Manajer ruangan (KARU) bertanggung jawab atas keputusannya terhadap pelaksanaan tugas-tugasnya, termasuk menyeleksi staf, terutama mengarah pada kemampuan kinerja mereka masing-masing. Selanjutnya, setiap perawat atau bidan sebagai anggota tim bertanggung jawab terhadap penugasan yang dilimpahkan kepadanya. Oleh karena itu, setiap perawat atau bidan harus faham terhadap pertanggungjawaban atas tugas yang dibebankan kepadanya. Kepala ruangan wajib melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dari srafnya. Perawat atau bidan professional harus dapat mempertanggungjawabkan tindakan yang dilakukan dalam pencapaian tujuan asuhan keperawatan atau kebidanan kepada pasen. Kepekaan diperlukan terhadap hasil setiap tindakan yang dilakukannya, karena berhubungan dengan tanggung jawab, pendelegasian,  kewajiban dan kredibilitas profesinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab profesional mempunyai beberapa tujuan, antara lain: (1) Perawat dan bidan harus mempertanggungjawabkan tindakannya kepada pasien, manajer dan organisasi tempat mereka bekerja. (2) Mereka bertanggungjawab terhadap tindakan yang diambil untuk pasen dan keluarganya, masyarakat dan juga terhadap profesinya. (3) Mengevaluasi praktek profesional dan para stafnya. (4) Menerapkan dan mempertahankan standar yang telah ditetapkan dan yang dikembangkan oleh organisasi. (5) Membina ketrampilan personal staf masing-masing. (6) Memastikan ruang lingkup dalam proses pengambilan keputusan secara jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEKANISME TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Keperawatan atau Kebidanan Klinis &lt;br /&gt;Kelompok perawat atau bidan bertanggung jawab selama 24 jam, 7 hari dalam seminggu untuk merencanakan, mengimplementasikan dan mengevaluasi asuhan keperawatan atau kebidanan untuk sekelompok pasennya. Mereka mempunyai wewenang penting untuk memenuhi tanggung jawabnya. Untuk itu mereka harus memiliki wewenang dalam memenuhi tanggung jawabnya dan harus mampu menerima akontabilitas untuk pencapaian hasil praktek keperawatan atau kebidanan. Kewenangan yang dimiliki  perawat atau bidan untuk memberikan asuhan keperawatan atau kebidanan diarahkan langsung kepada pasen pada setiap saat dalam pelaksanaan tugas. Praktek klinik keperawatan atau kebidanan merupakan instrument yang sudah biasa dilakukan dan dapat dipergunakan dalam mempromosikan praktek profesionalnya. Seorang manajer dapat mengembangkannya melalui dorongan dan kepercayaan terhadap staf perawat atau bidan, agar mereka semakin memiliki kesadaran, dan kemampuan klinis dalam memberikan pelayanan yang berkualitas tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Etika Perawat / Bidan&lt;br /&gt;Kerangka konsep dan dimensi moral dari suatu tanggung jawab dan akontabilitas dalam praktek klinis keperawatan dan kebidanan didasarkan atas prinsip-prinsip etika yang jelas serta diintegrasikan ke dalam pendidikan dan praktek klinis. Hubungan perawat atau bidan dengan pasen dipandang sebagai suatu tanggung jawab dan akuntabilitas terhadap pasien yang pada hakekatnya adalah hubungan memelihara (caring). Elemen dari hubungan ini dan nilai-nilai etiknya  merupakan tantangan yang dikembangkan pada setiap sistem pelayanan kesehatan dengan berfokus pada sumber-sumber yang dimiliki. Perawat atau bidan harus selalu mempertahankan filosofi keperawatan atau kebidanan yang mengandung prinsip-prinsip etik dan moral yang tinggi sebagaimana perilaku memelihara dalam menjalin hubungan dengan pasen dan lingkungannya. Sebagai contoh, ketika seorang perawat/bidan melakukan kesalahan dalam memberikan obat kepada pasen, dia harus secara sportif (gentle) dan rendah hati (humble) berani mengakui kesalahannya. Pada kasus ini dia harus mempertanggungjawabkan kepada: (1) pasen sebagai konsumen, (2) dokter yang mendelegasikan tugas kepadanya, (3) Manajer Ruangan yang menyusun standar atau pedoman praktek yang berhubungan dengan pemberian obat (4) Direktur Rumah Sakit atau Puskesmas yang bertanggung jawab atas semua bentuk pelayanan di lingkungan organisasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertahankan Tugas dan tanggung jawab  Profesional dalam Asuhan Keperawatan atau Kebidanan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Terhadap Diri Sendiri; (a) Tidak dibenarkan setiap personal melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan status kesehatan pasen. (b) Mengikuti praktek keperawatan atau kebidanan berdasarkan standar baru dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi canggih. (c) Mengembangkan opini berdasarkan data dan fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Terhadap Klien atau Pasen; (a) Memberikan informasi yang akurat berhubungan dengan asuhan keperawatan atau kebidanan. (b) Memberikan asuhan keperawatan atau kebidanan berdasarkan standar yang menjamin keselamatan, dan kesehatan pasen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Terhadap Profesinya; (a). Berusaha mempertahankan, dan memelihara kualitas asuhan keperawatan, atau kebidanan berdasarkan standar, dan etika profesi. (b) Mampu dan mau mengingatkan sejawat perawat/bidan untuk bertindak profesional, dan sesuai etik moral profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Terhadap Institusi/Organisasi;  Mematuhi kebijakan dan peraturan yang berlaku, termasuk pedoman yang disiapkan oleh institusi atau organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Terhadap Masyarakat;  Menjaga etika dan hubungan interpersonal dalam memberikan pelayanan keperawatan, atau kebidanan yang berkualitas tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab dan akontabilitas memerlukan dasar komitmen yang kuat dalam praktek keperawatan atau kebidanan untuk dapat mengembangkan kemampuannya secara mandiri. Disamping itu diperlukan kemampuan untuk dapat mengarahkan dirinya sendiri, sehingga dapat mengidentifikasikan elemen-elemen kritikal untuk pengembangan atau peningkatan kinerjanya dalam pelaksanaan tugasnya, dalam rangka mempertahankan tercapainya status profesionalnya. Melalui pembelajaran diri secara terus menerus, perawat atau bidan harus senantiasa meningkatkan pengetahuan, kemampuan, serta memelihara perilaku yang etis dan professional untuk  menghasilkan kinerja klinis yang berkualitas tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut akan tercapai apabila semua fungsi tugas dan kegiatan dilandasi etika dan standar dengan memanfaatkan dan menerapkan mekanisme akontabilitas untuk memenuhi kepuasan pasen dan kepuasan bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patricia A. Potter and Anne G.Perry ,1989 “ Fundamental Of Nursing, Concepts, Process ,and Practice,  The Mosby Company,USA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ann Marine- Tomey R.N,Ph.D,FAAN, 1992” Guide To Nursing Management and Leadership “ Mosby Company ,USA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-4412484965165907780?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/4412484965165907780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/tugas-tanggung-jawab-bidan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/4412484965165907780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/4412484965165907780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/tugas-tanggung-jawab-bidan.html' title='TUGAS &amp; TANGGUNG JAWAB BIDAN'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-3130392572009048434</id><published>2008-12-27T11:55:00.000-08:00</published><updated>2008-12-28T21:17:30.730-08:00</updated><title type='text'>CURHAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WHE5pzolTN0/SVaMgRy20mI/AAAAAAAAAA0/Zwgx0aJpL_Y/s1600-h/CCC.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 228px; height: 205px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WHE5pzolTN0/SVaMgRy20mI/AAAAAAAAAA0/Zwgx0aJpL_Y/s320/CCC.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284565698926269026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255); font-weight: bold; font-family: verdana;font-family:webdings;font-size:180%;"  &gt;UNTUK SESEORANG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;** ini ku persembahkan untuk seorang yang tak aku sadar mampu membuat aku utuh kembali, yang mampu membuat aku merasa terlahir kembali, untuk bisa peduli, mengerti dan memahami…&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;segala yang ada padanya , segala yang ia punya …&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;walau mesti itu aku hanya bisa aku miliki dalam lelap tidurku…&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;walau mesti aku harus berserah pada mimpi sepanjang malamku….&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;walau aku mesti rela dan ihlas untuk merasakan cinta hanya dengan hayalku…&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;aku akan coba peduli, mengerti, memahami dan menyayangi…&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;semoga seorang yang tak aku sadar telah menjadi bagian dari diriku akan mampu merasa cinta yang sebenarnya,memiliki cinta yang sesungguhnya, cinta suci dari ihlas nurani…&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;walau aku harus berserah pada mimipi…&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;walau aku harus melangkah kembali dalam perjalanan sunyiku…&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;aku akan mencoba tetap peduli, mengerti dan memahami…..&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;untukmu dan karenamu….&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;semoga aku mampu …**&lt;/span&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;tengah malam ketika pucat bulan&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;ketika keresahan terus menyapa dari dasar lorong jembatan jiwa&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;malam saat engkau selalu ada mengusap peluh keruh seluruh&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;menemani di setiap sepi dan sunyi yang menahan mimpiku&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;hampir setiap malam yang tuli dan dungu itu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;diam-diam mengintip dari balik bilik tirai rasa yang telah kusam&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;hadirmu tak kusangka membuka pintu hati&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;bersinggah tahta dalam altar tertinggi jiwa&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;pijarkan satu cahaya di setiap sudut ruang kosong&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;menerangi temaram senyap sepiku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;mungkin aku telah tertawan cinta&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;ataukah memang dia adalah keindahan yang kurindukan selama ini&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;atau dia adalah kerinduan itu sendiri yang memberi kedamaian&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;yang aku rasa dialah yang sekarang ini mengisi kosongnya hati&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;dialah yang sekarang ini menjadi peri di hati&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;telah aku tanyakan pada embun berkabut di puncak sindoro kala itu&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;dengan letak pijak kaki di bibir kawah yang tertelan kabut putih&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;telah kutinggal pesan pula pada edelweis untuknya…. tentang keabadian cinta&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;juga ku goreskan tanah berkapur merah pada bebatuan yang terengkuh ilalang&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;ku tulis dengan jelas “engkau telah membuatku merasa kembali utuh”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;seperti senja yang tak ingin berpisah meninggalkan langit bercakrawala&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;begitupun aku yang tak kan bisa membiarkan ia tanpa peduli&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;sebagaimana senandung fajar yang selalu ada untuk embun pagi&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;begitupun aku yang ingin selalu ada untuk dia&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;walau mungkin aku tak cukup sempurna untuk dia miliki&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;karena aku ini hanyalah serpih pecahan kehidupan yang ingin aku maknai&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;walau mungkin aku tak cukup indah untuk menghiasi hatinya&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;karena aku ini hanyalah dedaunan kering yang berguguran terhempas waktu&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;namun…..&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;aku akan mencoba untuk selalu peduli&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;aku akan mencoba mengerti dan memahami&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;aku akan mencoba untuk selalu menyayangi&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;untuknya… karenanya&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;semoga aku mampu….&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;________________________________________________________________________________________&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;** ada dalam setiap harapku semoga dia tumbuh dewasa… menjadi gadis yang bijaksana dalam setiap masalah dalam kehidupan … semoga dia menjadi gadis yang mempunyai kebesaran hati….&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;semoga dia tetap menjadi yang indah dalam diri dan hatiku **&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-3130392572009048434?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/3130392572009048434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/untuk-seseorang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/3130392572009048434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/3130392572009048434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/untuk-seseorang.html' title='CURHAT'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WHE5pzolTN0/SVaMgRy20mI/AAAAAAAAAA0/Zwgx0aJpL_Y/s72-c/CCC.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-4511870850254461490</id><published>2008-12-27T02:07:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T18:59:24.955-08:00</updated><title type='text'>laporan fisiologi tekanan darah arteri</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat seseorang yang memeriksa tekanan darah dengan menggunakan alat yang sering disebut tensimeter. Dari pengukuran tekanan darah ini kemudian didapatkan hasil, misalnya 120/80 mmHg yaitu tekanan darah sitole per diastole. Naik turunnya gelembung tekanan darah seirama dengan pemompaan jantung untuk mengalirkan darah di pembuluh arteri. Tekanan darah memuncak pada saat jantung memompa, ini dinamakan “systole:, dan menurun sampai pada tekanan terendah yaitu saat jantung tidak memompa (relaxes) ini disebut “Diastole” Kemudian timbul pertanyaan dalam benak kita bagaimana cara menentukan angka-angka tersebut, atau adakah hal yang memepengaruhi sehingga tekanan darah setiap orang berbeda-beda dan bagaimana pengaruhnya terhadap keadaan fisiologis seseorang.&lt;br /&gt;Masalah-masalah tersebut akan dipraktikkan dan dipelajari dalam praktikum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Tujuan Percobaan&lt;br /&gt;Tujuan dari percobaan ini adalh :&lt;br /&gt;1. Mempelajari cara-cara pengukuran tekanan darah arteri.&lt;br /&gt;2. Mempelajari beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah secara fisiologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan darah adalah hal vital dalam hidup. Tekanan darah memungkinkan untuk darah bersirkuasi ke seluruh tubuh kita. Dengan setiap gerakan jantung, darah di pompa keluar dari jantung ke pembuluh-pembuluh darah. Darah merupakan pembawa oksigen dan makanan ke organ-organ vital seperti otak, jantung dan ginjal sehingga mereka bisa bekerja. Tekanan darah adalah kekuatan darah terhadap didnding pembuluh darah (www.upmc.com, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan darah arteri adalah kekuatan darah ke didinding pembuluh darah yang menampung , mengakibatkan tekanan ini berubah-ubah pada setiap siklus jantung. Pada saat ventrikel kiri memaksa darah masuk ke aorta ,tekanan naik sampai puncak yang disebut tekanan sistolik. Pada waktu diastole tekanan turun sampai mncapai titik terendah yag disebut tekanan diastole (Guyton,2007).&lt;br /&gt;Tekanan darah dinilai dalam 2 nilai, sebuah tekanan tinggi sistolik yang menandakan kontraksi maksimal jantung dan tekanan rendah diastolik atau tekanan istirahat. Pemeriksaan tekanan darah biasanya dilakukan pada lengan kanan, kecuali pada lengan tersebut terdapat cedera. Perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik disebut tekanan denyut. Di Indonesia, tekanan darah biasanya diukur dengan tensimeter air raksa (http://id.wikipedia.org, 2008).&lt;br /&gt;Tekanan darah arteri rata-rata adalah gaya utama yang mendorong darah ke jaringan. Tekanan ini harus diatur secara ketat karena dua alasan. Pertama, tekanan tersebut harus cukup tinggi untuk menghasilkan gaya dorong yang cukup, tanpa tekanan inin, otot dan jaringan lain tidak akan menerima aliran yang adekuat seberapapun penyesuaian lokal mengenai resistensi arteriol ke organ-organ tersebut dilakukan. Kedua, tekanan tidak boleh telalu tinggi sehingga menimbulkan beban kerja tambahan bagi jantung dan meningktkan resiko kerusakan pembuluh serta kemungkinan lupturnya pembuluh-pembuluh halus (Sherwood, 2005).&lt;br /&gt;Pusat integritas yang menerima impuls aferen menegenai status tekanan arteri adalah pusat control kardiovaskuler, yang terletak pada medulla di batang otak. Sebagai jalur aferen adalah system saraf otonom. Jika karena suatu hal tekanan arteri meningkat di atas normal, baroreseptor sinus karotis dan lengkung aorta meningkatkan kecepatan pembentukan potensial aksi di neuron aferen. Setelah mendapatkan informasi bahwa tekanan arteri terlalu tinggi oleh peningkatan potensial tersebut, pusat control kardiovaskuler berespons dengan mengurangi aktivitas simpatis dan meningkatkan aktivitas parasimpatis ke system kardiovaskuler. Sinyal-sinyal eferen ini menurunkan kecepatan denyut jantung, menurunkan volume sekuncup, dan menimbulkan vasodilatasi arteriol dan vena, yang pada gilirannya menurunkan curah jantung dan resistensi perifer total, sehingga tekanan darah kembali ke tingkat normal (Sherwood, 2005).&lt;br /&gt;Tekanan darah di aorta dan di brakial dan arteri besar lainnya pada orang dewasa tekanan sitolik berkisar 120 mmHg selama siklus jantung dan turun menjadi minimum (tekanan diastole) sekitar 70 mmHg. Takanan darah arteri biasanya ditulis dengan tekanan systole per tekanan diastole, 120/70 mmHg. Tekanan nadi, berbeda antara tekanan sistole dan diastole, normalnya sekitar 50 mmHg. Tekanan rata-rata adalah tekanan rata-rata seluruh siklus jantung. Karena systole lebih singkat daripada diastole, tekanan rata-rata merupakan nilai tengah antara tekanan systole dan diastole. Hal ini sebenarnya bisa hanya ditentukan oleh luas integritas dari kurva tekanan, bagaimanapun sabagai perkiraan, tekanan rata-rata sebanding dengan tekanan diastole ditambah satu-tiga dari tekanan nadi (Ganong, 2000).&lt;br /&gt;Dua faktor utama yang mempengaruhi tekanan nadi, (1) curah volume sekuncup dari jantung dan (2) komplians dari sistem arteri. Volume sekuncup jantung adalah jumlah darah yang dipompa dari tiap-tiap ventrikel pada setiap denyut jantung, dalam keadaan normal volume sekuncup sekitar 70 ml, tetapi dalam keadaan yang sesuai dengan kehidupan ,volume sekuncup dapat turun sampai beberapa milimeter per denyut dan dapat meningkat sampai sekitar 140 ml per denyut pada jantung normal dan sampai lebih lebih dari 200 ml/ denyut pada orang dengan jantung yang sangat besar, seperti pada beberapa atlit. (Guyton,2007)&lt;br /&gt;Pada umumnya semakin besar curah volume sekuncup semakin besar jumlah darah yang harus ditampung di sistem arteri pada setiap denyut jantung . dan karena itu semakin besar peningkatan dan penurunan tekanan selama diastol dan sistol ,jadi menyebabkan semakin besar tekanan nadi. Sebaliknya semakin kecil komplians sistem arteri maka makin besar tekanan yang akan terjadi pada volume sekuncup darah tertentu yang dipompa ke dalam arteri. Kadang-kadang tekanan nadi meningkat sebanyak dua kali normal pada orang lanjut usia karena arteri menjadi lebih kaku akibat arterioskolosis dan karena itu tidak fleksibel.Kemudian sebagai akibatnya tekanan nadi ditentukan kurang lebih oleh rasio curah volume sekuncup terhadap komlians arteri. Setiap kondisi sirkulasi yang mempengaruhi satu atau kedua faktor tersebut akan juga mempengaruhi tekanan nadi. .(Guyton, 2007)&lt;br /&gt;Fisiologi dari system sirkulsi sangat kompleks. Dapat dikatakan, ada banyak factor yang dapat mempengaruhi tekanan arteri. Diantaranya bisa dipengaruhi oleh factor fisiologi, seperti diet, kegiatan fisik, saki, obat-obatan atau alcohol, obesitas, keelbihan berat dan dan seterusnya (http://en.wikipedia.org, 2008).&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang dapat mempertahan aliran darah adalah sebagai berikut, (1) Kekuatan jantung memompakan darah membuat tekanan yang dilakukan jantung sehingga darah bisa beredar ke seluruh bagian tubuh dan darah dapat kembali lagi ken jantung, (2) Visikositas atau kekentalan darah,disebabkan oleh protein plasma dan jumlah sel darah ang beredar dalam aliran darah, (3) elastisitas dinding aliran darah. Didalam arteri tekanan lebih besar darip[ada di dalam vena sebab otot yang membungkus arteri lebih elastis dari pada vena, (4) tahanan tepi. Tahanan yang dikeluarkan oleh darah mengalkir dalam pembuluh darah dalam sirkulasi darah besar yang berda dalam arterial. Turunnya tekanan mengakibatkan denyut jantung pada kapiler dan vena tidak teraba.(Guyton,2007)&lt;br /&gt;Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari (http://id.wikipedia.org, 2008).&lt;br /&gt;Hingga saat sekarang alat ukur yang masih terandalkan untuk mengukur tekanan darah secara tidak langsung ialah sfigmomanometer air raksa. Kadang-kadang dijumpai sfigmomanometer dengan pipa air raksa yang letaknya miring terhadap bidang horisontal (permukaan air) dengan maksud untuk memudahkan pembacaan hasil pengukuran oleh pemeriksa. Untuk sfigmomanometer semacam ini perlu dilakukan koreksi skala ukurannya karena seharusnya pipa air raksa tegak lurus terhadap permukaan air. Manset yang digunakan dapat berbeda lebarnya bergantung kepada lingkar lengan. Secara garis besar American Heart Association menganjurkan penggunaan lebar manset sebagai berikut: di bawah 1 tahun 2.5 cm ,1 -- 4 tahun 5 atau 6 cm, 4 -- 8 tahun 8 atau 9cm, dewasa 12.5 cm, dewasa obese 14 cm (http://do.qwertyy.cn/do.htm, 2008 ).&lt;br /&gt;Menurut laporan WHO yang panting ialah lebar kantong udara dalam manset harus cukup lebar untuk menutupi 2/3 panjang lengan atas. Demikian pula panjang manset harus cukup panjang untuk menutupi 2/3 lingkar lengan atas. Ukuran manset yang tertentu tersebut bertujuan agar tekanan udara dalam manset yang ditera dengan tinggi kolom air raksa, benar-benar seimbang dengan tekanan sisi pembuluh darah yang akan diukur (http://do.qwertyy.cn/do.htm, 2008 ).&lt;br /&gt;Metode Palpasi&lt;br /&gt;Nilai minimum dari systole dapat dihitung secara kasar tanpa perlatan dengan cara palpasi., pada umumnya dipakai dalam keadaan darurat. Palpasi dari arteri radial indikasi tekanan darahnya yaitu 80 mmHg, arteri femuralis paling rendah 70 mmHg, dan nadi karotis minimal 60 mmHg (http://en.wikipedia.org, 2008).&lt;br /&gt;Metode Auskultasi&lt;br /&gt;Untuk melakukan pengukuran tekanan secara rutin pada penderita, tidaklah mungkin untuk menggunakan bermacam-macam pencatatan tekanan yang mengaharuskan jarum masuk kedalam arteri,walaupun cara tersebut kadang-kadang diperlukan pada penelitian khusus. Sebagai gantinya para klinisi menetukan tekanan sistolik dan diastolik deengan cara tidak lansung bisanya dengan menggunakan cara auskultasi. .(Guyton, 2007)&lt;br /&gt;Memperlihatkan cara auskultasi untuk menentukan tekanan arteri sistolik dan diastolik.sebuah stetoskop diletakkan pada arteri antecubiti, dan disekeliling lengan atasdipasang sebuah manset tekanan darah yang digembungkan. Selama manset mnekan lengan dengan sedikit sekali tekanan sehingga arteri tetap terdistensi dengan darah, tidak ada bunyi yang terdengar melalui stetoskop ,walaupun sebenarnya darah alam arteri tetap berdenyut . bila tekanan dalam manset itu cukup besar untuk menutup arteri selama sebagian siklus tekanan arteri, pada setiapa denyutan akan terdengar bunyi. Bunyi-bunyi ini di sebut bunyi korotkoff. (Guyton, 2007)&lt;br /&gt;Auskultasi adalah metode yang menggunakan stetoskop dan sphygmomanometer. Ini terdiri dari sebuah inflatable (riva rocci) spontan ditempatkan di sekitar lengan atas di sekitar yang sama vertikal tinggi sebagai jantung, terlampir ke air raksa atau aneroid manometer. The raksa manometer, dianggap sebagai standar baku untuk pengukuran tekanan arterial, mengukur ketinggian kolom dari air raksa, memberikan hasil yang mutlak tanpa perlu untuk kalibrasi, dan akibatnya tidak tunduk pada kesalahan dan penyimpangan dari kalibrasi yang mempengaruhi metode lain. Penggunaan air raksa manometers sering diperlukan dalam percobaan klinik dan untuk pengukuran klinis hipertensi pada pasien berisiko tinggi, seperti ibu hamil (http://en.wikipedia.org, 2008).&lt;br /&gt;Dalam menentukan tekanan darah dengan cara auskultasi ,tekanan dalam manset mula-mula dinaikkan sampai tekanan diatas arteri sistolik. Selama tekanan ini lebih tinggi daripada tekanan sistolik ,arteri brakialis tetap kolaps dan tidak ada darah yang mengalir kedalam arteri yang lebih distal sepanjang bagian siklus tekanan yang manapun .oleh karena itulah, tidak akan terdenga bunyi korotkoff dibagian arteri yang lebih distal. Namun kemudian tekanan dalam manset secara bertahap dikurangi. Begitu tekanan dalam manset menurun dibawah tekanan sistolik akan ada darah yang mengalir melalui arteri yang terletak dibawah manset elama puncak tekanan sistolik dan kita mulai mendegar bunyi berdetak dalam arteri antecubiti yang sinkron dengan denyut jantung. Begitu bunyi terdengar , nilai tekanan yang ditunjukkan oleh manometer yang dihubungkan dengan manset kira-kira sama dengan tekanan sistolik.(Guyton, 2007).&lt;br /&gt;Bila tekanan dalam manset diturunkan lebih lanjut ,terjadi perubahan kualitas bunyi berdetaknya menjadi berkurang namun lebih berirama dan bunyinya lebih kasar. Kemudian,akhirnya sewaktu tekanan dalam manset turun sampai sama dengan tekanan diastolik ,arteri tersebut tidak tersumbat lagi , yang berarti bahwa faktor dasar yang menimbulkan terjadinya bunyi dalah pancaran darah melewati arteri yang tertekan tidak ada lagi. Oleh karena itu bunyi tersebut mendadak berubah menjad meredam dan biasanya menghilang seluruhnya setelah tekanan dalam manset turun lagi sebanyak 10 sampai 10 milimeter. Kita catat tekanan pada manometer ketika bunyi korotkoff berubah menjadi meredam,dan tekanan ini kurang lebih sama dnga tekanan diastolik. .(Guyton, 2007)&lt;br /&gt;Ketika tekanan darah tinggi, ini akan menyebabkan krusakan pembuluh, serangan jantung, stroke, dan masalah lainnya. Tekanan darah yang tinggi biasa disebut “silent killer”, karena biasanya tidak menimbulkan gejala sampai terjadi kerusakan (http://blstc.msn.com, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;METODOLOGI PERCOBAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1 Alat&lt;br /&gt;Alat-alat yang dibutuhkan dalam percobaan ini adalah :&lt;br /&gt;1. Manometer air raksa atau aneroid.&lt;br /&gt;2. Stetoskop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.2 Cara Kerja&lt;br /&gt;Dalam mencatat tekanan darah secara fisiologis, orang coba harus berada dalam keadaan yang menyenangkan dan lepas dari pengaruh-pengaruh yang dapat mempengaruhi hasil pencatatan. Pencatatan tekanan darah ini adalah dengan metode tak langsung.&lt;br /&gt;I. Cara palpasi (metode Riva Rocci)&lt;br /&gt;Segala bentuk pakaian harus dilepaskan dari lengan atas dan manset dipasang dengan ketat dan sempurna pada lengan. Bila manset tidak terpasang dengan tepat maka dapat diperoleh pembacaan yang abnormal tinggi. Saluran karet dari manset kemudian dihubungkan dengan manometer. Sekarang rabahlah arteri radialis pada pergelangan tangan orang coba dan tekanan dalam manset dinaikkan dengan memo,pa sampai denyut nadi (denyut arteri radialis) menghilang. Tekanan dalam manset kemudian diturunkan dengan memutar tombol pada pompa perlahan-lahan yaitu dengan kecepatan kira-kira 3 mm/detik. Saat dimana denyut arteri radialis teraba kembali menunjukkan tekanan darah sistolis. Dengan metode ini kita tidak dapat menentukan tekanan darah diastolis. Metode palpasi harus dilakukan sebelum melakukan auskultasi untuk menentukan tinggi tekanan sistolis yang dihatapkan.&lt;br /&gt;II. Cara auskultasi&lt;br /&gt;Metode ini pertama-tama diperkenalkan oleh seorang dokter Rusia yaitu Korotkoff pada tahun 1905. Kedua tekanan sistolis dan diastolis dapat diukur dengan menggunakan metode ini, dengan cara mendengar (auskultasi) bunyi yang timbul pada arteri brachialis yang disebut bunyi Korotkoff. Bunyi ini terjadi akibat timbulnya aliran turbulen dalam arteri yang disebabkan oleh penekanan manset pada arteri tersebut. Dalam cara auskultasi ini harus diperhatikan bahwa terdapat suatu jarak paling sedikit 5 cm, antara manset dan tempat meletakkan stetoskop. Mula-mula rabahlah arteri brachialis untuk mengetahui tempat meletakkan stetoskop. Kemuadian pompalah manset sehingga tekanannya melebihi tekanan sistolis (yang diketahui dari palpasi). Turunkanlah tekanan manset perlahan-lahan sambil meletakkan stetoskop diatas arteri brachialis pada siku. Mula-mula tidak akan terdengar suatu bunyi kemuadian akan terdengar bunyi mengetuk yaitu ketika darah mulai melewati arteri yang tertekan oleh manset sehingga terjadilah turbulensi. Bunyi yang terdengar disebut bunyi Korotkoff dan dapat dibagi dalam empat fase yang berbeda :&lt;br /&gt;Fase I : timbulnya dengan tiba-tiba suatu bunyi mengetuk yang jelas dan makin lama makin keras sewaktu tekanan menurun 10-14 mmHg berikutnya. Ini disebut pula nada letupan.&lt;br /&gt;Fase II : bunyi berubah kualitasnya menjadi bising selama penurunan tekanan 15-20 mmHg berikutnya.&lt;br /&gt;Fase III : bunyi sedikit berubah dalam kualitas, tetapi menjadi jelas dan keras selama penurunan tekan 5-7 mmHg berikutnya.&lt;br /&gt;Fase IV : bunyi meredam (melemah) selama penurunan 5-6 mmHg berikutnya. Setelah itu bunyi menghilan.&lt;br /&gt;Fase V : titik dimana bunyi menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permulaan dari fase I yaitu dimana bunyi mula-mula terdengar merupakan tekanan sistolis. Permulaan fase IV atau fase V merupakan tekanan diastolis, dengan perbedaan sevagai berikut : Fase IV terjadi pada tekanan 7-10 mmHg lebih tinggi daripada tekanan diastolis intra arterial yang diukur secara langsung. Fase V terjadi pada tekanan yang sangat mendekati tekanan diastolis intra arterial pada keadaan istirahat. Pada keadaan latihan otot atau pada keadaan yang meningkatkan aliran darah, maka fase V jaug lebih rendah dari tekanan diastolis yang sebenarnya. Pada anak-anak, fase IV lebih tepat digunakan sebagai index tekanan diastolis.&lt;br /&gt;Catatlah hasil pemeriksaan sebagai berikut : 12/82/78,yaitu :&lt;br /&gt;120 = tekanan sistolis; 82 = fase IV; 78 = fase V. Bils fase IV dan fase V adalh sama, maka ditulis : 120/78/78. Ulangilah pencatatan beberapa kali untuk memperoleh hasil yang pasti.&lt;br /&gt;III. Cara Osilasi&lt;br /&gt;Yaitu dengan melihat osilasi air taksa pada manometer. Manset dipompa sampai tekanannya 10-20 mmHg melebihi tekanan sistolis yang ditentukan dengan metode Riva Rocci. Tekanan manset diturunkan perlahan-lahan sambil memperhatikan air raksa manometer. Saat timbulnya asilasi pada manometer menunjukkan tekanan sistolis. Tekanan manset terus diturunkan sampai osilasi menghilang yang menunjukkan tekanan diastolis.&lt;br /&gt;Di dalam praktel, ketiga cara ini harus dikombinasikan untuk memperoleh hasil yang memuaskan dan dapat dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;URUTAN PENGUKURAN :&lt;br /&gt;Mula-mula tentukan tekanan sistolis dengan cara palpasi. Kosongkan manset sebentar agar orang coba tidak merasa nyeri akibat tekanan mansetyang terlalu lama. Kemudian pompalah manset sampai tekanannya melebihi tekanan sistolis sebesar 10-20 mmHg. Letakkan stetoskop dengan hati-hati pada siku di atas arteri brachialis. Jangan terlalu keras menekan stetoskop oleh karen dapat menimbulkan turbulensi yang tidak diinginkan. Turunkan tekanan manset sembari mendengarkan bunyi yang timbul dan memperhatikan osilasi yang terjadi pada manometer. Dengan cara-cara ini pasti akan diperoleh hail yang memuaskan. Setiap kali selesai melakukan pengukuran, kosongkan manset agar orang coba tidak terganggu. Hindari kontraksi otot-otot lengan orang coba oleh karena dapat mempengaruhi hasil pencatatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROTOKOL&lt;br /&gt;1.) Tekanan darah istirahat.&lt;br /&gt;Ukurlah tekanan darh orang coba, setelah berbaring selama 5 menit, etelah duduk 5 menit, dan setelah berdiri 5 menit. Orang coba harus berada dalam keadaan santai! Bandingkanlah hasil ketiga pencatatan ini. Dalam mencatat tekanan darah, gunakan kombinasi ketiga cara tadi.&lt;br /&gt;2.) Pengaruh perubahan sikap.&lt;br /&gt;Orang coba berbaring selama 5 menit. Ukurlah tekanan darah, kemudian orang coba diminta segera berdiri dan ukurlah segera tekanan darah dengan lengan lurus ke bawah. Tekanan darah diukur 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 menit sesudah berdiri.&lt;br /&gt;3.) Pengaruh kerja otot.&lt;br /&gt;Orang coba diminta untuk melakukan kegiatan misalnya berlari ditempat selama kurang lebih 3-5 menit kemuadian catatlah tekanan darah kontrol (sebelum kegiatan).&lt;br /&gt;4.) Pengaruh berpikir.&lt;br /&gt;Catatlah tekanan darah kontrol. Kemudian orang coba diminta untuk berpikir dengan kuat yaitu memecahkan soal matematika yang susah. Cststlsh trksnsn dsrshnys secepst mungkin, kslsu perlu delsgi orsng cobs berpikir. Bandingkanlah dengan tekanan darah kontrol.&lt;br /&gt;5.) Percobaan Valsava (Valsava’s Maneufer).&lt;br /&gt;Buatlah pencatatan kontrol. Orang coba diminta untuk melakukan ekspirasi kuat dengan glottis tertutup(mengedam). Catatlah tekanan darah pada saat ini dan bandingkan dengan tekanan darah kontrol.&lt;br /&gt;6.) Percobaan Muller.&lt;br /&gt;Oramg coba diminta untuk inspirasi kuat dengan glottis tertutup. Ukurlah tekanan darah dan bandingkan dengan tekanan darah kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;IV.1 Hasil&lt;br /&gt;Adapun hasil yang didapatkan dalam percobaan ini adalah :&lt;br /&gt;1. Cara palpasi&lt;br /&gt;Dengan melakukan cara palpasi didapatkan tekanan sistolik yaitu:&lt;br /&gt;- Maftuha : 100 mmHg&lt;br /&gt;- Waode Nurmila : 110 mmHg&lt;br /&gt;- Asrianti : 100 mmHg&lt;br /&gt;- Musdhalifah : 110 mmHg&lt;br /&gt;- Irma Iryanidar : 110 mmHg&lt;br /&gt;- Andi Buana Sari : 110 mmHg&lt;br /&gt;2. Cara auskultasi&lt;br /&gt;Nama orang coba : Andi Buana Sari&lt;br /&gt;Nama pemeriksa : Irmayani&lt;br /&gt;TD : 110/80 mmHg&lt;br /&gt;PROTOKOL&lt;br /&gt;a. Takanan darah istirahat&lt;br /&gt;Nama orang coba : Waode Nurmila&lt;br /&gt;Nama pemeriksa : Irmayani&lt;br /&gt;Baring : 110/80 mmHg&lt;br /&gt;Duduk : 120/80 mmHg&lt;br /&gt;Berdiri : 120/80 mmHg&lt;br /&gt;b. Pengaruh perubahan sikap&lt;br /&gt;Nama orang coba : Laode Andrias&lt;br /&gt;Nama pemeriksa : Syahrul&lt;br /&gt;TD Normal : 120/80 mmHg&lt;br /&gt;Menit ke:&lt;br /&gt;0 : 130/80 mmHg&lt;br /&gt;1 : 110/80 mmHg&lt;br /&gt;2 :110/70 mmHg&lt;br /&gt;3 : 110/80 mmHg&lt;br /&gt;4 : 110/80 mmHg&lt;br /&gt;5 : 110/80 mmHg&lt;br /&gt;c. Pengaruh kerja otot&lt;br /&gt;Nama orang coba : Musdhalifah&lt;br /&gt;Nama pemeriksa : Waode Nurmila&lt;br /&gt;TD Normal : 110/70 mmHg&lt;br /&gt;Setelah melakukan aktivitas : 110/70 mmHg&lt;br /&gt;d. Pengaruh berpikir&lt;br /&gt;Nama orang coba : Laode Andrias&lt;br /&gt;Nama pemeriksa : Rahman&lt;br /&gt;TD Normal : 110/80 mmHg&lt;br /&gt;Setelah berpikir : 110/90 mmHg&lt;br /&gt;e. Valsava&lt;br /&gt;Nama orang coba : Maftuhah&lt;br /&gt;Nama pemeriksa : Waode Nurmila&lt;br /&gt;TD Normal : 100/80 mmHg&lt;br /&gt;Valsava : 120/90 mmHg&lt;br /&gt;f. Muller&lt;br /&gt;Nama orang coba : Maftuhah&lt;br /&gt;Nama pemeriksa : Waode Nurmila&lt;br /&gt;TD Normal : 110/80 mmHg&lt;br /&gt;Muler : 110/100 mmHg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.2 Pembahasan&lt;br /&gt;1. Cara Palpasi&lt;br /&gt;Cara palpasi hanya dapat menentukan tekanan diastole dimana pada percobaan ini tekanan diastole didapatkan berkisar antara 100 mmHg sampai 110 mmHg. Palpasi dilakukan sebelum melakukan auskultasi karena dari pengukuran palpasi kita akan mendapatkan nilai standar patokan untuk mengukur tekanan darah dengan cara auskultasi.&lt;br /&gt;2. Cara Auskultasi&lt;br /&gt;Cara auskultasi dilakukan untuk mendengar bunyi pada stetoskop dalm hal ini untuk menentukan tekanan darah orang coba dan didapatkan tekanan sistolle yang sama dengan cara palpasi yaitu 110/80 mmHg. Timbulnya bunyi pada pada pemeriksaan terutama disebabkan oleh semburan darah yang melewati pembuluh yang mengalami hambatan parsial. Semburan darah ini menimbulkan aliran turbulen di dalam pembuluh yang terletak di luar area manset, dan keadaan ini akan menimbulkan getaran yang terdengar melalui stetoskop yang dikenal dengan bunyi Korotkoff.&lt;br /&gt;Protokol&lt;br /&gt;1. Tekanan Darah Istirahat&lt;br /&gt;Pada protocol ini didapatkan tekanan darah orang coba ketika baring 110/80 mmHg dan meningkat ketika duduk menjadi 120/90 mmHg. Peningkatan ini menunjukkan bahwa posisi tubuh berpengaruh terhadap tekanan darah meskipun pada saat perubahan posisi dari duduk ke berdiri tidak mengalami perubahan karena mungkin diopengaruhi oleh beberapa factor misalnya kesalahan pengukuran atau kurangnya keakuratan alat. Peningkatan tekanan darah ini terjadi karena adanya gaya grafitasi yang memepengaruhi tekanan pompa jantung lain halnya pada saat berbaring letak estermitas atas dan bawah sejajar dengan jantung sehingga kecepatan aliran darah standar. Tapi bila dalam keadaan berdiri bagian ekstermitas atas dan kepala lebih tinggi dari jantung sehingga agar supaya darah dapat sampai ke tempat yang dituju dengan pasokan yang sama dengan pada waktu berbaring, maka diperlukan tekanan pompa yang besar sehingga sehingga curah meningkat kemudian aliran balik vena meningkat dan sleanjutnya meningkatkan tekanan darah.&lt;br /&gt;2. Pengaruh Perubahan Sikap&lt;br /&gt;Perubahan sikap dapat mempengaruhi tekanan darah dimana tekanan darah meningkat yang semula duduk orang coba memiliki tekanan darah sebesar 120/80 mmHg meningkat ketika berdiri menjadi 130/80 mmHg. Hal ini karena adanya gaya grafitasi karena darah akan mengumpul pada pembuluh kapasitas vena ekstermitas inferior. Sehingga darah akan terlokalisir pada suatu tempat. Pengisian atrium kanan jantung akan berkurang sehingga pada posisi berdiri akan terjadi penurunan sementara. Setelah beberapa menit kemudian tekanan darah akan kembali normal karena sudah mulai beradaptasi dengan perubahan posisi tubuh. Hal ini karena adanya baroresptor yang menjaga tekanan arteri di kepala dan tubuh bagian atas tetap konstan. Karena tekanan arteri meningkat, baroreseptor sinus karotis dan lengkung aorta meningkatkan kecepatan pembentukan potensial aksi di neuron aferen. Setelah mendapatkan informasi bahwa tekanan arteri terlalu tinggi oleh peningkatan potensial tersebut, pusat kontrol kardiovaskuler berespons dengan mengurangi aktivitas simpatis dan meningkatkan aktivitas parasimpatis ke system kardiovaskuler. Sinyal-sinyal eferen ini menurunkan kecepatan denyut jantung, menurunkan volume sekuncup, dan menimbulkan vasodilatasi arteriol dan vena, yang pada gilirannya menurunkan curah jantung dan resistensi perifer total, sehingga tekanan darah kembali ke tingkat normal.&lt;br /&gt;3. Pengaruh Kerja Otot&lt;br /&gt;Pada percobaan ini didapatkan tekanan darah orang coba sebelum dan sesudah melakukan aktivitas adalah sama. Akan tetapi, secara fisiologis tekanan darah setelah melakukan aktivitas seharusnya meningkata. Hal inbi mungkin disebabkan karena ketidakakuratan alat atau orang coba sering berolahraga sehingga tekakan darahnya tidak segera mengalami perubahan dibandingkan orang-orang yang tidak sering berolahraga.&lt;br /&gt;Ketika kita beraktivitas maka otot-otot akan saling berkontraksi. Dalam proses kontraksi, otot memerlukan suplai oksigen yang banyak uantuk memenuhi kebutuhan akan energi. Darah sebagai media yang bertujuan untuk menyuplai O2 harus segera memenuhinya. Oleh karena itu, curah jantung akan ditingkatkan ubntuk memenuhi kebutuhan darah terseburt dan selanjutnya akan meningkatkan aliran darah. Selain itu, perangsangan implus simpatis menyebabkan vasokonstriktor pembuluh darah pada tubuh kecuali pada otot yang aktif, terjadi vasodilatasi. Hal inilah yang menyebabkan tekanan darah akan meningkat setelah melakukan aktivitas fisik. Selain itu, sewaktu otot-otot itu berkontraksi, otot-otot tersebut menekan pembuluh darah di seluruh tubuh. Akibatnya terjadi pemindahan darah dari pembuluh perifer ke jantung dan paru. Dengan demikian akan meningkatkan curah jantung yang selanjutnya m,eningkatkan tekanan darah.&lt;br /&gt;4. Pengaruh Berfikir&lt;br /&gt;Berpikir berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. Hal ini dapat dilihat dari hasil percobaan dimana ketika berpikir tekanan darah orang coba meningkat dari 110 80 mmHg menjadi 110/90 mmHg. Peningkatan kerja otak membutuhkan nutrisi dan O2 yang banyak sehingga darah akan dipompa lebih banyak ke otak. Sehingga kardiak output akan ditingkatkan yang selanjutnya akan meningkatkan aliran balik vena dan meningkatkan tahanan perifer yang kemudian menyebabkan tekanan darah meningkat. Selain itu letak otak berada diatas jantung sehingga dibutuhkan tekanan yang lebih kuat untuk mendorong darah ke otak.&lt;br /&gt;5. Percobaan Valsava (Valsava’s Maneuver)&lt;br /&gt;Dalam percobaan ini seharusnya tekanan darah orang coba akan menurun tetapi karena kesalahan perhitungan atau ketidakakuratan alat menyebabkan penyimopangan hasil. Seseorang melakukan ekspirasi kuat dengan glottis tertutup dimana tekanan intratorakal sehingga aliran balik vena menurun yang mengakibatkan curah jantung menurun dan selanjutnya menyebebkan penurunan tekanan darah.&lt;br /&gt;6. Percobaan Muller&lt;br /&gt;Dalam percobaan ini seharusnya tekanan darah orang coba akan menurun tetapi karena kesalahan perhitungan atau ketidakakuratan alat menyebabkan penyimopangan hasil. Seseorang melakukan inspirasi kuat dengan glottis tertutup maka CO2 banyak keluar. Sehingga menurunkan volume darah yang akan mengangkut Oksigen dan menurunkan curah jantung sehingga tekanan darah akan menurun.&lt;br /&gt;Selain itu, hal yang dapat kita kaji dalam percobaan ini adalah penyakit Arterioskelerosis atau pengerasan arteri. Istilah Arterioskelerosis atau pengerasan arteri sebetulnya meliputi setiap keadaan pembuluh arteri yang mengakibatkan penebalan atau pengerasan dindingnya. Arterioskelerosis merupakan penyakit yang melibatkan aorta ,cabang-cabangnya yang besar dan arteri yang berukuran sedang seperti arteri yang menyuplai darah ke bagian-bagian ekstermitas ,otak, jantungdan organ dalam utama. Arterioskelerosis tidak menyerang arteriol dan juga tidak melibatkan sirkulasi vena. Penyakit ini multifokal dan lesi unit,atau ateorema, terdiri dari massa bahan lemak dengan jaringan ikat fibrosa. Sering disertai endapan skunder garam kalsium dan poduk-produk darah.&lt;br /&gt;Tekanan darah merupakan faktor penting bagi, insiden dan beratnya arteriosklerosis. Pada umumnya penderita hipertensi akan megalami arteriosklerosis lebih awal dan lebih berat dan beratnya penyakit berhubungan dengan tekanan darah, walaupun dalam batas normal. Arteriosklerosis tidak terlihat pada arteria pulmonalis kecuali jika tekanannya meningkat secara abnormal, kedaan ini dinamakan hipertensi pulmonal. Faktor risiko lain dalam perkembangan arteriosklerosis adalah merokok. Merokok merupakan faktor lingkungan utama yang menyebabkan arteriosklerosis menjadi semakin buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1 Kesimpulan&lt;br /&gt;1. Cara-cara pengukuran tekanan darah arteri adalah dengan cara palpasi, auskultasi dan osilasi.&lt;br /&gt;2. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah secra fisiologis adalah karena istirahat, perubahan sikap, kerja otot dan pengaruh berfikir, inspirasi dan ekspirasi yang kuat.&lt;br /&gt;3. Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara diantaranya yaitu jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya, arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, dan bertambahnya cairan dalam sirkulasi.&lt;br /&gt;5.2 Saran&lt;br /&gt;Sebaiknya bagian praktikum melengkapi alat-alat laboratorium yang akan digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. ganong, William. 2001. Review of Medical Pghysiology. Lange Medical Books: New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guyton and Hall. 2007. Fisiologi kedokteran. EGC : Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Mnusia dari Sel ke Ssitem. EGC : jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Healthwise. 2007. High Blood Pressure (Hypertension)&lt;br /&gt;http://blstc.msn.com, diakses pada tanggal 19 Nopember 2008.&lt;br /&gt;University of Pittsburgh Medical Center . 2004. Blood Pressure. UPMC: USA.&lt;br /&gt;www.upmc.com, diakses pada tanggal 19 Nopember 2008.&lt;br /&gt;Singgih, Amin. 2008. Pembakuan Pengukuran Tekanan Darah.&lt;br /&gt;http://do.qwertyy.cn/do.htm, diakses pada tanggal 19 Nopember 2008.&lt;br /&gt;Wikipedia, the free encyclopedia. 2008. Blood Pressure .&lt;br /&gt;http://en.wikipedia.org, diakses pada tanggal 19 Nopember 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2008. Pemeriksaan Fisik&lt;br /&gt;http://id.wikipedia.org, diakses pada tanggal 19 Nopember 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diposting dari Blog OdheMila&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-4511870850254461490?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/4511870850254461490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/laporan-fisiologi-tekanan-darah-arteri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/4511870850254461490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/4511870850254461490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/laporan-fisiologi-tekanan-darah-arteri.html' title='laporan fisiologi tekanan darah arteri'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-2124285059442112480</id><published>2008-12-27T02:05:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T19:03:04.464-08:00</updated><title type='text'>laporan fisiologi RKP</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;Pernahkah kita melihat sesorang yang kecelakaan di pinggir jalan? Apa yang akan anda lakukan jika anda menemukan seseorang yang mengalami kecelakaan atau seseorang yang terbaring di suatu tempat tanpa bernapas spontan? apakah anda dapat menentukan orang tersebut sudah mati ? Seseorang yang mengalami henti napas ataupun henti jantung belum tentu ia mengalami kematian, mereka masih dapat ditolong. Dengan melakukan tindakan pertolongan pertama, seseorang yang henti napas dan henti jantung dapat dipulihkan kembali.&lt;br /&gt;Kejadian kegawatdaruratan sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Kecelakaan adalah hal yang tidak diinginkan oleh hampir semua orang dan dapat terjadi sewaktu-waktu dan tiba-tiba tanpa kita rencanakan. Sebagai seseorang yang akan bergelut di dunia kesehatan dan memiliki naluri kemanusiaan, kita seharusnya terpanggil untuk menolong orang yang mengalami kecelakaan yang ada di sekitar dan di dekat kita. Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk menolong orang coba celaka (untuk beberapa kasus) adalah dengan cara RKP atau Resusitasi Kardio Pulmonal atau lebih dikenal dengan resistensi jantung paru (RKP).&lt;br /&gt;Oleh karena itu maka dilakukanlah percobaan ini agar kita dapat mengetahui proses dan prosedur RKP sehingga kita dapat menolong orang yang tiba-tiba mengalami gangguan sirkulasi atau dalam keadaan darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Tujuan Percobaan&lt;br /&gt;Tujuan dari percobaan ini adalah mempelajari cara-cara mengatasi gangguan transport oksigen, baik yang disebabkan oleh berhentinya pernapasan maupun gangguan fungsi sirkulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhentinya secara tiba-tiba penampilan kardiopulmoner yang efektif dan tidak diduga sebelumnya merupakan suatu kegawatan yang memerlukan pengenalan dan tindakan sangat segera (Rilantono, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua penderita yang mengalami cardic arrest diresusitasi, melainkan hanya yang mungkin untuk hidup lama tanpa meninggalkan kelainan kelainan di otak. Jadi resusitasiialah usaha mengembalikan fungsi pernafasan dan/atau sirkulasidan penanganan akibat henti nafas (respiratory arrest) dan/atau henti jantung (cardiac arrest) pada orang, di mana fungsi tersebut gagal total oleh suatu sebab yang memungkinkan untuk hidup normal selanjutnya bila kedua fungsi tersebut bekerja kembali. Jadi bukan pada akhir suatu stadium agonal, di mana karena memburuknya keadaan umum, pusat penting dan organ semakin buruk dan akhirnya gagal total; atau pada orang yang pusat di otaknya sudah mengalami kerusakan karena sebab-sebab pernafasan/sirkulasi sehingga tidak ada lagi kemungkinan untuk hidup (www.portalkalbe/files/cdk, 2008).&lt;br /&gt;Keberhasilan resusitasi dimungkinkan oleh adanya waktu tertentu diantara mati klinis dan mati biologis. Mati klinis terjadi bila dua fungsi penting yaitu pernafasan dan sirkulasi mengalami kegagalan total. Jika keadaan ini tidak cepat ditolong, maka akan terjadi mati biologis yang irreversibel. Setelah tiga menit mati klinis (jadi tanpa oksigenisasi), resusitasi dapat menyembuhkan 75% kasus klinis tanpa gejala sisa. Setelah empat menit persen- tase menjadi 50% dan setelah lima menit 25%. Maka jelaslah waktu yang sedikit itu harus dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Di samping mati klinis dan biologis dikenal juga istilah mati sosial yaitu keadaan di mana pernafasan dan sirkulasi terjadi spontan atau secara buatan, namun telah mengalami aktifitas kortikal yang abnormal (perubahan EEG), penderita dalam keadaan sopor atau koma tanpa kemungkinan untuk sembuh; jadi dalam keadaan vegetatif (www.portalkalbe/files/cdk, 2008).&lt;br /&gt;Agar suatu resusitasi berhasil maksimal tentu saja me merlukan operator yang cekatan dan trampil. Waktu satu menit sangat berguna dan lebih baik memberikan resusitasi pada orang yang "sedang meninggal" daripada yang "telah meninggal"(www.portalkalbe/files/cdk, 2008).&lt;br /&gt;Resusitasi mengandung arti harfiah “menghidupkan kembali” tentunya dimaksudkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis (Rilantono, 2008).&lt;br /&gt;Cardiopulmonary resuscitation (CPR) adalah prosedure kesehatan emergensi untuk korban dari henti jantung atau, pada beberapa keadaan henti napas (http://en.wikipedia.org, 2008).&lt;br /&gt;CPR harus dilakukan pada waktu yang cepat untuk mencapai respon medikal. Untuk masalah ini adalah masalah esensial dimana beberapa orang yang melakukan CPR juga harus menghasilkan tindak lanjut bantuan hidup (Advanced Life Support) dari memanggil bantuan via radio melalui polisi dan prosedur dan atau menghubungi nomor telepon emergensi (http://en.wikipedia.org, 2008)&lt;br /&gt;Henti jantung merupakan hal yang paling sering menyebabkan ritme abnormal pada jantung stau yang sering disebut fibrilasi ventricular. Ketika fibrilasi ventrikularberkembang, jantung hanya bergetar dan berhenti memompa darah. Korban yang mengalami fibrilasi henti jantung memerlukan bantuan CPR dan penghantaran syok ke jantung, yang disebut defibrilisasi. Defibrilasi menghapus abnormal fibrilasi ventricular irama jantung dan mengembalikan irama jantung normal. Defibrilasi tidak efektif untuk semua bentuk henti jantung tapi ini efektif untuk penanganan fibrilasi ventrikuler, yang paling umum penyebab dari henti jantung (www.americanheart.org, 2008).&lt;br /&gt;Henti jantung sering kali merupakan akibat dari terlalu sedikitnya oksigen dalam campuran gas anestesi atau dari pengaruh depresan anestesi itu sendiri. Irama jantung yang normal biasanya dapat dipulihkan dengan menghilangkan zat anestesi dan segera menerapkan prosedur resusitasi kardiopulmonal, dan pada saat yang sama member oksigen ventilasi dalam jumlah yang cukup ke paru-paru pasien (Guyton, 2000).&lt;br /&gt;Masalah khusus pada sirkulasi adalah mencegah efek kerusakan pada otak sebagai akibat dari henti tersebut. Pada umunya, henti sirkulasi total selama lebih dari 5 hingga 8 menit dapat menyebabkan sedikitnya beberapa tingkat kerusakan otak yang permanen pada lebih dari separuh pasien. Henti sirkulasi selama 10 hingga 15 menit hampir selalu menghancurkan kekuatan mental dalam jumlah yang besar secara permanen (Guyton, 2000).&lt;br /&gt;Selama bertahun-tahun, telah diajarkan bahwa efek kerusakan otak disebabkan oleh hipoksia serebral akut yang terjadi selama henti sirkulasi. Akan tetapi, percobaan telah menunjukkan bahwa jika kita dapat mencegah timbulnya bekuan darah dalam pembuluh darah otak, dengan begitu juga akan mencegah sebagian besar kerusakan dini pada otak selama terjadinya henti sirkulasi (Guyton,2000).&lt;br /&gt;Penyebab Henti Napas dan Henti Jantung&lt;br /&gt;Penyebab henti napas dan henti jantung ini sangat banyak. Setiap peristiwa atau penyakit apapun yang menyebabkan berkurangnya oksigen dalam tubuh dapat menimbulkan keadaan henti napas dan henti jantung. Penyakit dan keadaan yang dapat menyebabkan henti napas dan henti jantung antara lain:&lt;br /&gt;a. Penyakit paru-paru, seperti radang paru, TBC, asma, dan bronchitis.&lt;br /&gt;b. Penyakit jantung, seperti jantung koroner, jantung bawaan, dan penyakit jantung lainnya.&lt;br /&gt;c. Kecelakaan lalu lintas yang mengenai rongga dada.&lt;br /&gt;d. Penyakit-penyakit yang mngenai susunan saraf.&lt;br /&gt;e. Sumbatan jalan napas oleh benda asing, misal: tersedak (www.javascriptkit.com, 2007).&lt;br /&gt;Idealnya, CPR meliputi dua bagian : kompressi dada dikombinasikan dengan mulut ke mulut bantuan pernapasan (www.mayoclinic.com, 2008).&lt;br /&gt;Bagaimanapun, kita sebagai orang yang berada di dekat korban sebenarnya harus melakukan pertolongan pada situasi yang sangat emergensi tergantung dari pengetahuan (www.mayoclinic.com, 2008)..&lt;br /&gt;Garis dasar dari penanganan ini adalah seberapa jauh kita melakukannya dengan benar daripada melakukan sesuatu yang tidak ada dari semuanya jika pengetahuan dan kemampuan 100 persen komplit. Ingat, perbedaan antara melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu untuk kehidupan seseorang (www.mayoclinic.com, 2008) .&lt;br /&gt;Prosedur pertolongan darurat, termasuk di dalamnya pengenalan henti jantung (cardiac arrest) dan henti napas (respiratory arrest) dan bagaimana melakukan RKP yang tepat untuk menyelamatkan nyawa sampai korban dapat dibawa atau tunjangan hidup lanjutan sudah tersedia. Di sini termasuk langkah-&lt;br /&gt;langkah ABC dari RKP :&lt;br /&gt;A(Airway) : Jalan nafas terbuka.&lt;br /&gt;B(Breathing) : Pernapasan, pernapasan buatan RKP.&lt;br /&gt;C(Circulation) : Sirkulasi, sirkulasi buatan.&lt;br /&gt;Indikasi tunjangan hidup dasar terjadi karena :&lt;br /&gt;1. Henti napas.&lt;br /&gt;2. Henti jantung, yang dapat terjadi karena :&lt;br /&gt;a. Kolaps kardiovaskular&lt;br /&gt;b. .Fibrilasi ventrikel atau&lt;br /&gt;c. Asistole ventrikel (www.portalkalbe/files/cdk, 2008).&lt;br /&gt;Pernapasan buatan&lt;br /&gt;Membuka jalan napas dan pemulihan pernapasan adalah dasar pemapasan buatan.&lt;br /&gt;Cara mengetahui adanya sumbatan jalan napas dan apnea :&lt;br /&gt;- Lihat gerakan dada dan perut&lt;br /&gt;- dengar dan rasakan aliran udara melalui mulut atau hidung.&lt;br /&gt;Pada sumbatan total dengan pernapasan spontan, tidak terasa/ terdengar aliran udara melalui mulut/hidung dan ada kesukaran bernapas dan berlebihan, hingga menggunakan otot pernapasan tambahan, adanya retraksi interkostal, supraklavikula dan ruang suprastemal. Pada sumbatan sebagian dengan pernapasan spontan/buat an, ada bunyi aliran udara, misalnya : snoring (karena sumbatan pada jaringan lunak hipofaring), crowing (karena laringospasme), gurgling (karena benda asing) atau wheezing (karena obstruksi bronkhial).&lt;br /&gt;Kegagalan pernapasan (apne) ditandai dengan kurang atau hilangnya usaha bernapas, tidak adanya gerakan dada atau perut bagian atas, dan tidak adanya aliran udara melalui hidung atau mulut (www.portalkalbe/files/cdk, 2008).&lt;br /&gt;Jalan napas (airway) :&lt;br /&gt;Berhasilnya resusitasi tergantung dari cepatnya pembukaan jalan napas. Caranya ialah segera menekuk kepala korban ke belakang sejauh mungkin, posisi terlentang kadang-kadang sudah cukup menolong karena sumbatan anatomis akibat lidah jatuh ke belakang dapat dihilangkan. Kepala harus dipertahankan&lt;br /&gt;dalam posisi ini. Bila tindakan ini tidak menolong, maka rahang bawah&lt;br /&gt;ditarik ke depan. Caranya :&lt;br /&gt;- Tarik mendibula ke depan dengan ibu jari sambil,&lt;br /&gt;- mendorong kepala ke belakang dan kemudian,&lt;br /&gt;- buka rahang bawah untuk memudahkan bernapas melalui mulut atau hidung.&lt;br /&gt;Penarikan rahang bawah paling baik( dilakukan bila penolong berada pada bagian puncak kepala korban. Bila korban tidak mau bernapas spontan, penolong harus pindah ke samping korban untuk segera melakukan pernapasan buatan mulut ke&lt;br /&gt;mulut atau mulut ke hidung (www.portalkalbe/files/cdk, 2008).&lt;br /&gt;Pernapasan (breathing) :&lt;br /&gt;Dalam melakukan pernapasan mulut ke mulut penolong menggunakan satu tangan di belakang leher korban sebagai ganjalan agar kepala tetap tertarik ke belakang, tangan yang lain menutup hidung korban (dengan ibujari dan telunjuk) sambil turut menekan dahi korban ke belakang. Penolong menghirup napas dalam kemudian meniupkan udara ke dalam mulut korban dengan kuat. Ekspirasi korban adalah secara pasif, sambil diperhatikan gerakan dada waktu mengecil. Siklus ini diulang satu kali tiap lima detik selama pemapasan masih belum adekuat.&lt;br /&gt;Pernapasan yang adekuat dinilai tiap kali tiupan oleh penolong, yaitu diperhatikan&lt;br /&gt;- gerakan dada waktu membesar dan mengecil&lt;br /&gt;- merasakan tahanan waktu meniup dan isi paru korban waktu mengembang dengan suara dan rasakan udara yang keluar waktu ekspirasi.&lt;br /&gt;Tiupan pertama ialah 4 kali tiupan cepat, penuh, tanpa menunggu paru korban mengecil sampai batas habis (www.portalkalbe/files/cdk, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;METODOLOGI PERCOBAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1 Alat&lt;br /&gt;Alat yang dibutuhkan dalam percobaan ini yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.2 Cara Kerja&lt;br /&gt;1. Jalan Napas&lt;br /&gt;Untuk menjamin jalan napas sangat penting dilakukan tindakan Safar Triple Airway Manoeuvre, yaitu :&lt;br /&gt;A. Adakan ekstensi kepala&lt;br /&gt;B. Sokonglah rahang&lt;br /&gt;C. Buka kedua bibir&lt;br /&gt;Bila korban telah bernapas dengan baik, maka korban dimiringkan ke possisi lateral yang akan memepertahankan airway.&lt;br /&gt;2. Pernapasan&lt;br /&gt;Bila setelah tindakan pertama tadi (Safar) tidak tampak adanya pernapasan, maka harus dilakukan pernapasan buatan :&lt;br /&gt;a. Mulut ke mulut (Mouth ti Mouth=Expired Air resuscitation)&lt;br /&gt;Setelah melakukan tindakan pertama tadi, maka penolong menarik napas dan meniupkan udara ekspirasi kedalam mulut korban sambil memperhatikan naiknya dada korban. Kemudian penolong melepaskan bibirnya dari bibir korban dan memperhatikan dada korban untuk memastikan turunnya dada korban dan merasakan hembusan napas respirasi korban. Penolong harus memastikan naik turunnya dada pada setiap pernapasan. Sikus pernapasan harus diulangi sebanyak 12 kali per menit, yaitu kali setiap 5 detik.&lt;br /&gt;b. Metode NIELSEN&lt;br /&gt;Korban ditelungkupkan dengan kepala dipalingkan ke samping beralaskan kedua punggung tangannya. Penolong berlutut di depan kepala korban dan kedua tangan ditempatkan pada kedua lengan atas korban tepat di atas sikunya. Penolong menarik dan mengangkat kedua lengan korban ke arah dirinya dengan mengayun badan ke belakang sampai terasa suatu perlawanan yang kuat. Kemudian kembalikan lengan pada sikap semula dan kedua tamntgan penolong dipindahkan ke sisi punggung dengan jari-jjari direnggangkan serta ibu jari di atas tulang belikat. Dengan kedua lengan diluruskan penolong mengayunkan badannya ke depan sehingga terjadi tekanan vertikal ke bawah pada dada korban. Kemudian penolong melepaskan tekanan dan kembali ke posisi semula. Tindakan-tindakan ini diulang setiap 5 detik.&lt;br /&gt;c. Metode SILVESTER&lt;br /&gt;Korban dibaringkan dengan terlentang dan tempatkan bantalan pakaian di bawah pertengahan punggung. Penolong berlutut di dekat kepala korban dan menghadap ke arah korban. Peganglah pergelangan tangan korban dan dengan mengayunkan tubuh ke belakang tariklah kedua tangan korban melewati kepala sampai kedua tangan terletak di atas tanah/lantai. Dengan demikian terjadi inspirasi oleh karena otot-otot dada menarik iga-iga bagian atas dada. Kemudian penolong menekankan kedua tangan korban di atas dadanya dalam vertikal ke bawah. Tindakan ini dilakukan setiap 5 detik.&lt;br /&gt;3. Sirkulasi&lt;br /&gt;Bila setelah tindakan 1 dan 2 (memperbaiki jalan napas dan pernapasan), denyut nadi masih tidak teraba yang berarti terjadi kegagalan sirkulasi maka haruslah dilakukan Kompresi Jantung Luar (External Cardiac Compression=ECC). Tanda-tanda cardiac Arrest adalah kehilangan kesadaran, apnea dan denyut nadi tidak teraba. ECC berupa menggerakkan bagian bawah sternum ke bawah dengan tangan. Pada orang dewasa penekanan sternum diakukan sebesar 3-5 cm sebanyak 60 kali permenit. Ini tidak dilakukan pada percobaan ini karena hal ini tidak boleh dilakukan pada orang yang sehat.&lt;br /&gt;Sangat pnting menentukan lebih dahulu setengah bagian bawah dari sternum yaitu mejalankan jari-jari pada bagian iga sampai bertemu di anterior dan tandailah dengan jari. Tandailah lekuk suprasternal dengan jari lain sehingga dapat diperkirakan titik tengah sternum. Pangkal telapak tangan diletakkan pada bagian bawah sternum dan tangan yang lainnya diletakkan diatasnya. Dengan lengan tetap lurus, tangan diletakkan ke bawah kemudian dibiarkan naik kembali sekali setiap detik.&lt;br /&gt;Pada anak-anak sternum ditekan dengan satu tangan sejauh 2-4 cm, sedang pada bayi digunakan 2 jari untuk menekan sejauh 1 cm.&lt;br /&gt;Pada Cadiac Arrest selain pernapasan berhenti nadi juga menghilang. Bila hanya satu penolong maka laukan dua pernapasan dan 15 kali kompressi setiap 15 detik, yaitu 2 banding 15 siklus dengan 4 siklus permenit. Bila tersedia dua penolong maka lakukan teknik 1 banding 5 yaitu 1 kali pernapasan dengan 5 kompressi dalam 5 detik yang dilakukan secara kombinasi. Pernapasan dilakukan diantara dua kompressi. Teknik kombinasi ini yang dikenal dengan istilah RKP. Setelah 1 menit tindakan ini dihentukan dan rabalah denyut nadi, bila belum teraba ulangi RKP dan periksalah denyuit nadi setiap 5 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.1 Hasil&lt;br /&gt;1. Airway (jalan napas)&lt;br /&gt;Airway dilakukan untuk membuka jalan napas agar udara dapat masuk ke paru-pariu dengan tindakan Safar Triple Airway Manoeuvre, yaitu :ekstensi kepala, menyokongl rahang, dan membuka kedua bibir dengan dua jari yaitu jari ibu dan telunjuk.&lt;br /&gt;2. Breathing (pernapasan)&lt;br /&gt;Breathing dilakukan jika pada airway korban tetap tidak menunjukkan adanya pernapasan. Breathing dapat dilakukan dengan mouth to mouth, metode Nielsen, atau Silvester.&lt;br /&gt;3. Circulation (Sirkulasi)&lt;br /&gt;Bila airway dan breathing telah dilakukan, tetapi denyut nadi tidak teraba berarti korban mengalami kegagalan sirkulasi. Saat inilah dilakukan RKP.&lt;br /&gt;IV.2 Pembahasan&lt;br /&gt;Pertolongan pertama pada korban kecelakaan dilakukan dengan RKP (resusitasi Kardio Pulmonal) atau (RJP) Resusitasi jantung Paru. RKP diberikan jika korban memiliki tanda-tanda henti jantung dan henti nafas, henti nafas tanpa henti jantung atau henti jantung tanpa ditandai dengan henti nafas.&lt;br /&gt;Sebelum melakukan pertolongan atau penanganan, hal yang paling pertama dilakukan adalah memastikan keselamatan diri dan keselamatan korban dengan membawa korban ke tempat yang aman. Setelah itu, memanggil orang yang berada disekitar untuk meminta bantuan dan sebagai saksi. Selanjutnya lakukan tindakan penanganan dengan:&lt;br /&gt;Memastikan Ketidaksadaran&lt;br /&gt;Pemeriksaan penderita sangatlah penting. Resusitasi tidak dapat dilakukan tanpa menentukan apakah korban membutuhkannya. Pada saat menemui penderita yang tidak sadar , tindakan pertama adalah memastikan ketidaksadaran. Tepuk atau goyangkan penderita dengan pelan dan berteriaklah, “Apa kau baik-baik saja?” Penderitayang mampu merespon tidak memerlukan resusitasi.&lt;br /&gt;Segera setelah anda menentukan ketidaksadaran dan memanggil bantuan, pastikan bahwa penderita terbaring terlentang (pada punggungnya) sebelum mencoba untuk membuka jalan napas dan memeriksa pernapasan dan sirkulasi.&lt;br /&gt;Membuka Jalan Napas&lt;br /&gt;Sebagian besar masalah jalan napas disebabkan oleh lidah. Ketika kepala tertekuk ke depan, terutama ketika penderita berbaring terlentang, lidah dapat menutupi jalan napas. Ketika penderita tidak sadar, resiko masalah jalan napas semakin buruk karena ketidaksadaran menyebabkan lidah kehilangan tonus ototnya dan otot rahang bawah (dimana lidah melekat) mengalami relaksasi sehingga lidah jatuh menutup jalan napas. Dua prosedur dapat membantu memulihkan posisi lidah dan membuka jalan napas. Prosedur ini adalah maneuver head-tilt, chin-lift dan maneuver jaw-thrust.&lt;br /&gt;Menentukan Hilangnya Pernapasan dan Pemberian Pernapasan bantuan awal.&lt;br /&gt;Tentukan hilangnya pernapasan dengan metode melihat-mendengarkan-merasakan (look-listen-feel). Tempatkan telinga anda disamping hidung dan mulut penderita dengan wajah menghadap dada penderita. Lihat kenaikan dan penurunan dada. Dengarkan dan rasakan udara yang keluar dari mulut atau hidung. Lakukan pemeriksaan ini maksimal dalam waktu 10 detik. Penderita yang bernapas dengan baik tidak memerlukan resusitasi.&lt;br /&gt;Jika penderita tidak bernapas, berikan pernapasan bantuan sebanyak 2 kali masing-masing pemberian selama 1 detik atau lebih dengan jeda untuk pengambilan napas. Berikan dua napas dengan volume yang cukup untuk membuat dada naik (sebanyak volume tidal 500-600 ml, 6-7 ml/Kg BB). Jika pernapasan pertama tidak sukses, reposisi kepala penderita sebelum mencoba napas kedua. Jika ventilasi kedua tidak sukses, pertimbangkan bahwa mungkin ada obstruksi benda asing pada jalan napas dan lakukan teknik pembersihan jalan napas.Pemberian napas dapat dilakukan dengan metode moth to mourh, metode Nielsen, atau metode Silvester. Volume yang diberikan harus terbatas pada napas yang dapat menyebabkan dada naik. Inilah alasan mengapa melihat kenaikan dada penderita setiap ventilasi yang diberikan dan merasakan tahanan napas sangat penting untuk dilakukan.&lt;br /&gt;Pemeriksaan Denyut Nadi&lt;br /&gt;Setelah memberikan 2 kali pernapasan bantuan langkah selanjutnya adalah menentukan hilangnya denyut nadi dengan merasakan arteri karotis pada orang dewasa atau pada anak-anak, atau dengan merasakan arteri brachial pada bayi Sementara menstabilkan kepala penderita dan mempertahankan pemiringan kepala, gunakan tangan anda yang terdekat dengan leher penderita untuk mencari “Adam’sapple”nya (tonjolan di depan leher). Taruh ujung jari telunjuk dan jari tengah anda bersamaan di atas pertengahan struktur ini. (Jangan gunakan ibu jari tangan karena ibu jari tangan ini memiliki denyut nadi sehingga dapat merasakan denyut nadi ibu jari tangan ini dan buka denyut nadi Adam’s apple). Geser ujung jari anda ke sisi leher penderita yang terdekat dengan anda. Jaga sisi telapak ujung jari tangan anda tetap pada leher penderita. (Jangan menggeser ujung jari tangan anda ke leher penderita pada sisi yang berlawanan karena dapat menyebabkan penekanan pada trakhea dan mengganggu jalan napas penderita). Cari suatu lekukan diantara Adam’s apple dan otot yang terletak di sepanjang samping leher penderita. Tekanan yang sangat kecil diberikan pada leher untuk merasakan denyut nadi karotis.&lt;br /&gt;Jika penderita mempunyai denyut nadi namun tidak bernapas (respiratory arrest), lakukan bantuan pernapasan (ventilasi buatan) Ventilasi penderita dewasa sebanyak 10-12 kali per menit (atau tiap 5-6 detik), bayi atau anak-anak sebanyak 12-20 kali per menit (tiap 3-5 detik) dan periksa nadi setiap 2 menit. Jika penderita tidak memiliki denyut nadi (cardiorespiratoryarrest) , mulai RJP (ventilasi dan kompresi dada), yaitu dengan meletakkan tumit tangan di di atas permukaan dinding dada pada setengah bagian ujung sternum, telapak tangan tidak boleh diletakkan di prosesus xifodeus. Tekanan berasal dari tubuh, bukan dari kekuatan tangan, sehingga tangan harus lurus.&lt;br /&gt;Tekanan dilakukan ke arah jantung yaitu dari setengah bagian ujung sternum ke arah bawah kira-kira 3-5 cm untuk orang dewasa. Frekuensi yang dilakukan adalah 60-70 kali per menit. Kompresi harus disertai dengan nafas buatan. Jika penolong dua orang, maka kompresi dan ventilasi dilakukan dengan frekuensi 15 : 2, yaitu 15 kompresi, 2 ventilasi. Pemijatan jantung luar ini harus juga diselingi dengan pemeriksaan pulsasi arteri karotis. RKP dihentikan pada pada kondisi: oksigenasi otak, penolong kelelahan, ada petugas gawat darurat yang datang (misalnya ambulance) atau jika korban mengalami kematian biologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1 Kesimpulan&lt;br /&gt;- RKP atau resusitasi kardiopulmonal adalah tindakan yang dilakukan pada orang yang mengalami gangguan transport oksigenasi, baik yang diakibatkan karena pernapasan berhenti maupun gangguan sistem sirkulasi.&lt;br /&gt;- RKP dilakukan pada pada kondisi darurat dilakukan dengan prosedur standar ABC, yaitu Airway, Breathing dan Circulation untuk mengembalikan fungsi oksigenasi.&lt;br /&gt;- RKP diberikan pada kondisi tertentu seperti henti jantung dan henti nafas, henti nafas tanpa henti jantung atau henti jantung tanpa ditandai dengan henti nafas.&lt;br /&gt;- Gangguan transport oksigen karena berhentinya pernapasan diatasi dengan melakukan Safar Triple Manoeuvre antara lain : mengekstensikan kepala, melakukan bukaan mulut dengan meyokong rahang bawah.&lt;br /&gt;- Kompresi jantung dilakukan dengan menggunakan teknik pijatan jantung luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2 Saran&lt;br /&gt;Sebaiknya alat-alat laboratorium yang digunakan dalam praktikum lebih dilengkapi agar praktikum dapat berjalan dengan lancar. Selain itu, dengan a;at-alat yang tersedia mahasiswa dapat mempraktekkan secara langsung agar lebih dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guyton and Hall. 2005. Text Book Medical Physiology. Elseiver Saunders: New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rilantono, Lily. 2004. Buku Ajar KARDILOLOGI. Gaya Baru : Jakarta.&lt;br /&gt;Wikipedia, the free encyclopedia. 2008. Cardiopulmonary Resuscitation.&lt;br /&gt;http://en.wikipedia.org/w/index.php, diakses pada tanggal 26 November 2008.&lt;br /&gt;Wikipedia, the free encyclopedia. 2008. Basic Life Support.&lt;br /&gt;http://en.wikipedia.org/w/index.php, diakses pada tanggal 26 November 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.mayoclinic.com. 2008. Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) : First aid,&lt;br /&gt;diakses pada tanggal 26 November 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.dynamicdrive.com. 2007. Mengatasi Gangguan Pernapasan (Kasus Henti Napas dan Henti Jantung), diakses pada tanggal 26 November 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siahaan, Oloan SM. 2oob. Resusitasi Jantung, Paru, dan Otak.&lt;br /&gt;www.portalkalbe/files/cdk, diakses pada tanggal 26 November 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerivcan Heart Association. 2008. Cardiopulmonary Resusciation. www.americanheart.org, diakses pada tanggal 26 November 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);" class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diposting dari Blog OdheMila&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-2124285059442112480?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/2124285059442112480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/laporan-fisiologi-rkp.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/2124285059442112480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/2124285059442112480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/laporan-fisiologi-rkp.html' title='laporan fisiologi RKP'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-191331775193391036</id><published>2008-12-27T01:49:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T19:03:04.464-08:00</updated><title type='text'>laporan fisiologi harvard</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;Setiap orang membutuhkan kesegaran jasmani dam beraktivitas. Olehnya itu, kita dianjurkan untuk berolah raga pasling kurang dua kali dalam seminggu. Olah raga memiliki sangat bermanfaat untuk kesehatan sistem kardiovaskuler.&lt;br /&gt;Seseorang yang sehat dan fit akan dapat melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa kelelahan yang berarti. Ia masih mempunyai cadangan tenaga yang cukup untuk suatu kegiatan ekstra seperti berolahraga dan rekreasi. Sehat dalam arti umum adalah dengan cara menjaga makanan agar cukup gizi dan menjaga kebersihan sehari-hari. Kebersihan ini meliputi kebersihan diri sendiri, misalnya mandi, berpakaian, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Kadang-kadang dalam kehidupan sehari-hari kita membandingkan bagaimana kesanggupan kita melakukan aktivitas dengan orang lain. Misalnya ketika menaiki gedung dengan tangga bersama teman, ada yang merasa sangat lelah dan adapula yang terlihat biasa saja. Hal ini dipengaruhi oleh kebugaran jasmani setiap orang. Orang yang sering berolahraga, tubuhnya akan terbiasa atau beradaptasi sehingga ketika melakukan aktivitas yang berat cadangan kekuatannya lebih banyak dibandingkan dengan yang jarang berolah raga. Selain itu, orang yang rajin berolah raga juga memiliki kerja jantung yang baik dan berujung pada lebih rendahnya tekanan darah dibanding yang jarang berolah raga.&lt;br /&gt;Oleh karena itu dam percobaan ini, kita akan mempelajari bagaimana pengaruh aktivitas terhadap kerja jantung dan perubahan fisiologis para atit sehingga berbeda dengan yang bukan atlit.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1.2 Tujuan Percobaan&lt;br /&gt;Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan kesanggupan badan untuk melakukan suatu kerja atau dengan kata lain : menentukan kapasitas kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes Harvard adalah salah satu jenis tes stress jantung untuk mendeteksi atau mendiagnosa penyakit kardiovaskuler. Tes ini juga baik digunakan dalam penilaian kebugaran, dan kemampuan untuk pulih dari kerja berat. Semakin cepat jantung berdaptasi (kembali normal), semakin baik kebugaran tubuh (http://en.wikipedia.org/wiki/Harvard_Step_Test, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan dan kekurangan tes Harvard:&lt;br /&gt;Kelebihan dari Harvard Langkah Tes:&lt;br /&gt;Peralatannya sederhana&lt;br /&gt;Mudah untuk dilakukan&lt;br /&gt;Dapat dikelola sendiri&lt;br /&gt;Kekurangan dari Harvard Langkah Tes:&lt;br /&gt;Tingkat stres tinggi&lt;br /&gt;Tidak dapat dilakukan untuk anak-anak&lt;br /&gt;Dipengaruhi oleh variasi maksimum detak jantung (HR) (http://www.fitnessvenues.com, 2008)&lt;br /&gt;Tes Harvard merupakan tes ketahanan terhadap kardiovaskuler. Tes ini menghitung kemampuan untuk berolahraga secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama tanpa lelah. Subjek (orang yang meelakukan tes) melangkah naik dan turun pada papan setinggi 45 cm. jumlah langkah yaitu 30 langkah permenit dalam 5 menit atau sampai subjek kelelahan. Kelelahan adalah ketikaa saat subjek tidak mampu lagi mempertahankan langkahnya dalam 15 detik. Subjek didudukkan dan merupakan akhir dari tes, dan denyut jantungnya kemudian dihitung dalam 1 sampai 1,5, 2 sampai 2,5, dan 3 sampai 3,5 menit (http://en.wikipedia.org/wiki/Harvard_Step_Test, 2008).&lt;br /&gt;ADAPTASI AKUT KARDIOVASKULER PADA KERJA&lt;br /&gt;FISIK&lt;br /&gt;Adaptasi fisiologik terhadap kerja fisik dapat dibagi dalamadaptasi akut dan kronik. Adaptasi akut merupakan penyesuaian tubuh yang terjadi pada saat kerja dilakukan dan adaptasikronik merupakan hasil perubahan pada tubuh oleh suatu periode program latihan fisik. Adanya kerja fisik berarti terdapat suatu pembebanan bagi tubuh dan hal ini akan mengakibatkan teijadinya mekanisme penyesuaian dari alat/organ tubuh bergantung kepada usia, suhu lingkungan, berat ringan beban, lamanya, cara melakukan dan jumlah organ yang terlibat selama kerja fisik tersebut (www.portalkalbe/files/cdk/files/04_UjiKerjaFisik.pdf, 2008).&lt;br /&gt;Fungsi utama sistem kardiovaskuler selama kerja fisik adalah menghantar darah ke jaringan yang aktip termasuk oksigen dan nutrien, dan mengangkut produk metabolit dari jaringan tersebut ke alat ekskresi. Untuk melakukan tugas tersebutbeberapa parameter tubuh mengalami perubahan, antara lain : (www.portalkalbe/files/cdk/files/04_UjiKerjaFisik.pdf, 2008).&lt;br /&gt;FREKUENSI DENYUT JANTUNG&lt;br /&gt;Frekuensi denyut jantung merupakan parameter sederhanadan mudah diukur dan cukup informatip untuk faal kardiovaskuler. Pada keadaan istirahat frekuensi denyut jantungberkisar antara 60 - 80 per menit. Hal ini mudah dideteksi dengan cara palpasi maupun dengan menggunakan alat seperti pulse meter. cardiac monitoring dan sebagainya; tempat pengukuran dapat di a.radialis, a. carotis dan pada apex jantungsendiri. Frekuensi denyut jantung terendah diperoleh pada keadaan istirahat berbaring. Pada posisi duduk sedikit meningkat dan pada posisi berdiri meningkat lebih tinggi dariposisi duduk. Hal ini disebabkan oleh efek grafitasi yang mengurangi jumlah arus balik vena ke jantung yang selanjutnya&lt;br /&gt;mengurangi jumlah isi sekuncup. Untuk menjaga agar curah jantung tetap maka frekuensi denyut jantung meningkat. Sebelum seseorang melakukan kerja fisik, frekuensi denyut jantung pra kerja meningkat di atas nilai pada keadaan istirahat. Makin baik kondisi seseorang akan diperoleh frekuensi denyut jantung yang lebih rendah untuk beban kerja yang sarna. Pada suatu saat meskipun beban ditambah tetapi frekuensi denyut jantung tetap. Frekuensi denyut jantung pada keadaan tersebut disebut frekuensi maksimal. Tiap orang mempunyai frekuensi maksimal denyut jantung yang tampaknya mempunyai hubungan erat dengan faktor usia. (Frekuensi maksimal denyut jantung =220 - usia dengan standar deviasi ± 10 denyut) (www.portalkalbe/files/cdk/files/04_UjiKerjaFisik.pdf, 2008).&lt;br /&gt;CURAH JANTUNG/CARDIAC OUTPUT (CO)&lt;br /&gt;Curah jantung adalah volume darah yang dipompa oleh jantung, khususnya oleh ventrikel selama satu menit. Satuannya dalam dm3 min-1 (1 dm3 sebanding dengan 1000 cm3 atau 1 liter). (http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Cardiac_output&amp;amp;action, 2008)&lt;br /&gt;Variasi produksi curah jantung dapat disebabkan oleh perubahan dari denyut jantung dan volume sekuncup. Denyut jantung terutama dikontrol oleh persarafan jantung, rangsangan simpatis meningkatkan denyut jantung dan perangsangan parasimpatis menurunkannya. Volume sekuncup juga tetap pada bagian yang dipersarafi, perangsangan simpatis membuat serabut otot jantung berkontraksi dengan kuat ketika diberikan perangsangan yang lama dan parasimpatis akan member rangsangan balik (bertolak belakang). Ketika kekuatan kontraksi naik tanpa peningkatan serabut yang lama, maka darah banyak yang tertinggal di dalam ventrikel, dan peningkatan fase ejeksi dan akhir dari fase sistol yaitu volume darah dalam ventrikel berkurang (Ganong, 2001).&lt;br /&gt;Total volume darah dalam sistem peredaran darah dari rata-rata orang adalah sekitar 5 liter (5000 mL). According to our calculations, the entire volume of blood within the circulatory sytem is pumped by the heart each minute (at rest). Menurut perhitungan, seluruh volume darah dalam system peredaran darah akan dipompa oleh jantung setiap menit (di istirahat). During vigorous exercise, the cardiac output can increase up to 7 fold (35 liters/minute)Latihan (aktivitas fisik) dapat meningkatkan output jantung hingga 7 kali lipat (35 liter / menit) (http://www.biosbcc.net/doohan/sample/index.htm, 2008)&lt;br /&gt;VOLUME SEKUNCUP (STROKE VOLUME)&lt;br /&gt;Volume sekuncup adalah jumlah darah yang dipompa setiap kontraksi dari ventrikel kiri dan diukur dalam ml/kontraksi. Volume sekuncup meningkat sebanding dengan aktivitas fisik. Pada keadaan normal (tidak dalam aktivitas lebih) setiap orang memilki volume sekuncup rata-rata 50-70ml/kontraksi dan dapat meningkat menjadi 110-130ml/kontraksi scara intensif, ketika melakukanaktivitas fisik. Pada atlet dalam keadaan istirahat memiliki stroke volume rata-rata 90-110 ml/ kontraksi dan meningkat setara dengan 150-220ml/kontraksi (http://www.sport-fitness-advisor.com, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ARUS DARAH&lt;br /&gt;Sistem pembuluh darah bisa membawa darah kembali ke jaringan yang membutuhkan dengan cepat dan berjalan pada daerah yang hanya membutuhkan oksigen. Pada keadaan istirahat 15-20% uplai darah di sirkulasi pada otot skelet. Selama melakukan aktivitas fisik, ini bisa meningkat menjadi 80-85% dari curah jantung. Darah akan dialirkan dari organ besar seperti ginjal, hati, perut, dan usus. Ini akan meneruskan aliran ke kulit untuk memproduksi panas (http://www.sport-fitness-advisor.com, 2008).&lt;br /&gt;Arus darah dari jantung ke jaringan tubuh bervariasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing jaringan baik dalam keadaanistirahat maupun pada kerja fisik. Jumlah absolut darah yang ke otak selalu tetap/konstan, ke otot dan jantung jumlah darah akan meningkat sesuai dengan bertambahnya beban kerja sedangkan yang ke ginjal, lambung dan usus akan berkurang pada beban kerja yang meningkat. Peningkatan arus darah ke otot yang aktif merupakan kerja persarafan vasodilator dan peningkatan metabolisme yang menimbulkan penurunan pH atau peningkatan derajat keasaman dan pada tingkat lokal akan terlihat lebih banyak kapiler dan arteriol yang membuka. Faktor lain yang berperan dalam pengaturan arus darah adalah siklus jantung. Telah diketahui bahwa dengan bertambahnya beban kerja, akan terjadi peningkatan frekuensi denyut jantung dan hal ini mengakibatkan lebih singkatnya waktu yang digunakan&lt;br /&gt;untuk satu siklus jantung termasuk fase diastole. Sedangkan pengisian pembuluh darah koroner yang terbanyak adalah padafase diastole. Dengan berkurangnya fase diastole maka arus darah koroner juga akan berkurang (www.portalkalbe/files/cdk/files/04_UjiKerjaFisik.pdf, 2008).&lt;br /&gt;TEKANAN DARAH&lt;br /&gt;Dalam keadaan istirahat,, sistole tipikal individu (normal) adalah 110-140 mmHg dan 60-90 mmHg untuk tekanan darah diastol. Selama aktivitas fisik tekanan sistol, tekanan selama kontraksi jantung (disebut sistol) bisa meningkat sampai 200 mmHg dan maksimum pada 250 mmHg yang bisa terjadi pada atlet. Tekanan diastolrelaif tidak berubah secara signifikan ketika melakukan latihan intensif. Faktanya kenaikannya lebih dari 15 mmHg sehingga latihan intensif bisa mengidentifikasi penyakit jantung koroner dan digunakan sebagai penilaian untuk tes toleransi latihan (http://www.sport-fitness-advisor.com, 2008)&lt;br /&gt;Tekanan darah selama kerja fisik memperlihatkan hubungan antara keseimbangan peningkatan curah jantung dan penurunan tahanan perifer dengan adanya vasodilatasi pada pembuluh darah otot yang bekerja. Terlihat bahwa tekanan sistolik akan meningkat secara progresiv sedangkan pada tekanan diastolik tetap atau sedikit menurun&lt;br /&gt;(www.portalkalbe/files/cdk/files/04UjiKerjaFisik.pdf, 2008).&lt;br /&gt;Berbagai penelitian sekarang ini telah menunjukkan bahwa orang yang mempertahankan kebugaran tubuh yang sesuai, menggunakan beragam latihan secara bijaksana dan melakukan pengaturan berat badan, memilkiki keuntungan tambahan, yaitu hidup lebih panjang. Khususnya antara usia 50-70 tahun, penelitian telah membuktikan bahwa kematian menjadi berkurang tiga kali lipat pada orang yang bugar daripada orang yang tidak bugar (Guyton, 2007).&lt;br /&gt;Kebugaran dapat memperpanjang kehidupan karena dua alasan.&lt;br /&gt;Pertama, kebugaran tubuh dan pengaturan berat badan sangat mengurangi penyakit kardiovaskuler. Hal ini disebabkan oleh (1) pengaturan tekanan darah yang cukup rendah dan (2) pengurangan kolesterol darah dan lipoprotein densitas rendah bersamaan dengan peningkatan lipoprotein densitas tinggi. Perubahan-perubahan ini semua bekerja sama mengurangi jumlah serangan jantung dan stroke otak (Guyton, 2007).&lt;br /&gt;Kedua, dan mingkin yang sama pentingnya orang sehat secara atletik memiliki cadangan kebugaran jasmani yang lebih banyak bila ia sedang sakit. Sebagai contoh, orang yang berusia 80 tahun, yang tidak bugar mengkin memilki system pernapasan yang membatasi pengantaran oksigen ke jaringan tubuh tidak lebih dari 1L/menit. Hal ini berarti bahwa cadangan pernapasan tidak lebih dari tiga sampai empat kali lipat. Namun, seorang yang berusia tua yang secara atletik bugar mungkin memiliki cadangan dua kali lipat. Keadaan ini khususnya penting dalam mempertahankan kehidupan bila orang yang tua tersebut menderita penyakit seperti pneumonia yang dapat dengan cepat memakai semua cadangan pernapasan yang ada. Selain itu, kemampuan untuk meningkatkan curah jantung pada waktu dibutuhkan sering lebih dari 50 persen pada orang tua yang bugar daripada yang tidak bugar (Guyton, 2007).&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;METODOLOGI PERCOBAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1 Alat&lt;br /&gt;Alat yang dibutuhkan dalam percobaan ini yaitu :&lt;br /&gt;Bangku Harvard&lt;br /&gt;Metronom&lt;br /&gt;Stopwatch&lt;br /&gt;Sphygnomanometer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.2 Cara Kerja&lt;br /&gt;Sebelum percobaan dimulai aturlah metronome dengan kecepatan 30 kali permenit yaitu sesuai dengan kecepatan naik-turun banku yang akan dilakukan. Ukurlah tekanan darah dan kecepatan denyut nadi orang coba dalam keadaan istirahat (duduk). Bila tekanan darah melebihi 160 mmHg (sistole) sebaiknya percobaan ini jangan dilakukan pada orang tersebut. Sekarang mintalah orang coba untuk melakukan kerja naik-turun bangku Harvard dengan kecepatan yang tepat 30 kai naik turun satu menit yang sesuai dengan bunyi metronome. Kerja ini dilakukan sesanggup mungkin tetapi tidak lebih dari 5 menit. Setelah selesai dengan kerja ini orang segera diminta duduk dan ukurlah tekanan darah dan denyut nadi orang coba. Kemudian lakukan pencatatan denyut nadi pada 1 menit, 2 menit, dan 3 menit setelah percobaan (denyut nadi dihitung selama 30 detik).&lt;br /&gt;Pencatatan denyut nadi dinyatakan sebagai berikut :&lt;br /&gt;F1 = denyut nadi/30 detik yang dihitung 1 ment sampai 1 menit 30 detik kemudian.&lt;br /&gt;F2 = denyut nadi/30 detik yang dihitung 2 menit sampai 2 menit 30 detik kemudian.&lt;br /&gt;F3 = denyut nadi/30 detik yang dihitung 3 menit sampai 3 menit 30 detik kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumus Indeks Kesanggupan Badan (ISK):&lt;br /&gt;CARA CEPAT&lt;br /&gt;IKB=(T x 100)/(5,5 F1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA LAMBAT&lt;br /&gt;IKB= (T X 100)/(2(F1+F2+F3) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T = lamanya orang coba naik turun (dalam detik).&lt;br /&gt;PENILAIAN :&lt;br /&gt;Lakukan percobaan ini pada setiap anggota kelompok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA CEPAT : &lt;50&gt;80 : kesanggupan baik&lt;br /&gt;CARA LAMBAT : &lt;50 : kesanggupan kurang 55-64 : kesanggupan sedang BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN  IV.1 Hasil Nama orang coba : Rahman Umur : 19 Tahun Nama Pemeriksa : a. Pengukur Tekanan Darah : K’ Fatma b. Penghitung Denyut nadi : Waode Nurmila c. Pengukur Waktu : Andi Buana Sari dan Selviana Anwar Lama naik-turun bangku Harvard : 2 menit 48 detik : 168 detik - Sebelum beraktivitas : a. Tekanan Darah : 120 / 80 mmHg b. Denyut Nadi : 80 Kali / menit - Setelah Beraktivitas : a. Tekanan Darah : 140 / 80 mmHg b. Denyut Nadi : F1 = 100 kali / menit F2 = 92 kali / menit F3 = 88 kali / menit  IKB= (T X 100)/(2(F1+F2+F3) ) = (168 x 100)/(2 (100+92+88)) = 16800/560 = 30 (kesanggupan kurang)    IV.2 Pembahasan Dalam percobaan ini orang coba diminta untuk melakukan aktivitas fisik yaitu dengan naik turun bangku Harvard yang bertujuan untuk melihat perbedaan tekanan darah dan denyut nadi atau perubahan sistem kardiovaskuler sebelum dan setelah beraktivitas. Percobaan ini dimulai dengan mengukur tekanan dan denyut nadi orang coba. Hasil pengukurannya yaitu tekanan darah 120/80 mmHg dan denyut nadi 80 kali per menit. Pengukuran tekanan darah perlu dilakukan karena orang yang bertekanan darah tinggi tidak dapat melakukan percobaan ini karena seseorang yang mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi, aktivitas jantungnya sudah cukup tinggi dari orang normal yang selanjutnya pembuluh darah untuk mengalirkan darah akan mengalami vasokontriksi dan mengakibatkan tekanan darah menjadi tinggi. Jika percobaan ini dilakukan, maka tekanan darah pada orang yang hipertensi akan lebih meningkat lagi walaupun peningkatannya tidak signifikan. Akan tetapi, hal ini akan beresiko yaitu pecahnya pembuluh darah bahkan gagal jantung Setelah orang coba melakukan naik turun bangku Harvard selama 168 detik, maka tekanan darah dan denyut nadi diukur kembali. Tekanan darah orang coba setelah aktivitas yaitu 140/80 mmHg dan denyut nadi stelah 1 menit (F1)=100 kali permenit, setelah 2 menit (F2)=92 kali permenit, dan setelah 3 menit (F3)=88 kali permenit. Kemudian dilakukan penghitungan IKB dari orang coba dan berdasarkan hasil IKB orang coba adalah 30 atau kesanggupan tubuh kurang. Hal ini belum tentu menunjukkan bahwa kesanggupan orang coba kurang karena mungkin terdapat beberapa faktor misalnya beban kerja yang diberikan tidak terlalu berat, frekuensi naik turun Harvard kurang maksimum, atau standar yang dipakai pada rumus ini merupakan standar dari luar negeri dimana orang barat dominan memiliki kapasitas kerja lebih dibandingkan kita orang Indonesia, misalnya karena faktor pemenuhan gizi atau perbedaan pola hidup dalam pekerjaan sehari-hari. Pada orang coba dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan tekanan darah (dastole) dan denyut nadi. Hal ini disebakan karena kardiak output jantungkarena kativitas yang meningkat, organ tubuh lain juga akan memerlukan supalai O2 dan nutrisi yang di dapatkan dari jantung. Oleh karena itu, kardiak output juga perlu ditingkatkan agar kebutuhan tersebut terpenuhi. Karena peningkatan kardiak output inilah dimana darah akan lebih banyak dipompa melalui aorta sehingga berpengaruh dalam peningkatan tekanan darah dimana peningkatan ini mengakibatkan gelombang tekanan yang berjalan di sepanjang arteri semakin cepat dan selanjutnya akan mengakibatkan denyut nadi meningkat. Dalam pengaliran darah ke seluruh tubuh ketika beraktivitas, ptmbuluh darah disekitar otot akan mengalami vasodilatasi (lebih besar) agar darah lebih banyak dialirkan. Vasodilatasi ini akan berlanjut pada penurunan tahanan perifer. Hal ini dapat diandaikan dengan dua buah pipa yaitu pipa kecil dan pipa besar. Tentunya pipa kecil akan memilki tahanan yang lebih besar dibandingkan dengan pipa besar. Selain itu, tekanan pada pipa besar lebih rendah dibandingkan pipa kecil demikian halnya dengan pembuluh darah. Selain itu peningkatan kardiak output juga dipengaruhi oleh peningkatan aliran balik vena akibat dari meningkatnya tonus otot karena pergerakan fisik dan penurunan tekanan intratorak. Penurunan tekanan intratorak merupakan akibat dari reaksi tubuh yaitu inspirasi yang dalam pemenuhan kebutuhan O2 untuk menghasilkan energi. Udara mengalir dari atmosfir ke paru-paru juga karena tekanan di atmosfir lebih tinggi dibandingkan tekanan intratorak. Karenan penurunan tekanan ini maka tekanan pada vena pada bagian ekstremitas bawah akan lebih tinggi sehingga akan meningkatkan aliran darah ke jantung. Peningkatan kardiak output juga dipengaruhi oleh saraf otonom yang akan merangsang saraf simpatis sehingga denyut nadi meningkat. Perlu diketahui bahwa perangsangan saraf simpatis akan menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah pada bagian tubuh yang lain kecuali pada pembuluh di disekitar otot yang telah diuraikan sebelumnya. Berhubungan dengan kardiak output, dapat dijelasan pula bahwa seorang atlit dan orang biasa memilki kardiak output yang sama. Akan tetapi, yang membedakan adalah pada kualitas volume sekuncup (jumlah darah yang dikeluarkan jantung setiap kontraksi). Setiap kali jantung berkontraksi akan menghasilkan darah yang lebih banyak dibandingkan orang biasa. Sehingga untuk menghasilkan kardiak output yang sama dengan atlit, jantung orang biasa akan lebih banyak berkontraksi. Seperti yang kita ketahui kardiak output didapatkan dari pengalian denyut jantung dengan volume sekuncup. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa kontraksi jantung pada atlit lebih sedikit tetapi karena volume sekuncup lebih banyak sehingga bisa menyamai kardiak output dari orang biasa yang jantungnya lebih banyak berkontraksi, tetapi volume sekuncupnya lebih sedikit. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tekanan darah atlit lebih rendah dibanding yang biasanya (kontraksi jantung lebih sedikit). BAB V PENUTUP  5.1 Kesimpulan Setelah melakukan percobaan ini kesimpulan yang dapat ditarik adalah : Kapasitas kerja adalah Kesanggupan sesorang untuk melakukan kerja dengan seefesien mungkin hingga batas kemampuan kerja. Dalam percobaan ini indeks kesanggupan badan orang coba setelah dilakukan perhitungan yaitu 30 atau kesanggupan badan kurang. Suatu aktivitas dapat mengakibatkan peningkatan cardiak output (CO) karena peningkatan diastole sebagai akibat dari peningkatan tonus otot dan tekanan intratorak yang menurun. Selain itu, karena adanya rangsangan otonom yang meningkatkan kerja saraf simpatis sehingga denyut jantung juga meningkat.  5.2 Saran Sebaiknya alat-alat laboratorium yang digunakan dalam praktikum lebih dilengkapi agar praktikum dapat berjalan dengan lancar. DAFTAR PUSAKA  F. ganong, William. 2001. Review of Medical Pghysiology. Lange Medical Books: New York.  Guyton and Hall. 2007. Fisiologi kedokteran. EGC : Jakarta  Doohan, James. 2000. Yhe Crdiovascular System and Exercise. http://www.biosbcc.net/doohan/sample/index.htm, diakses pada tanggal 12 November 2008.  Vanus, Fitness. 2006. Harvard Step Test. http://www.fitnessvenues.com/style.css, diakses pada tanggal 12 November 2008.  Moeloek, Dangsina. ____. Uji Kerja Fisik ( Exercise Test )Menggunakan TreadmillUntuk Deteksi Iskhemia Miokardium. www.portalkalbe/files/cdk/files/04_UjiKerjaFisik.pdf, diakses pada tanggal 12 November 2008. Wikipedia, the free encyclopedia. 2008. Cardiac Output. http://en.wikipedia.org/w/index.php, diakses pada tanggal 12 November 2008.  Wikipedia, the free encyclopedia. 2006. Harvard Step Test. http://en.wikipedia.org/w/index.php, diakses pada tanggal 12 November 2008.  Wikipedia, the free encyclopedia. 2008. Stroke Volume http://en.wikipedia.org/w/index.php, diakses pada tanggal 12 November 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);" class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diposting dari Blog OdheMila&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-191331775193391036?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/191331775193391036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/laporan-fisiologi-harvard.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/191331775193391036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/191331775193391036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/laporan-fisiologi-harvard.html' title='laporan fisiologi harvard'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-7436732117608188638</id><published>2008-12-19T02:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T19:03:04.465-08:00</updated><title type='text'>laporan fisiologi pemeriksaan fisik jantung</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Wingdings;  panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;  mso-font-charset:2;  mso-generic-font-family:auto;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter  {margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0  {mso-list-id:238712805;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-1053364782 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1  {mso-level-tab-stop:36.0pt;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-18.0pt;} @list l1  {mso-list-id:762451854;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-1180564962 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:36.0pt;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-18.0pt;  font-family:Symbol;} @list l2  {mso-list-id:928543217;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-180875416 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1  {mso-level-tab-stop:36.0pt;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-18.0pt;} @list l3  {mso-list-id:956764317;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-102336970 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1  {mso-level-tab-stop:36.0pt;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-18.0pt;} @list l4  {mso-list-id:1030110385;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:457087320 67698693 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l4:level1  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:36.0pt;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-18.0pt;  font-family:Wingdings;} @list l5  {mso-list-id:1524172662;  mso-list-type:hybrid;  mso-list-template-ids:-1253805338 67698697 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l5:level1  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:36.0pt;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-18.0pt;  font-family:Wingdings;} ol  {margin-bottom:0cm;} ul  {margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;BAB I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;1.1&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Latar Belakang&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Jantung (bahasa latin, cor) adalah sebuah rongga, organ berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang. Istilah kardiak berarti berhubungan dengan jantung, dari Yunani cardia untuk jantung.Ukuran jantung manusia kurang lebih sebesar kepalan tangan seorang laki-laki dewasa. &lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Jantung adalah satu otot tunggal yang terdiri dari&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt; lapisan endothelium. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Jant&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;ung t&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;erletak di dalam rongga thoracic, di balik tulang dada/sternum. Struktur jantung berbelok ke bawah dan sedikit ke arah kiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Dalam proses perkembangannya, makhluk hidup sangat tergantung pada berfungsinya system kardiovaskuler secara optimal, dan kelainan yang terjadi pada sistim ini akan menyebabkan konsekuensi klinik yang serius. Jantung sangant berperan penting bagi kehidupan manusia karena jantung memiliki fungsi vital yaitu untuk memompakan darah ke seluruh tubuh atau jaringan tubuh. Darah yang dipompa mengantarkan nutrisi dan O2 ke jaringan untuk kealngsungan hidupnya, sehingga jaringan dapat hidup dan menjalankan fungsi sebagaimana mestinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Melihat betapa pentingnya pernan jantung tersebut, kita perlu mempeajari tata car pemerikasaan jantung secara sederhana untuk setidaknya mengetahui kelainan-kelainan yang mungkin terjadi dari pemeriksaan ini. Dalam percobaan ini akan dilakukan pemeriksaan fisis jantung untuk mengetahui letak apeks, batas-batas jantung, dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;1.2&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Tujuan Percobaan&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Tujuan dari percobaan ini adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.4pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Mempelajari 4 cara pemeriksaan fisis jantung &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.4pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Menentukan posisi daripada apeks jantung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.4pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Menentukan batas-batas jantung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.4pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Mempelajari suara-suara yang ditimbulkan oleh aktifitas jantung selama suatu&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;siklus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;BAB II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Sistem kardiovaskuler terdiri dari jantung dan dua sistem veaskuler, sirkulasi sistemik dan sirkulasi pulmonalis. Jantung selanjutnya memompa darah ke kedua sistem vastikuler – sirkulasi tekanan pulmonalis lambat dimana disini terjadi pertukaran gas, dan kemudian sirkulasi sistemik, dimana darah dialirkan ke setiap organ, sesuai suplai dari permintaan metabolisme. Tekanan darah dan aliran darah berperan penting untuk mengontrol melalui nervus autonomi sistem. Dan juga berpengaruh pada pembedahan dan anatesi obat.pengetahuan yang baik tentang fisiologi kardiovaskuler merupakan kebutuhan untuk anastesi praktis yang baik (benar) (http://www.nda.ox.ac.uk, 2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Setiap orang tahu bahwa jantung merupakan organ vital. Kita tidak bisa hidup tanpa jantung. Bagaimanapun, jantung hanyalah sebuah pompa. Kompleks dan penting, tapi hanyalah sebuah pompa. Seperti dengan pompa-pompa yang lain jantung bisa menjadi tersumbat, kerja menurun dan membutuhkan perbaikan (adaptasi\0. Ini menjadi alasan mengapa kita perlu mengetahui tentang bagaimana keja jantung. Dengan sedikit pengetahuan tentang jantung kita dan mana yang baik dan mana yang sebaiknya atau yang buruk untuk jantung, kamu bisa setidaknya sedikit mengurangi bahaya dari ¬penyakit jantung (www.howstuffworks.com, 2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Peristiwa yang terjadi pada jantung berawal dari permulaan sebuah denyut jantung berikutnya disebut siklus jantung. Setiap siklus diawali oleh pembentukan potensial aksi yang spontan di dalam nodus sinus. Nodus ini terletak pada dinding lateral superior atrium kanan dekat tempat masuk vena kava superior , dan potensial aksi menjalar dari sini dengan kecepatan tinggi melalui kedua atrium dan kemudian melalui berkas AV ke ventrikel. Karena terdapat pengaturan khusus dalam sistem konduksi dari atrium menuju ke ventrikel, ditemukan keterlambatan selama lebih dati 0,1 detik ketika impuls jantung dihantarkan dari atrium ke ventrikel. Keadaan ini akan menyebabkan atrium akan berkontraksi mendahului kontraksi ventrikel, sehingga akan memompakan darah ke dalam ventrikel sebelum erjadi kontraksi atrium yang kuat. Jadi, atrium itu bekerja sebagai pompa pendahulu bagi ventrikel, dan ventrikel selanjutnya akan menyediakan sumber kekuatan utama untuk memompakan darah ke sistem pembuluh darah tubuh (Guyton, 2000).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Pada saat berdenyut, setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (disebut diastol). Selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung (disebut sistol). Kedua serambi mengendur dan berkontraksi secara bersamaan, dan kedua bilik juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan. Darah yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbondioksida (darah kotor) dari seluruh tubuh mengalir melalui dua vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam serambi kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, dia akan mendorong darah ke dalam bilik kanan. Darah dari bilik kanan akan dipompa melalui katup pulmoner ke dalam arteri pulmonalis, menuju ke paru-paru. Darah akan mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru, menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida yang selanjutnya dihembuskan. Darah yang kaya akan oksigen (darah bersih) mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke serambi kiri. Peredaran darah di antara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner. Darah dalam serambi kiri akan didorong menuju bilik kiri, yang selanjutnya akan memompa darah bersih ini melewati katup aorta masuk ke dalam aorta (arteri terbesar dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini disediakan untuk seluruh tubuh, kecuali paru-paru (http://id.wikipedia.org, 2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;PEMERIKSAAN JANTUNG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Inspeksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Dilakukan inspeksi pada prekordial penderita yang berbaring terlentang atau dalam posisi sedikit dekubitus lateral kiri karena apek kadang sulit ditemukan misalnya pada stenosis mitral. dan pemeriksa berdiri disebelah kanan penderita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Memperhatikan bentuk prekordial apakah normal, mengalami depresi atau ada penonjolan asimetris yang disebabkan pembesaran jantung sejak kecil. Hipertropi dan dilatasi ventrikel kiri dan kanan dapat terjadi akibat kelainan kongenital.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Mencari pungtum maksimum, Inspirasi dalam dapat mengakibatkan paru-paru menutupi jantung, sehingga pungtum maksimimnya menghilang, suatu variasi yang khususnya ditemukan pada penderita emfisema paru. Oleh kerena itu menghilangnya pungtum maksimum pada inspirasi tidak berarti bahwa jantung tidak bergerak bebas. Pembesaran ventrikel kiri akan menggeser pungtum maksimum kearah kiri, sehingga akan berada diluar garis midklavikula dan kebawah. Efusi pleura kanan akan memindahkan pungtum maksimum ke aksila kiri sedangkan efusi pleura kiri akan menggeser kekanan. Perlekatan pleura, tumor mediastinum, atelektasis dan pneumotoraks akan menyebabkan terjadi pemindahan yang sama. Kecepatan denyut jantung juga diperhatikan, meningkat pada berbagai keadaan seperti hipertiroidisme, anemia, demam (http://medlinux.blogspot.com, 2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Palpasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Pada palpasi jantung, telapak tangan diletakkan diatas prekordium dan dilakukan perabaan diatas iktus kordis (apical impulse) Lokasi point of masksimal impulse , normal terletak pada ruang sela iga (RSI) V kira-kira 1 jari medial dari garis midklavikular (medial dari apeks anatomis). Pada bentuk dada yang panjang dan gepeng, iktus kordis terdapat pada RSI VI medial dari garis midklavikular, sedang pada bentuk dada yang lebih pendek lebar, letak iktus kordis agak ke lateral. Pada keadaan normal lebar iktus kordis yang teraba adalah 1-2 cm2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Bila kekuatan volum dan kualitas jantung meningkat maka terjadi systolic lift, systolic heaving, dan dalam keadaan ini daerah iktus kordis akan teraba lebih melebar. Getaranan bising yang ditimbulkan dapat teraba misalnya pada Duktus Arteriosis Persisten (DAP) kecil berupa getaran bising di sela iga kiri sternum(http://medlinux.blogspot.com, 2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Perkusi jantung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Cara perkusi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Batas atau tepi kiri pekak jantung yang normal terletak pada ruang interkostal III/IV pada garis parasternal kiri pekak jantung relatif dan pekak jantung absolut perlu dicari untuk menentukan gambaran besarnya jantung. Pada kardiomegali, batas pekak jantung melebar kekiri dan ke kanan. Dilatasi ventrikel kiri menyebabkan apeks kordis bergeser ke lateral-bawah. Pinggang jantung merupakan batas pekak jantung pada RSI III pada garis parasternal kiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Kardiomegali dapat dijumpai pada atlit, gagal jantung, hipertensi, penyakit jantung koroner, infark miokard akut, perikarditis, kardiomiopati, miokarditis, regurgitasi tricuspid, insufisiensi aorta, ventrikel septal defect sedang, tirotoksikosis, Hipertrofi atrium kiri menyebabkan pinggang jantung merata atau menonjol kearah lateral. Pada hipertrofi ventrikel kanan, batas pekak jantung melebar ke lateral kanan dan/atau ke kiri atas. Pada perikarditis pekat jantung absolut melebar ke kanan dan ke kiri. Pada emfisema paru, pekak jantung mengecil bahkan dapat menghilang pada emfisema paru yang berat, sehingga batas jantung dalam keadaan tersebut sukar ditentukan (http://medlinux.blogspot.com, 2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Auskultasi Jantung &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Auskultasi ialah merupakan cara pemeriksaan dengan mendengar bunyi akibat vibrasi (getaran suara) yang ditimbulkan karena kejadian dan kegiatan jantung dan kejadian hemodemanik darah dalam jantung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Alat yang digunakan ialah stetoskop yang terdiri atas earpiece, tubing dan chespiece. Macam-macam ches piece yaitu bowel type dengan membran, digunakan terutama untuk mendengar bunyi dengan frekuensi nada yang tinggi; bel type, digunakan untuk mendengar bunyi-bunyi dengan frekuensi yang lebih rendah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Beberapa aspek bunyi yang perlu diperhatikan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;a) Nada berhubungan dengan frekuensi tinggi rendahnya getaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;b) Kerasnya (intensitas), berhubungan dengan ampitudo gelombang suara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;c) Kualitas bunyi dihubungkan dengan timbre yaitu jumlah nada dasar dengan bermacam-macam jenis vibrasi bunyi yang menjadi komponen-komponen bunyi yang terdengar. Selain bunyi jantung pada auskultasi dapat juga terdengar bunyi akibat kejadian hemodemanik darah yang dikenal sebagai desiran atau bising jantung (cardiac murmur) (http://medlinux.blogspot.com, 2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;BUNYI JANTUNG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Bunyi jantung adalah suara yang dihasilkan dari denyutan jantung dan aliran darah yang melewatinya. Disebut juga denyut jantung. Untuk memeriksanya digunakan stetoskop.Bunyi jantung dibagi menjadi bunyi jantung normal dan patologis yang mengindikasikan suatu penyakit. Bunyi jantung dikenali sebagai lub dan dub secara bergantian. Bunyi murmur dihasilkan oleh turbulensi aliran darah di jantung. Stenosis merupakan penyebab dari turbulensi tersebut. Insufisiensi katup menyebabkan aliran darah berbalik dan bertabrakan dengan aliran yang berlawanan arah. Pada keadaan ini, murmur akan terdengar menjadi bagian dari tiap siklus jantung (www.wikipedia.co.id, 2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Ketika stetoskop ditempatkan pada daerah yang berbeda dari jantung, maka akan terdengar 4 bunyi jantung yang bisa terdengar . respon dari gelombang bunyi dari bunyi jantung termasuk bunyi abnormal seperti murmurs) diciptakan oleh dorongan vibrasi dari penutupan katup, katup terbuka secara abnormal, vibrasi pada ruang ventrikuler, ketegangan otot jantung, dan turbuensi atau aliran darah abnormal yang melewati katup atau meewati antarruang jantung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(http://pagead2.googlesyndication.com, 2008)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Dasar dari bunyi jantung adalah bunyi pertama dan bunyi kedua, biasa disingkat sebagai S1 dan S2. S1 disebabkan oleh penutupan dari katup mitral dan katup trikuspidalis pada fase kontraksi isovoumetrik. Faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas BJ I yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm; color: rgb(255, 0, 0);" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Kekuatan      dan kecepatan kontraksi otot ventrikel, Makin kuat dan cepat makin keras      bunyinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Posisi      daun katup atrio-ventrikular pada saat sebelum kontraksi ventrikel. Makin      dekat terhadap posisi tertutup makin kecil kesempatan akselerasi darah      yang keluar dari ventrikel, dan makin pelan terdengarnya BJ I dan      sebaliknya makin lebar terbukanya katup atrioventrikuler sebelum      kontraksi, makin keras BJ I, karena akselerasi darah dan gerakan katup      lebih cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Jarak      jantung terhadap dinding dada. Pada pasien dengan dada kurus BJ lebih      keras terdengar dibandingkan pasien gemuk dengan BJ yang terdengar lebih      lemah. Demikian juga pada pasien emfisema pulmonum BJ terdengar lebih      lemah. Bunyi jantung I yang mengeras dapat terjadi pada stenosisis mitral      (http://medlinux.blogspot.com, 2008) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;S2 disebabkan karena pentupan katup aorta dan katup pomonal pada fase relaksasi isovolumetrik. Terjadinya split S2 merupakan keadaan fisiologi karena penutupan katup aorta lebih dahulu dibandingkan katup pulmonalis. Split tidak terjadi pada durasi yang tetap. Split s2 tergantung pada pernapasan, postur tubuh, dan kondisi patologis tertentu (http://pagead2.googlesyndication.com, 2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Bunyi jantung 3 (S3), ketika didengar, terdengar lebih jelas pada pada saat pengisian ventrikel. Bunyi ini normal pada bayi, tapi ketika didengarr pada orang dewasa, sering dihubungkan dengan dilasi ventrikel seperti ditemukan pada kegagalan ventrikel (http://pagead2.googlesyndication.com, 2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Bunyi jantung 4 (S4), terdengar, karena vibrasi dari dinding ventrikel selama kontraksi atrium. Bunyi ini biasanya dihubungkan dengan penegangan ventrikel, dan dan oleh karena itu bunyi ini terdengar pada pasien hipertropi ventrikel, miokardi iskemia, atau pada orang tua. Selain dari bunyi keempat jantung tersebut, yaitu bunyi lainnya seperti bunyi murmurs juga dapat didengar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;(http://pagead2.googlesyndication.com, 2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Bising (desir) jantung (cardiac murmur) ialah bunyi desiran yang terdengar memanjang, yang timbul akibat vibrasi darah turbulen yang abnormal (Moehadsjah, 2001).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;BUNYI JANTUNG ABNORMAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Irama derap (gallop rhytmh) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Istilah irama derap digunakan untuk bunyi jantung rangkap tiga yang menyerupai derap lari seekor kuda. Irama derap disebabkan adanya satu atau lebih bunyi ekstra. Penting untuk membedakan apakah bunyi ekstra terjadi pada saat sistole atau diastole. Irama derap protodiastolik terdiri atas bunyi jantung I, II, III. Irama derap presistolik terdiri atas bunyi jantung IV, I, II. Bila terdiri atas bunyi jantung III dan IV disebut irama derap sumasi. Irama derap pada neonatus menunjukkan adanya gagal jantung, juga ditemukan pada miokarditis mitral (Lande, 2008). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Opening snap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Ada dua jenis yakni yang dijumpai pada stenosis mitral dan pada stenosis trikuspid. Opening snap katup mitral terjadi akibat pembukaan valvula mitral yang stenotik pada saat pengisian ventrikel di awal diastole. Opening snap katup trikuspid timbul karena pembukaan katup trikuspid yang stenotik pada awal diastole ventrikel. Yang lebih bernilai untuk diagnostik ialah opening snap katup mitral. Opening snap tidak terdapat pada anak, hanya pada orang dewasa mitral (Lande, 2008). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Klik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Klik ialah bunyi detakan pendek bernada tinggi. Klik ejeksi sistole dini terdengar segera sesudah bunyi jantung I. Nadanya lebih tinggi daripada bunyi jantung I. Klik ejeksi disebabkan oleh dilatasi aorta dan a.pulmonal secara tibatiba. Klik ejeksi sistolik pulmonal yang terdengar pada bagian bawah jantung terdapat pada hipertensi pulmonal, stenosis pulmonal, dilatasi a.pulmonal sedangkan ejeksi sistolik aorta yang terdengar pada semua permukaan jantung ditemukan pada koarktatio aorta, stenosis aorta, insufisiensi aorta dan hipertensi sistemik. Dapat didengar pada batas kiri sternum. Klik middiastolik dijumpai pada prolapsus katup mitral (Lande, 2008).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;BAB III&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;METODOLOGI PERCOBAAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;III.1 Alat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Alat yang dibutuhkan untuk melakukan percobaan ini adalah stetoskop&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;III.2 Cara Kerja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -34.6pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Inspeksi (pemeriksaan pandang)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 23.1pt; text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Perhatikan posisi dari denyut apeks jantung dan nyatkan titik terendah dan terluar dari pada pulsasi jantung maksimal. Biasanya ini terletak pada ICS 5 kiri sternum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -34.6pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Palpasi (periksaan raba)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.7pt; text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Rabalah dengan jari-jari pada daerah apeks dan rasakanlah dorongan dari apeks selama systole-ventrikel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -34.6pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Perkusi ( perikasa ketuk)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.7pt; text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Letakanlah jari telunjuk tangan kiri pada dinding toraks dan ketuklah dengan jari tengah tangan kanan. Mula-mula jari telunjuk tangan kiri diletakan diatas daerah paru-paru kemudian sambil mengetuk, pindahkanlah jari tersebut menuju ke daerah jantung. Perhatikan saat terjadinya perubahan dari bunyi ketukan yang terdengar dan berilanh tanda pada tempat tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -34.6pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Auskulatasi ( periksa dengar)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Suara jantung pertama (S1)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Letakkan stetoskop pada dada yaitu pada ruang interkostal V sebelah kiri sternum di atas apeks jantung. Pada tenpat ini S1 terdengar sangat jelas dengan intensitas yang maksimum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Suara jantung kedua (S2)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Letakkan stetoskop pada ruang interkostal II sebelah kanan sternum. Disini paling jelas terdengar S2. pada daerah pulmonar (pinggir kiri sternum bagian atas) normal dapat didengar dua komponen S2 (suara kedua yang terpisah). Pemisahan (splitting) dari S2 ini menjadi lebih besar (lebih jelas) pada waktu inspirasi. Letakkan stetoskop pada pinggir kiri sternum bagian atas dan dengarkan apakan terjadi pemisahan S2 pada waktu inspirasi dalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Suara jantung ketiga (S3)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Letakkan stetoskop pada apeks jantung 9interkosta V kiri) dan dengarkan ada tidaknya S3 sesudah S2. Untuk memperjelas S3 tinggikanlah tungkai orang coba atau mintalah orang coba untuk melakukan kegiatan sebentar. Normal suara ini tidak terdengar dengan stetoskop kecuali pada keadaan patologis. S4 ini terjadi akibat kontraksi atrium yang menyebabkan darah masuk dalam ke dalam ventrikel dengan cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;BAB IV&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;IV.1 Hasil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Dari percobaan yang telah dilakukan pada orang coba atas nama Syahrul diperoleh hasil:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 25.2pt; text-align: justify; text-indent: -24.5pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="NO-BOK" style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;v&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Keadaan umum (inspeksi) : tampak sehat , skleranya normal, tidak terdapat edem.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 25.2pt; text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Thoraks : bentuknya simetris, tidak terdapat penonjolan maupun bekas luka, inspirasin dan ekspirasi normal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 25.2pt; text-align: justify; text-indent: -24.5pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="NO-BOK" style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;v&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Palpasi, perabaan pada daerah apeks jantung dengan menggunakan telapak tangan tengah diperoleh hasil: gaya dorong jantung normal dan daerah pulsasi tidak menunjukkan tanda-tanda abnormal..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 25.2pt; text-align: justify; text-indent: -24.5pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="NO-BOK" style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;v&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Perkusi jantung menghasilkan bunyi pekak relatif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 24.5pt; text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Batas atas : bunyi sonor ke pekak relative (batas atas paru-basis jantung), Intercostalis II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 24.5pt; text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Batas bawah : bunyi pekak relatif menjadi pekak (batas jantung bawah dengan hati),&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.7pt; text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Intercostalis V&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Batas kanan : perkusi kearah medial, terdengar perubahan bunyi dari dari sonor ke pekak relative (batas paru dengan jantung kanan), Linea Parastenalis Dekstra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Batas kiri : perkusi dari linea midaksila kearah media, terdengar perubahan bunyi dari sonor ke pekak relatif (batas paru kriri dengan jantung kiri), linea midclavikula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Auskultasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Mendengarkan bunyi jantung dengan menggunakan stetoskop.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;S1 : pada ruang ICS V sebelah kiri sternum (apeks), dapat terdengar jelas dengan &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;intensitas maksimum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27.3pt; text-align: justify; text-indent: -27.3pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;S2 : pada ruang ICS II sebelah kanan sternum (basal) dapat terdengar dengan jelas. Terdapat dua komponen S2 yang dapt terdengar jelas, yang pertama yaitu karena disebabkan penutupan katup aorta dan yang kedua yaitu akibat dari penutupan katup pumonalis. Suara ini dapat terdengar jelas pada saat orang coba melakukan inspirasi dalam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;S3 : tidak terdengar jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;S4 : tidak terdengar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;IV.2 Pembahasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Pemeriksaan fisis jantung dpat dilakukan dengan 4 cara. Cara tersebut yaitu dengan melakukan inspeksi (pemeriksaan dengan melihat), palpasi (pemeriksaan dengan meraba), perkusi (pemeriksaan dengan mengetuk), dan auskultasi (pemeriksaan dengan mendengar bunyi jantung). Pemeriksaan dengan keempat cara ini dilakukan untuk mengetahui letak apeks jantung, batas-batas jantung, dan bunyi yang dihasilkan jantung pada saat beraktivitas pada satu siklus jantung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Inspeksi dilakukan pada orang coba untuk melihat keadaan keseluruhan daerah jantung jika dilihat dari luar seperti pucat atau tidaknya orang coba, pergerakan dada simetris atau tidak, dan memperhatikan posisi dari denyut apeks jantung, Memperhatikan bentuk prekordial apakah normal, mengalami depresi atau ada penonjolan asimetris yang disebabkan pembesaran jantung sejak kecil. Hipertropi dan dilatasi ventrikel kiri dan kanan dapat terjadi akibat kelainan kongenital.. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, tidak terihat kelainan dari pemeriksaan inspeksi ini .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Garis anatomis pada permukaan badan yang penting dalam melakukan pemeriksaan dada adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -34.6pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Garis tengah sternal (mid sternal line/MSL)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -34.6pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Garis tengah klavikula (mid clavicular line/MCL)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -34.6pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Garis anterior aksilar (anterior axillary line/AAL)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -34.6pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="NO-BOK" style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Garis parasternal kiri dan kanan (para sterna line/PSL)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Palpasi dilakukan dengan meraba daerah permukaan kulit daerah jantung untuk merasakan denyut jantung pada daerah jantung dan meraskan gaya dorong dari apeks tersebut. Selain itu, palpasi dilakukan untuk mengetahui adanya hipertropi dan dilatasi ventrikel kiri dan kanan yang dapat terjadi karena kelainan kongenital. Biasanya, jika terdapat dinding dada yang tebal atau emfiisemia pulmonum, impuls jantung hanya dapat teraba jika pasien duduk tegak atau membungkuk ke depan. Akan tetapi pada orang yang mengalami obesitas terkadang sulit untuk melihat dan meraba iktus kordiks. Pada insufisiensi aorta dan mitral, jika ventrikel harus bekerja melawan resistensi yang rendah, impuls apeks tersebut juga kuat, tetap mempunyai amplitude yang lebih besar dan lebih mendadak serta lebih hidup. Dalam percobaan ini, denyut jantung daerah apeks dari orang coba dapat dirasakan dan tidak terdapat keainan seperti hipertropi atau kelainan denyut jantung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Setelah pemeriksaan inspeksi dan palpasi kemudian dilakukan pemeriksaan dengan perkusi yang bertujuan untuk mengetahui letak dan batas-batas dari jantung dengan mendengarkan bunyi yang dihasilkan. Pada keadaan normal jantung mempunyai bunyi pekak relative karena selain jantung merupakan padatan jantung juga mempunyai rongga dan cairan. Sebelum melakukan perkusi, pemeriksa terlebih dahulu menetapkan ICS II dan ICS V.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Setelah 3tiga pemeriksaan diatas, orang coba kemudian diperiksa dengan auskultasi aitu mendengar bunti jantung dengan menggunakan stetoskop. Dengan auskultasi, keadaan fisiologis jantung dapat diketahui utamanya pada bunyi yang dihasilkan. Terdapat 4 bunti jantung dan yang dapat didengar melaui stetoskop adalah bunyi jantung 1 dan bunti jantung 2. Bunyi jantung 3 terdengar lemah atau bahkan tidak terdengar dan secara fisioogis dapat terdengar jelas setelah melakukan aktivitas berat seperti olah raga. Bunyi jantung 4 hanya terdengar pada keadaan patologis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;BAB V&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;PENUTUP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;5.1 Kesimpulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Kesimpulan yang dapat ditarik dari percobaan ini adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 23.1pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Pemeriksaan fisis jantung dapat dilakukan dengan empat cara yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 23.1pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Inspeksi dilakukan memperhtikan posisi denyut dari apeks jantung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 23.1pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Letak apeks jantung dapat ditentukan dengan cara inspeksi dan palpasi, apeks jantung terletak di bagian kiri ICS V. Selain itu, papasi dilakukan untuk merasakan seberapa besar gaya dorong jantung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 23.1pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Batas-batas jantung dapat ditentukan dengan cara perkusi. Batas jantung bagian atas di ICS II, bagian bawah di ICS V, bagian kiri di linea mediaklavikularis sinsitra, dan bagian kanan pada linea parasternalis dextra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 23.1pt; text-align: justify; text-indent: -21.7pt; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Stetoskop digunakan untuk auskultasi yaitu mendengar bunyi jantung. Bunyi yang dapat didengar adalah bunyi jantung I dan II, sedangkan bunyi jantung III tidak dapat terdengar, dan tidak terdengar bunyi jantung IV. Bunyi jantung IV hanya tertedengar dalam keadaan patologis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;5.2 Saran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Sebaiknya bagian praktikum meengkapi alat-alat laboratorium yang akan digunakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;DAFTAR PUSAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Guyton and Hall. 2000. Medical Physiology. W.B.Saunders Company : New&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;York&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Lande, Rante dan J.M. Ch. Pelupessy , ___, Bunyi Jantung, Cermin dunia Kedokteran, www.google.com, diakses pada tanggal 2 November 2008.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Moehadsjah, O. K. dkk. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Jilid I. Jakarta: Balai Penerbit FKUI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Rogers, James. 2000. Cardiovascular Physiology.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;http://www.nda.ox.ac.uk, diakses pada tanggal 2 November 2008.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Bianco, Carl. 2000. How Your Heart Works. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;www.howstuffworks.com, diakses pada tanggal 6 November 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Wikipedia Indinesia. 2008. Jantung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;http://id.wikipedia.org, diakses pada tanggal 2 november 2008.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Medicine and linux. &lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;2008. Pemeriksaan Jantung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;http://medlinux.blogspot.com, diakses pada tanggal 6 november 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ph.D, Klabunde, Richard. 2007. Cardiovascular Physiology Concepts.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;http://www.cvphysiology.com, diakses pada tanggal 6 November 2008.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diposting dari Blog OdheMila&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-7436732117608188638?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/7436732117608188638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/laporan-fisiologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/7436732117608188638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/7436732117608188638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/laporan-fisiologi.html' title='laporan fisiologi pemeriksaan fisik jantung'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-3178679197757682113</id><published>2008-12-17T02:11:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T02:36:30.056-08:00</updated><title type='text'>Seorang pendidik yang efektif</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WHE5pzolTN0/SUjRiP_a_mI/AAAAAAAAAAM/qMQPvgWe6E0/s1600-h/UcHeNKhp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WHE5pzolTN0/SUjRiP_a_mI/AAAAAAAAAAM/qMQPvgWe6E0/s320/UcHeNKhp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280700949430206050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="lucida grande" style="text-align: justify;"&gt;Seorang pendidik yang efektif, tidak hanya efektif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas saja (transfer of knowledge), tetapi lebih-lebih dalam relasi pribadinya dan “modeling”nya (transfer of attitude and values), baik kepada peserta didik maupun kepada seluruh anggota komunitas sekolah. Pendidikan yang humanis menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Relasi ini berkembang dengan pesat dan menghasilkan buah-buah pendidikan jika dilandasi oleh cintakasih antar mereka. Pribadi-pribadi hanya berkembang secara optimal dan relatif tanpa hambatan jika berada dalam suasana yang penuh cinta (unconditional love), hati yang penuh pengertian (understanding heart) serta relasi pribadi yang efektif (personal relationship). Dalam mendidik seseorang kita hendaknya mampu menerima diri sebagaimana adanya dan kemudian mengungkapkannya secara jujur (modeling). Mendidik tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, melatih keterampilan verbal kepada para peserta didik, namun merupakan bantuan agar peserta didik dapat menumbuhkembangkan dirinya secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-3178679197757682113?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/3178679197757682113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/seorang-pendidik-yang-efektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/3178679197757682113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/3178679197757682113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/seorang-pendidik-yang-efektif.html' title='Seorang pendidik yang efektif'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WHE5pzolTN0/SUjRiP_a_mI/AAAAAAAAAAM/qMQPvgWe6E0/s72-c/UcHeNKhp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-3682309583471163875</id><published>2008-12-01T05:21:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T04:56:29.672-08:00</updated><title type='text'>Uchenk mulai buat blog.......</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WHE5pzolTN0/SVYISO92ucI/AAAAAAAAAAs/2F8AUmLMu9M/s1600-h/1_687206016l.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 252px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WHE5pzolTN0/SVYISO92ucI/AAAAAAAAAAs/2F8AUmLMu9M/s320/1_687206016l.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284420322114058690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hari ini Kamis, 1 Januari 2009. sebuah langkah awal untuk memulai sesuatu yang baru yang bisa berarti untuk orang lain.. sebuah blog yang aku persembahkan buat adik adik AKBID &amp;amp; AKPER serta semua teman teman yang masih sibuk dengan aktifitas Pendidikan.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;bagi adik adik dan teman teman yang lagi sibuk yang tdk punya banyak wkt untuk mencari tugas di Net silahkan masukan materi yang di cari, mungkin saya bisa bantu..&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Maaf kalau masih sederhana, maklum pemula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.friendster.com/uchenk01"&gt;Friendster&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-3682309583471163875?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/3682309583471163875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/uchenk-mulai-buat-blog.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/3682309583471163875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/3682309583471163875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/12/uchenk-mulai-buat-blog.html' title='Uchenk mulai buat blog.......'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WHE5pzolTN0/SVYISO92ucI/AAAAAAAAAAs/2F8AUmLMu9M/s72-c/1_687206016l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9012220175160760632.post-8473475446251571314</id><published>2008-11-29T07:01:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T21:42:03.727-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tugas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jumper'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anthrax'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='antraks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akbid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='maros'/><title type='text'>Makalah AKBID - ANTHRAX</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ANTHRAX:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penyakit hewan yang perlu diwaspadai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Badan Litbang Pertanian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penyakit Anthrax atau radang limpa adalah salah satu penyakit zoonosis penting yang saat mi banyak dibicarakan orang di seluruh dunia. Penyakit zoonosis berarti dapat menular dan hewan ke manusia. Penyakit mi hampir setiap tahun selalu muncul di daerah endemis, yang akibatnya dapat membawa kerugian bagi peternak dan masyarakat luas. Hampir semua jenis ternak (sapi, kerbau, kuda, babi, kambing dan domba) dapat diserang anthrax, termasuk juga manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut catatan, anthrax sudah dikenal di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sejak jaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1884 di daerah Teluk Betung. Selama tahun 1899 - 1900 di daerah Karesidenn Jepara tercatat sebanyak 311 ekor sapi terserang anthrax, dan sejumlah itu 207 ekor mati. Pada tahun 1975, penyakit itu ditemukan di enam daerah : Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Kemudian, 1976-1985, anthrax berjangkit di 9 propinsi dan menyebabkan 4.310 ekor ternak mati. Dalam beberapa tahun terakhir mi, hampir setiap tahun ada kejadian anthrax di Kabupaten Bogor yang menelan korban jiwa manusia. Akhir-akhir mi diberitakan media elektronik maupun cetak, 6 orang dan Babakan Madang meninggal dunia gara-gara memakan daging yang berasal dan ternak sakit yang diduga terkena anthrax. Kejadian mi telah mendorong Badan Litbang Pertanian mengambil Iangkah proaktif untuk meneiti kejadian mi agar tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih luas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Antraks dapat dicegah namun kasusnya terus terulang. Dilakukan penelitian di Kecamatan Babakan Madang, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Responden terdiri 25 orang informan kunci dan 30 keluarga peternak. Data digali secara partisipatifmelalui wawancara kelompok, individu, dan pengamatan Iangsung antara bulan MeiDesember 2005. Tujuan penelitian mengemukakan: 1) Karakteristik peternak, 2) Eksistensi usahaternak dan 3) Pengetahuan peternak tentang penyakit antrhaks. Hasil: 1)10% responden yang menyatakan usaha temak merupakan matapencaharian utama, rata-rata peternak berumur 52 tahun. pendidikan 5 tahun, luas lahan 132m2 dan hanya 33% memiliki sarana komunikasi berupa televisi. 2) Jumlah ternak yang dipelihara minimal dua ekor, maksimal 29, rata-rata tujuh ekor dan 54% berstatus penggaduh. Sebanyak 56% tidak memiliki pejantan. jarak kandang dan rumah 0 sampai 10 m. 3) Peternak mengetahui antraks pada stadium lanjut. Seluruh petemak mengetahui antraks sangat berbahaya bagi temak dan manusia, namun 37,5% menjual temak menunjukkan gejala antraks. Seluruh petemak mengakui vaksinasi merupakan cara paling efektifdan penyuluhan merupakan prioritas utama dalam penanggulangan antraks. Implikasi 1) Strategi penanggulangan antraks perlu ditempuh melalui sosialisasi tentang penyakit antraks yang perlu disesuaikan dengan usia peternak, pendidikan dan sarana komunikasi yang dimiliki petemak. Prograni penyuluhan usahaternak perlu dioptimalkan nielalui penyuluhan tentang manajemen, mulai dan pakan, perkandangan, kesehatan dan pemuliabiakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jangkitan antraks adalah disebabkan oleh baktena Bacillus Anthracis iaitu sejenis bakteria yang tidak mudah musniah. Dengan kecenderungan semulajadinya untuk membentuk spora yang amat stabil, ia boleh disimpan hampir selama-lamanya, sama ada dalam bentuk cecair atau serbuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Umumnya antraks hanya menjangkiti haiwari seperti lembu, kuda, kambing, babi dan bin-bin tetapi kadang-kaa boeh menjangkiti manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Baktenia antraks boleh menjangkiti manusia melalui kulit, saluran pernafasan atau memakan makanan yang dicemani bakteria mi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jangkitan melalui kuilt biasanya melibatkan bahagian tanigan, leher atau muka terutamanya jika terdapat luka. Pesakit akan mengalami rasa gatal-gatal selepas 2 hingga 3 jam pendedahan dan ia boleh berlarutan hingga menjadi gelembung-gelembung atau bintik-bintik atas kulit. Jangkitan yang serius boleh menyebabkan pengsan, pendarahan hingga membawa maut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Walaupun jangkitan berpunca danipada memakan makanan yang dicemani bakteria ml jarang benlaku, sekiranya berlaku ia boleh juga membawa maut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jangkitan melalui pernafasan merupakan penngkat yang paling merbahaya. mi kerana spora yang dihidu masuk jauh ke dalam paru-paru. a kemudiannya akan bercambah dan merebak dengan cepat ke seluruh paru-paru sehingga menyebabkan mangsa demam. Kesukaran bemafas dan gejala sepenti dijangkiti influenza. Gejala-gejala ni berlaku agak cepat iaitu antara satu hingga tiga han selepas jangkitan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada manusia, spora anthrax dapat masuk baik Icwat mulut karena makan bahan makanan (daging) yang tercemar ataupun lewat kulit yang terluka atau bekas gigitan serangga. OIeh karena itu, ternak yang terkena penyakit anthrax dilarang keras untuk dipotong dan dikonsumsi. Selain itu, spora juga dapat masuk ke tubuh manusia lewat pernapaSan, yang’ dapat menyebabkan penderita mengalami radang paru-parU. Hal inilah sekarang yang menjacli berita dunia, karena orang yang tidak bertanggung jawab (teroris) menyebarkan spora anthrax melalui &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; atau cara-cara lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penyakit antraks memang layak ditakuti karena sangat mematikan. Bahkan binatang yang terlanjur terserang oleh penyakit ml bisa langsung menemul ajal hanya dalam hitungan jam saja. Namun kemampuan membunuh yang sangat cepat justru dianggap memiliki beberapa sisi balk oleh berbagai pihak. Karena setelah diteliti, ternyata penyakit mi memiliki daya penularan yang sangat lambat dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tidak meluas. Beda dengan flu yang bisa menular ke semua muka bumi dengan sangat cepatnya. Penyakit antraks dimasukkan dalam kelompok penyakit yang dapat menular dan hewan ke manusia (zoonosis). “Paling sering menyerang hewan ternak jenis herbivora,” ucap dr Syahrizal Syarif, MPH., ahli penyakit epidemiologi dan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurutnya setelah hewan seperti kerbau, sapi, kambing tertular, baru kemudian hewan seperti kuda dan babi menjadi sasaran berikutnya. Hewan di kelompok omnivora mi memang Iebih kebal, hingga sebagian dan hewan mi dapat bertahan hidup. Ia juga menambahkan serangan pada ayam hingga saat mi belum pernah ada laporan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun yang cukup mengkhawatmrkan, temyata tingkat penularan dan pemicu kematian penyakit jenis mi pada manusia mencapai angka 18 persen banyaknya. “Ini beranti dan 100 kasus ada 18 orang yang meninggal,” ungkapnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hingga kini para ahli tetap menyatakan penyebab penyakit ml adalah kuman bemama Bacillus anthracis. Ia dapat bersembunyi dalam tanah hingga 70 tahun. Uniknya bila tanah tempat Ia tinggal tergenang air, kuman mi dapat tumbuh kembati dan menyerang hewan yang ada di sekitamya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Karena itu tanah yang tercemar seharusnya menjadi sasaran pemusnahan penyakit mi, selain pembakaran tubuh hewan penyakit seperti yang terjadi akhmr-akhir mi,” tambah Syahrizal Iagi. Repotnya kuman mi dapat terserap oleh akar tumbuh-tumbuhan, bahkani hingga dapat masuk ke dalam daun dan buah, hingga mampu menginfeksi temak maupun manusia yang mengkonsumsinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Antraks adalah penyakit bakierial yang disebabkan oleh Bacillus anthracis Penakit mi umumnya rnenyerang temak domestik, seperti domba. kanibing dan sapi. tetapi manusia juga dapat terinfeksi karena terpapar atau nsengkonsumsi hewan yang terinfek.si. Program pengendalian antraks pada hewan dan manusia meliputi pengembangan metode dianostik untuk deteksi B. anthracis dan uji konfinnasi penyakit antraks, pencegahan penyakit dengan vaksinasi dan investigasi penyakit. Teknologi diagnosis antraks yang cepat dan lebih akurat harus dikembangkan untuk menggantikari metode konvensional yang sekarang masih digunakan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Penggunaan vaksin cukup efektifuntuk pencegahan penyakit antraks. Vaksin antraks yang masih digunakan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; adalah suspensi spora B. anthracis galur Steme 34F2, tidak berkapsul dan toksigenik. Penggunaan vaksin mi terkadang menimbulkan rasa sakit dan nekrosis di tempat suntikan, oedema subkutan dan Lematian hewan. Beberapa vaksin telah dikembangkan, antara lain vaksin subunit, anthrax vaccine absorbed (AVA), yang mengandung komponen antigen protektif (PA) yang merupakan komponen ut’ama toksin antraks yang bersifat imunogenik dan sering digunakan sebagai vaksin pada manusia. Di daerah endemik antraks, secara rutin masih terjadi letupan wabah penyakit ini. Pemantauan perubahan dalam gambaran pola epidemiologi penyakit perlu dilakukan dengan melakukan investigasi lapangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cara Penularan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bacillus anthracis tidak berpindah langsung dan ternak satu ke ternak yang lain, tai biasanya masuk ke dalam tubuh ternak bersama makanan, perkakas kandang atau dan tanah (rumput). Infeksi tanah inilah yang dianggap paling penting dan berbahaya. Spora yang ada di dalam tanah bisa naik ke atas oleh pengolahan tanah dan hinggap di rumput, yang kemudian dimakan ternak bersama sporanya. Demikian juga spora itu bisa masuk ke dalam kulit, apabila hewan itu berada dan tidur di tempat yang tercemar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Spora mi akan tumbuh dan berbiak dalam jaringan tubuh dan menyebar ke seluruh tubuh mengikuti aliran darah. Ternak penderita penyakit anthrax dapat menulari ternak lain, melalui cairan (eksudat) yang keluar dan tubuhnya. Cairan mi kemudian mencemari tanah sekelilingnya dan dapat menjadi sumber untuk munculnya kembali waba1Idi masa berikutnya. Cara penularan lain, bila ternak penderita sampai dipotong/bedah atau kalau sudah mati sempat termakan burung liar pemakan bangkai, sehingga sporanya dapat mencemari tanah sekitarnya, serta menjadi sulit untuk menghilangkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penyebaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hingga kini, para ahli tetap menyatakan penyebab penularan penyakt antraks adalah kuman Bacillus anthracis Di alam, bakteri antraks ni basanya ada dalam kondLsi tidur. dan bersembunyi dalam tanah hingga mampu bertahan sampai 50-70 tahun. Bakteri yang tergolong bersel satu mi bisa terbangun kembali dan tidurnya ketika kondisi lingkungan sangat mendukung untuk menyebarkan penyakit pada hewan dan manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam bahasa lain, spora yang tinggal dalam tanah itu akan hidup kembaliL , bila tanah tempat ia tinggal tergenang air atau datang musim hujan. Kuman mi akan tumbuh kembali dan siap menyerang hewan yang ada di sekitarnya. Hebatnya lagi, kuman ni dapat terserap oleh akar tumbuh-tumbuhan, bahkan hingga dapat masuk ke dalam daun dan buah. Apa yang terjadi selanjutnya, kita bisa menebak bahwa akhirnya a mampu menginfeksi ternak maupun manusia yang mengonsumsinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sumber infeksi lainnya ialah bangkai temak pengindap antraks. Pada kondisi ml, miliaran Bacillus anthracis bisa memadat di darah dan organ-organ dalam ternak. Bahkan keterangan lain meriyebutkan bahwa disinyalir di seluruh bangkai hewan tersebut dianggap mengandung kuman penyakit antraks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam bahasa Syahrizal, dalam satu milimeter darah, setidaknya mengandung satu miliar kuman antraks. Bila kuman itu berinteraksi dengan oksigen, ia dapat segera mengubah din dalam bentuk spora. Bila kondismnya demikian, dipercaya kuman ml memdiki daya tahan tubuh yang lebih kebal dan sebelumnya. Kuman-kuman dalam bentuk spora inilab yang dapat hidup hingga 70 tahun amanya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pintu penularan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pintu masuknya penyakit antraks pada hewan, umumnya bisa melalui saluran pencemaan hewan, kontak kulit dan terhirup masuk melalui saluran pernapasan. Sedangkan pada manusia, selain bisa menular melalul kontak atau mengonsumsi daging hewan ternak yang terkena antraks, penularan antarmanusia bisa terjadi melalui udara yang tercemar spora antraks dan masuk ke paru-paru manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan kata lain, bakteri Bacillus anthracis akan bersifat menghancurkan sel-sel darah, balk pada hewan maupun manusia. Apabila gejala klinis sudah timbul, biasanya dilkuti dengan kematian, balk pada hewan maupun manusia Untuk itu, orang yang mengonsumsi daging hewan terkena antraks akan sangat membahayakan. Apalagi kondisi daging hewan tersebut tidak kita masak teriebih dahulu secara sempurna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selain itu, Bacillus anthracis Juga membentuk spora sebagai bentuk resting cells. Pembentukan spora akan terjadi apabila nutrisi esensial yang diperlukan tidak memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan, prosesnya disebut sporulasi. Spora berbentuk elips atau oval, letaknya sentral dengan diameter tidak lebih dan diameter bakteri itu sendiri. Spora Bacillus anthracis mi tidak terbentuk pada jaringan atau darah binatang yang hidup, spora tersebut tumbuh dengan baik di tanah maupun pada eksudat atau jaringan hewan yang mati karena antraks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di sinilah keistimewaan bakteri mi, apabila keadaan lingkungan sekitar menjadi baik kembali atau nutrisi esensial telah terpenuhi, spora akan berubah kembali menjadi bentuk bakteri. Sporaispora mi dapatterus bertahan hidup selama puluhan tahun dikarenakan sulit dirusak atau mati oleh pemanasan atau bahan kimia tertentu, sehingga bakteri tersebut bersifat dormant, hidup tapi tak berkembang biak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pola penularan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Antraks merupakan penyakit zoonosis yang menyerang herbivora seperti sapi, domba, kuda, dan lain-lain. Meski pada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;umumnya jarang menyerang manusia, tetapi pada faktanya penyakit ni merupakan penyakit yang cukup meresahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada prinsipnya terdapat tiga cara penularan penyakit antraks ke manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pertama, melalui kontak langsung. Spora atau bakteri masuk melalui lesi kulit. Biasanya yang terserang adalah ekstrimitas terutama ekstrimitas bagman atas. Bentuk klinisnya dikenal dengan malignant pustule atau cutaneus anthrax, timbul 12-36 jam setelah kontak dengan bakteri. Mulamula, timbul papula kecilrikecil, mengeluarkan cairan, bagian tengah lesi tampak adanya nekrosis di kelilingi daerah berwarna merah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kedua, melalui saluran pernapasan. Bentuk klinisnya disebut pulmonary anthrax, biasanya ditemukan pada pekerja pekerja pabrik wool dan penyamak kulit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketiga melalui per oral. Bentuk klinisnya terjadi oleh karena menelan makanan (daging) yang terinfeksi bakteri atau spora antraks. Penyakitnya disebut gastrointestinal anthrax. Bentuk ni biasanya berbahaya dan sukar diobati. Gejala yang tampak adalah mual, muntah, diare dan kadang kadang hamatemesis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apakah Antraks itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;•\ntrak, adalah suatu penakit infeksi akutang disehahkan oleh bakteri berbentuk spora, Bacillus anthracis. Penyakit mi biasanya rnn’erang hinatan berdarah panas. tapi bisa wga rneniinfeksi manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bila terhiap oleh manasia. partikel darn spora antrak bisa rnenehabkan kegagalan pernafasan dan kematian dalarn saktu I (satu) minggu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Siapakah sang hisa terkena Antraks?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Antraks paling sering menerang hinatang di daerah-daerah pertanian. seperti Amerika Tengah dan Selatan, Eropa Timur dan Selatan, Asia. Afrika. Karihia dan Tirnur lcngah. Pada manusia biasana teriadi karena terkontaniinasi oleh binatang yang terinfeksi atau produkn a.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagaimana penularan Antraks teriadi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;lnfeksi antraks bisa terjadi dalam 3 tiga) bentuk. \altu kutaneus (kulit), inhalasi (pernafasan) dan saluran pencernaan. Spora Bacillus anthracis bisa hidup dalam tanah selama bei-tahun-tahun dan manusia dapat terinfeksi melalui produk binatang yang Iermfeksi atau dengan menghisap spora antraks dan produk binatang yang sudah terkontaminasi. Antraks bisa juga tersebar melalui daging mcntah dan binatang yang teninfeksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagaimana gejala-gcala dan Antraks?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gejala-gejala dan penakit mi bervariasi tergantung dan cara penularannya. tapi biasanya gejala-gejala tersebut timbul dalam 7 iujuh han.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1. Kutaneus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;lnfeksi antraks timbul bila bakteni masuk melalul luka pada kulit, biasanya bOa sedang mengolah vol, kulit atau bulu (terutama bulu kambing) dan binatang yang terinfeksi. lnfeksi kulit dimulai dengan benjolan yang terasa gatal menyerupai gigitan serangga, tapi dalam 1-2 han berubah nieniadi vesikula dan ulkus dengan diameter 1-3 cm, dengan area nekrotik hitam yang khas ditengahnya. Bisa disertai dengan pemhengkakan kelenjar limfa di daerah yang berdekatan. 20% dan kasus antraks kutaneus yang tidak diobati berakhir dengan kematian. tetapi bila terapi antimikroba dihenikan, kematian jarang terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2. Inhalasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gejala asa1nya menyerupai common cold. Sctelah beberapa han, gejala-gejalanya akan berkembang menjadi gangguan pemafasan yang berat dan syok. Kematian biasanya terjadi 1-2 han setclali onset gejala akut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3. Saluran pencennaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: lucida grande;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Antraks pada saluran pencemaan biasanya timbul setelah mengkonsumsi daging sang terkontamina.si dan ditandai dengan adanya inflamasj akut dan saluran pencemaan. Gejala awat herupa mual, kehilangan setera makan, niuntah dan demam yang dijkuti dengan nyeri abdomen, muntah darah dan diare berat. Kematian tenjadi pada 25-60% kasus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9012220175160760632-8473475446251571314?l=uchenk-korzlet01.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/feeds/8473475446251571314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/11/makalah-akbid-anthrax.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/8473475446251571314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9012220175160760632/posts/default/8473475446251571314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uchenk-korzlet01.blogspot.com/2008/11/makalah-akbid-anthrax.html' title='Makalah AKBID - ANTHRAX'/><author><name>Uchenk-Korzlet01</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10204426096808620486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
